Tahun 2025 menjadi ujian berat bagi industri udang nasional. Dalam forum Shrimp Outlook 2026 di Yogyakarta beberapa waktu lalu, CEO JALA, Liris Maduningtyas, menyampaikan apresiasinya kepada para pelaku usaha yang tetap bertahan di tengah berbagai tekanan.

“Rekan-rekan semuanya, kalian adalah pengusaha yang hebat sekali. Karena di tahun 2025, kita mengalami banyak sekali kendala,” ujarnya di hadapan para petambak dan pelaku industri.

Secara angka, kinerja ekspor udang Indonesia belum menunjukkan lonjakan berarti. Volume ekspor udang Indonesia masih stagnan di kisaran 200 ribu ton atau relatif sama dengan tahun sebelumnya. Sementara itu, estimasi produksi nasional juga masih berada di rentang 300–350 ribu ton. Pertumbuhan ini dinilai signifikan jika dibandingkan dengan potensi pasar yang masih terbuka.

Di tahun 2025, ketergantungan terhadap pasar Amerika Serikat menunjukkan kerapuhannya setelah adanya kebijakan tarif resiprokal Donald Trump dan isu radioaktif yang memicu Import Alert 99-52. Dua isu tersebut (dan isu tarif AD-CVD sebelumnya) telah membuat industri udang nasional kewalahan. Dampaknya ekspor ke AS alami penurunan tajam pada bulan Oktober dan November 2025.

Meski begitu, di tengah tekanan tersebut, peluang baru juga terbuka. Menurut data yang ia sampaikan, ekspor udang Indonesia ke China tumbuh 27 persen, sementara pasar Eropa meningkat 41 persen. Meski secara volume dan nilai masih jauh dari pasar AS, tren ini memberi sinyal bahwa diversifikasi pasar selain AS cukup potensial dan sesuai dengan kebutuhan industri.

Banner Iklan SBI

Isu pasar kalahkan penyakit

Jika pada periode 2022–2024 harga udang cenderung bergerak dalam siklus yang lebih mudah diprediksi, tahun 2025 justru diwarnai volatilitas yang tajam. Isu antibiotik dan radioaktif menekan harga udang Indonesia hingga sempat menjadi salah satu yang terendah dibanding negara pesaing.

Menurut Liris, situasi ini telah mengubah fokus para petambak. Jika sebelumnya penyakit menjadi momok utama di tambak, kini persoalan pasar dan harga justru lebih mengkhawatirkan.

“Kita bisa lawan penyakit, tapi kita tidak bisa lawan kalau udang kita tidak ada yang beli,” katanya.

Padahal, dari sisi teknis budidaya, performa tambak relatif terjaga. Berdasarkan hampir 5.000 data siklus budidaya dan wawancara dengan sekitar 100 petambak, tambak dengan kepadatan tebar menengah menunjukkan hasil paling optimal. Sebaliknya, kepadatan tinggi cenderung stagnan. Ini menunjukkan bahwa tantangan utama 2025 bukan semata persoalan teknis, melainkan tekanan eksternal yang mempengaruhi daya serap pasar.

Secara regional, Sumatera mengalami penurunan produktivitas akibat penyakit dan faktor eksternal lain. Jawa relatif stabil, sementara wilayah timur sempat mencatat performa baik sebelum melemah pada paruh kedua tahun 2025.

Menatap positif 2026

Di saat Indonesia bergerak lambat, sejumlah negara pesaing melaju cepat. Ekuador, misalnya, mencatat ekspor hampir 1,4 juta ton pada 2025 dan menargetkan 1,7 juta ton pada 2026. Sementara India dan Vietnam juga terus memperkuat posisinya di pasar global. Kondisi ini menjadi refleksi penting bagi industri udang nasional di mana bergantung aspek produksi saja tidak cukup, namun perlu akselerasi dan strategi pasar yang lebih tajam agar tidak semakin tertinggal. 

CEO JALA, Liris Maduningtyas. ©JALA

CEO JALA, Liris Maduningtyas. ©JALA

Menutup paparannya, Liris menegaskan bahwa 2026 harus menjadi momentum pembalikan arah. “2026 adalah turning point kita.”

Menurutnya, penguatan branding sebagai produsen clean shrimp, bebas antibiotik dan bebas cemaran radioaktif, perlu menjadi prioritas setelah kedua kasus ini cukup memberikan sentimen negatif di pasar global. Karenanya, kualitas udang perlu dijaga, baik untuk pasar ekspor maupun domestik.  

Di saat yang sama, kolaborasi lintas rantai nilai, dari petambak hingga pembuat kebijakan, menjadi kunci untuk mengembalikan daya saing udang Indonesia.