Hatch Blue, perusahaan Venture Capital (VC) global yang berfokus pada sektor akuakultur, baru-baru ini melakukan kunjungan lapangan ke Indonesia untuk mendapatkan wawasan langsung mengenai potensi dan tantangan industri budidaya udang nasional. Dalam rangkaian kunjungannya tersebut, tim Hatch Blue melihat berbagai fasilitas produksi milik Sakti Biru Indonesia (SBI) dan Biocycle, dua entitas di bawah naungan PT Kedaulatan Pangan Pertiwi (KPP) yang memiliki fokus usaha pada penguatan produksi pangan.

Menavigasi potensi dan tantangan industri udang

Kunjungan yang mencakup wilayah Lombok dan Lampung (dua lokasi produksi SBI) ini memberikan gambaran bagi Hatch Blue tentang bagaimana industri akuakultur Indonesia beroperasi di tengah iklim yang mendukung, namun penuh risiko operasional. 

Dalam keterangan tertulisnya, Hatch Blue mencatat bahwa meskipun Indonesia memiliki pengalaman panjang dan budaya budidaya yang kuat, para petambak masih menghadapi tekanan biologis yang signifikan, seperti penyakit White Feces Disease (WFD), EHP, dan AHPND. Hal ini memberikan dampak yang serius bagi kelangsungan usaha jika tidak dikelola dengan baik.

Selain itu, pengelolaan kualitas air juga menjadi tantangan tersendiri, terutama di kawasan dengan kepadatan tambak yang tinggi. Banyak lokasi budidaya menggunakan sumber air yang sama, sehingga menjaga stabilitas kualitas lingkungan tambak membutuhkan manajemen yang lebih disiplin dan terstruktur.

Selain aspek lingkungan, dinamika pasar global seperti kebijakan tarif Amerika Serikat dan isu kontaminasi radioaktif pada ekspor tertentu turut memengaruhi sektor ini. Kondisi ini menekankan pentingnya keterkaitan antara praktik produksi di lapangan dengan ekspektasi pasar internasional.

Banner Iklan SBI

Integrasi manajemen produksi ala SBI

Dalam kunjungan tersebut, tim Hatch Blue berkesempatan meninjau langsung operasional tambak yang dikelola oleh Sakti Biru Indonesia. Di berbagai lokasi tambak yang mereka kelola, terlihat upaya untuk mengembangkan model produksi yang semakin mengarah pada penerapan best practices dalam budidaya udang.

Tim Hatch Blue saat ikut cek anco di salah satu tambak SBI. ©Hatch Blue

Tim Hatch Blue saat ikut cek anco di salah satu tambak SBI. ©Hatch Blue

Salah satu pilar penting dalam pendekatan ini adalah penguatan aspek kesehatan udang. SBI menempatkan biosekuriti dan pemantauan penyakit sebagai bagian penting dalam sistem produksi. Pada beberapa lokasi tambak, pengujian penyakit berbasis PCR dilakukan secara rutin untuk memahami tekanan patogen yang ada di lingkungan budidaya.

Teknologi digital PCR (dPCR) yang dikembangkan oleh Biomed Agritech juga mulai dimanfaatkan untuk membantu proses monitoring kesehatan udang. Pendekatan ini memungkinkan pengambilan keputusan manajemen yang lebih berbasis data.

Selain itu, SBI juga mengembangkan berbagai inisiatif riset dan pengembangan melalui Sakti Academy. Program ini berfokus pada penguatan pemahaman teknisi dan petambak terhadap prinsip-prinsip kesehatan udang serta penerapan standar operasional yang lebih baik di lapangan.

Beberapa konsep teknologi, seperti pengembangan sensor untuk memantau kondisi sistem budidaya, saat ini masih berada pada tahap penelitian dan pengembangan. Meski belum diterapkan secara luas di tingkat komersial, upaya ini diharapkan dapat membantu meningkatkan pemahaman tentang dinamika tambak dan mengidentifikasi peluang perbaikan ke depan.

Di sisi lain, kegiatan operasional tambak juga memberikan dampak sosial bagi masyarakat sekitar. Tambak-tambak yang dikelola SBI membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal serta menyediakan peluang pelatihan praktis di sektor budidaya. SBI juga mengembangkan model kemitraan dengan petambak skala kecil untuk berbagi pengetahuan, meningkatkan manajemen tambak, serta mengurangi risiko produksi.

Inovasi pakan berkelanjutan melalui Biocycle

Hatch Blue juga menggaris bawahi aspek keberlanjutan saat mengunjungi fasilitas Biocycle. Perusahaan ini berhasil memproduksi larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot dalam skala industri dengan memanfaatkan limbah organik lokal. Inovasi ini menghasilkan bahan baku alternatif sumber protein untuk pakan akuakultur yang berkelanjutan.

Kunjungan Hatch Blue ke fasilitas produksi maggot Biocycle

Kunjungan Hatch Blue ke fasilitas produksi maggot Biocycle

Berdasarkan uji coba di lapangan, penggunaan tepung maggot (insect meal) pada pakan udang menunjukkan hasil positif, terutama dalam meningkatkan performa dan daya tahan udang selama masa kritis awal-awal budidaya. Selain itu, produk sampingan berupa frass (kotoran serangga) digunakan kembali sebagai pupuk bagi petani lokal sehingga menciptakan ekosistem ekonomi sirkular.

Kunjungan tim Hatch Blue ke fasilitas produksi maggot Biocycle

Kunjungan tim Hatch Blue ke fasilitas produksi maggot Biocycle

Membangun masa depan akuakultur

Secara keseluruhan, Hatch Blue mencatat bahwa kunjungan ini memberikan gambaran yang optimis mengenai perkembangan akuakultur di Indonesia. Kombinasi antara peningkatan standar budidaya, integrasi teknologi, dukungan komunitas yang dijalankan SBI, serta solusi pakan inovatif dari Biocycle menunjukkan bagaimana inisiatif lokal dapat meningkatkan standar industri sekaligus mendukung ketahanan pangan jangka panjang.

***