Prof. La Ode M. Aslan Guru Besar Akuakultur, Universitas Halu Oleo, Kendari

Prof. La Ode M. Aslan Guru Besar Akuakultur, Universitas Halu Oleo, Kendari

Indonesia merupakan negara dengan program mandatori biodiesel berbasis minyak sawit terbesar di dunia. Sejak diperkenalkan melalui mandat B2,5 pada tahun 2008, program ini berkembang bertahap menjadi B5, B10, B15, B20, B30, B35, B40, dan kini diarahkan menuju B50 sebagai bagian dari strategi nasional untuk meningkatkan ketahanan energi, mengurangi impor bahan bakar fosil, meningkatkan nilai tambah industri sawit, serta mendukung penurunan emisi gas rumah kaca.

Keberhasilan implementasi B30 pada tahun 2020 menjadikan Indonesia sebagai negara pertama yang menerapkan campuran biodiesel 30% secara nasional, yang kemudian menjadi dasar penerapan B35 pada 2023 dan B40 pada 2025. Pemerintah mengalokasikan sekitar 15,6 juta kiloliter biodiesel pada tahun 2025, dengan manfaat berupa penghematan devisa sekitar Rp147,5 triliun, penyerapan lebih dari 1,9 juta tenaga kerja, dan penurunan emisi sekitar 41,5 juta ton CO₂e per tahun.

Dari sisi ekonomi, program biodiesel memperkuat pasar domestik minyak sawit, mengurangi impor solar, dan meningkatkan investasi serta pendapatan petani melalui peningkatan permintaan Crude Palm Oil (CPO). Namun, peningkatan target menuju B50 juga menghadirkan tantangan berupa meningkatnya kebutuhan CPO yang berpotensi memicu kompetisi antara sektor pangan, oleokimia, ekspor, dan energi (food–feed–fuel competition), serta risiko perubahan penggunaan lahan, deforestasi, dan Indirect Land Use Change (ILUC). Meskipun pemerintah telah menerapkan berbagai kebijakan keberlanjutan, seperti Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan program peremajaan sawit rakyat, diversifikasi sumber biomassa menjadi semakin penting.

Dalam konteks tersebut, rumput laut muncul sebagai feedstock komplementer yang menjanjikan karena tidak memerlukan lahan pertanian maupun air tawar dan memiliki potensi biomassa yang sangat besar. Melalui teknologi konversi termokimia seperti hydrothermal liquefaction (HTL), pirolisis, dan gasifikasi, rumput laut dapat menghasilkan renewable diesel untuk melengkapi biodiesel berbasis sawit. Pendekatan multi-feedstock ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi nasional, mengurangi ketergantungan pada CPO, serta mendukung pengembangan sistem bioenergi yang berkelanjutan sesuai prinsip circular bioeconomy dan blue economy.

Potensi minyak sawit sebagai feedstock biodiesel

Melalui hilirisasi industri biodiesel, minyak sawit diolah menjadi produk energi bernilai tambah yang mendukung pengembangan industri domestik, menciptakan lapangan kerja, serta mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar. Implementasi program ini juga menghasilkan penghematan devisa dalam jumlah yang signifikan setiap tahunnya (Kementerian ESDM, 2025). Dari perspektif lingkungan, biodiesel sawit berpotensi memberikan manfaat melalui pengurangan emisi gas rumah kaca apabila diproduksi menggunakan praktik perkebunan yang berkelanjutan.

Banner Iklan SBI

Berbagai studi Life Cycle Assessment (LCA) menunjukkan bahwa biodiesel sawit dapat menurunkan emisi gas rumah kaca sekitar 40–70% dibandingkan diesel fosil apabila bahan bakunya berasal dari perkebunan yang tidak menyebabkan konversi hutan primer maupun lahan gambut dan diproduksi menggunakan praktik berkelanjutan. Pengurangan emisi dapat meningkat lebih lanjut melalui pemanfaatan Palm Oil Mill Effluent (POME) untuk produksi biogas, sehingga emisi metana dari proses pengolahan kelapa sawit dapat ditekan secara signifikan (Yee et al., 2009; van Zutphen & Wijbrans, 2011; Yung et al., 2021). 

Pengembangan biodiesel berbasis minyak sawit menghadapi sejumlah tantangan keberlanjutan, terutama meningkatnya kompetisi antara kebutuhan minyak sawit untuk pangan, oleokimia, dan energi (food-versus-fuel competition). Implementasi program B40 dan B50 diperkirakan akan meningkatkan konsumsi domestik Crude Palm Oil (CPO), yang berpotensi memengaruhi harga minyak goreng, volume ekspor, dan stabilitas pasar minyak nabati global apabila tidak diimbangi dengan peningkatan produktivitas perkebunan serta efisiensi rantai pasok (OECD & FAO, 2024).

Di sisi lain, ekspansi perkebunan kelapa sawit pada masa lalu telah dikaitkan dengan deforestasi, degradasi lahan gambut, hilangnya keanekaragaman hayati, serta peningkatan emisi gas rumah kaca akibat perubahan penggunaan lahan (land-use change) dan perubahan penggunaan lahan tidak langsung (indirect land-use change, ILUC), yang dapat mengurangi bahkan meniadakan manfaat mitigasi emisi dari biofuel apabila konversi lahan tidak dikelola secara berkelanjutan (Searchinger et al., 2008; Abdul-Manan & Malins, 2017).

Oleh karena itu, manfaat mitigasi iklim dari biodiesel sawit sangat bergantung pada penerapan praktik budidaya yang berkelanjutan, peningkatan produktivitas pada lahan eksisting, serta pencegahan konversi hutan primer dan ekosistem bernilai konservasi tinggi (Carlson et al., 2018).

Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah telah menerapkan berbagai kebijakan, seperti Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), moratorium pembukaan hutan primer dan lahan gambut, serta penguatan sistem traceability guna meningkatkan produktivitas tanpa perlu memperluas areal tanam (FAO, 2024). Selain menghasilkan CPO, industri kelapa sawit juga menyediakan biomassa residu, seperti tandan kosong, serat mesokarp, cangkang, pelepah, batang, dan Palm Oil Mill Effluent (POME) yang dapat dimanfaatkan untuk produksi biogas, biochar, bio-oil, bioetanol, maupun Sustainable Aviation Fuel (SAF), sehingga mendukung konsep biorefinery dan circular bioeconomy (Shuit et al., 2009; Liew et al., 2022; Lehmann & Joseph, 2024).

Ke depan, implementasi B50 memerlukan strategi multi-feedstock untuk mengurangi ketergantungan pada minyak sawit. Dalam konteks ini, rumput laut berpotensi menjadi feedstock komplementer karena tidak memerlukan lahan pertanian maupun air tawar, memiliki produktivitas biomassa tinggi, serta dapat dikonversi menjadi renewable diesel. Integrasi minyak sawit dan rumput laut akan memperkuat ketahanan energi, mengurangi risiko pasokan bahan baku, dan mendukung pengembangan sistem bioenergi berkelanjutan berbasis circular blue bioeconomy.

Rumput laut dapat dibudidayakan secara massal dan berkelanjutan karena tidak memerlukan lahan darat dan air tawar dalam jumlah besar.

Rumput laut dapat dibudidayakan secara massal dan berkelanjutan karena tidak memerlukan lahan darat dan air tawar dalam jumlah besar.

Potensi rumput laut sebagai feedstock biofuel generasi ketiga 

Indonesia memiliki posisi strategis dalam pengembangan biofuel berbasis rumput laut karena merupakan salah satu produsen rumput laut terbesar di dunia. Dengan garis pantai lebih dari 108.000 km dan wilayah laut sekitar 6,4 juta km², Indonesia memiliki 1.006 jenis rumput laut (Aslan, 2026a).  Kekayaan spesies dan kondisi yang sangat sesuai ini sangat mendukung  untuk budidaya berbagai spesies seperti Kappaphycus alvarezii, Eucheuma denticulatum, Gracilaria spp., serta makroalga alami seperti Sargassum, Ulva, Padina, Turbinaria, dan Caulerpa (FAO, 2024; Basyuni et al., 2024; Aslan, 2026b).

Di sisi lain, produktivitas rumput laut global jauh lebih tinggi dan besarnya potensi biomassa dari komoditas ini karena luas habitat makroalga/rumput laut dunia diperkirakan sekitar 6,06 juta km² (kisaran mencapai  1,85–6,17 juta km²), menjadikannya salah satu ekosistem vegetasi pesisir terbesar di dunia (Duarte et al., 2022).

Dari sisi komposisi kimia, rumput laut hampir tidak mengandung lignin sehingga lebih mudah dikonversi menjadi bioenergi melalui jalur biokimia maupun termokimia. Biomassa rumput laut kaya akan polisakarida seperti karagenan, agar, alginat, dan ulvan, serta mengandung protein, mineral, dan sejumlah kecil lipid (Milledge et al., 2014). Meskipun kandungan lipidnya relatif rendah, seluruh fraksi biomassa dapat dimanfaatkan melalui teknologi termokimia untuk menghasilkan bahan bakar cair.

Berbagai teknologi telah dikembangkan untuk mengonversi rumput laut menjadi bioenergi, meliputi produksi bioetanol, biogas, dan biohidrogen melalui jalur biokimia, serta hydrothermal liquefaction (HTL), pirolisis katalitik, dan gasifikasi melalui jalur termokimia. Di antara teknologi tersebut, HTL dinilai paling menjanjikan karena mampu mengolah biomassa basah tanpa proses pengeringan.

Kandungan air rumput laut yang umumnya mencapai 80–90% menjadi keunggulan bagi proses hydrothermal liquefaction (HTL) karena biomassa dapat dikonversi secara langsung tanpa tahap pengeringan yang intensif, sehingga kebutuhan energi lebih rendah dibandingkan teknologi termokimia konvensional seperti pirolisis dan pembakaran langsung (Elliott et al., 2015; Barreiro et al., 2015). Produk utama berupa biocrude selanjutnya dapat di-upgrade melalui proses hydrotreating menjadi renewable diesel, dan pada konfigurasi kilang tertentu juga dapat diproses lebih lanjut menjadi sustainable aviation fuel (SAF) (Castello et al., 2020).

Selain menghasilkan energi terbarukan, budidaya rumput laut memberikan manfaat lingkungan yang signifikan. Rumput laut menyerap karbon dioksida melalui fotosintesis, berkontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan dan penyimpanan karbon (blue carbon sequestration), serta berfungsi sebagai penyerap nitrogen dan fosfor yang membantu memperbaiki kualitas perairan pesisir. Selain itu, budidaya rumput laut berpotensi mendukung strategi penghilangan karbon (carbon dioxide removal) dan penyediaan berbagai jasa ekosistem apabila dikelola secara berkelanjutan (Troell et al., 2009; Chopin, 2013; Ross et al., 2023; Pessarrodona et al., 2024).

Namun, pemanfaatan rumput laut sebagai feedstock biofuel masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti tingginya kandungan abu, garam, dan nitrogen yang dapat menurunkan kualitas bio-oil serta meningkatkan kebutuhan proses pre-treatment dan hydrotreatment. Selain itu, biaya logistik, variasi produksi musiman, kadar air yang tinggi, serta skala industri yang masih terbatas menjadi hambatan utama menuju komersialisasi teknologi biofuel berbasis rumput laut (Milledge et al., 2014; Barreiro et al., 2015; Elliott et al., 2015).

Baca juga:
1. Menggagas Global Seaweed Certification Framework: Reformasi tata kelola perdagangan rumput laut dunia
2. Coast 4C secures US$2.5 million seed funding to expand smallholder seaweed farming in SEA
3. Indonesian seaweed: From shore to shelf

Oleh karena itu, pendekatan integrated marine biorefinery menjadi strategi yang lebih menjanjikan, di mana biomassa rumput laut dimanfaatkan secara bertingkat (cascading utilization) untuk menghasilkan renewable diesel sekaligus berbagai produk bernilai tinggi, seperti karagenan, alginat, pigmen alami, pupuk hayati, pakan, biochar, dan berbagai senyawa bioaktif. Pendekatan ini meningkatkan efisiensi pemanfaatan biomassa, meminimalkan limbah melalui pemanfaatan seluruh fraksi biomassa, serta meningkatkan kelayakan ekonomi dan keberlanjutan industri bioenergi berbasis rumput laut dalam kerangka circular bioeconomy (Kumar et al., 2020; Sharma et al., 2021).

Dalam implementasi B50, rumput laut tidak dimaksudkan menggantikan minyak sawit, melainkan sebagai feedstock komplementer untuk produksi renewable diesel. Integrasi minyak sawit dan rumput laut melalui pendekatan multi-feedstock akan memperluas sumber karbon terbarukan, mengurangi tekanan terhadap kebutuhan CPO, serta mendukung pengembangan sistem bioenergi yang selaras dengan prinsip circular bioeconomy, blue economy, dan target Net Zero Emission 2060.

Teknologi konversi rumput laut menjadi renewable diesel 

Konversi biomassa rumput laut menjadi renewable diesel merupakan salah satu inovasi utama dalam pengembangan biofuel generasi ketiga. Berbeda dengan biodiesel konvensional berbasis Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang hanya memanfaatkan fraksi minyak nabati melalui proses transesterifikasi, renewable diesel diproduksi melalui proses termokimia yang mampu mengonversi hampir seluruh komponen biomassa, termasuk karbohidrat, protein, dan sebagian lipid, menjadi hidrokarbon cair (drop-in fuel) yang memiliki sifat fisik dan kimia serupa dengan diesel fosil.

Pendekatan ini memungkinkan pemanfaatan biomassa secara lebih efisien dibandingkan produksi biodiesel konvensional serta mendukung diversifikasi sumber energi terbarukan (Elliott et al., 2015; Barreiro et al., 2015; Jones et al., 2014). Teknologi konversi yang paling banyak dikembangkan meliputi Hydrothermal Liquefaction (HTL), pirolisis, dan gasifikasi, yang dapat diintegrasikan dalam konsep marine biorefinery dan circular bioeconomy untuk menghasilkan bioenergi sekaligus berbagai produk bernilai tambah (Kumar et al., 2020; Sharma et al., 2021).

Di antara berbagai teknologi tersebut, Hydrothermal Liquefaction (HTL) dipandang sebagai jalur konversi yang paling prospektif untuk biomassa rumput laut karena mampu mengolah biomassa berkadar air tinggi (80–90%) tanpa memerlukan proses pengeringan terlebih dahulu. HTL berlangsung pada kondisi air subkritis, umumnya pada suhu 280–370°C dan tekanan 10–25 MPa, sehingga menghasilkan efisiensi energi yang lebih tinggi dibandingkan pirolisis maupun pembakaran langsung.

Selama proses HTL, biomassa dikonversi menjadi empat fraksi utama, yaitu biocrude, fase air (aqueous phase), gas (didominasi CO₂), serta residu padat berupa biochar atau hydrochar. Fraksi biocrude selanjutnya ditingkatkan kualitasnya melalui proses hydrotreating atau hydrodeoxygenation (HDO) untuk menghilangkan oksigen, nitrogen, dan sulfur sehingga dihasilkan renewable diesel dengan angka setana tinggi, kandungan sulfur yang sangat rendah, dan kompatibel dengan infrastruktur maupun mesin diesel konvensional (Barreiro et al., 2015; Elliott et al., 2015; Jones et al., 2014).

Rendemen biocrude dari proses HTL umumnya berkisar antara 20–45% berdasarkan berat kering biomassa, bergantung pada spesies rumput laut, suhu reaksi, waktu tinggal, tekanan, serta jenis katalis yang digunakan (Barreiro et al., 2015). Penggunaan katalis berbasis Ni, NiMo, CoMo, maupun zeolit telah terbukti meningkatkan efisiensi deoksigenasi, menurunkan kandungan heteroatom, serta memperbaiki kualitas renewable diesel yang dihasilkan (Castello & Fiori, 2022).

Meskipun teknologi HTL masih menghadapi tantangan berupa kebutuhan reaktor bertekanan tinggi, investasi awal yang relatif besar, serta konsumsi hidrogen pada tahap upgrading, berbagai studi techno-economic assessment menunjukkan bahwa HTL merupakan salah satu jalur konversi biomassa rumput laut yang paling menjanjikan. Kelayakan ekonominya dapat ditingkatkan melalui penerapan sistem integrated marine biorefinery yang memanfaatkan seluruh fraksi hasil proses, termasuk biochar, nutrien pada fase air, dan gas hasil reaksi, sehingga meningkatkan efisiensi sumber daya, nilai tambah produk, dan keberlanjutan industri bioenergi berbasis rumput laut (Jones et al., 2014; Kumar et al., 2020; Sharma et al., 2021).

Prospek integrasi dengan industri biodiesel Indonesia

Dalam konteks implementasi B50 Indonesia, teknologi konversi termokimia rumput laut tidak dimaksudkan menggantikan proses produksi biodiesel berbasis FAME dari minyak sawit. Sebaliknya, teknologi ini menyediakan jalur produksi renewable diesel yang secara kimia berbeda tetapi kompatibel dengan infrastruktur distribusi bahan bakar yang ada. Renewable diesel memiliki keunggulan berupa kandungan oksigen yang sangat rendah, angka setana tinggi, stabilitas penyimpanan yang lebih baik, dan kompatibilitas penuh dengan mesin diesel (drop-in fuel), sehingga dapat digunakan sendiri maupun dicampurkan dengan solar dan biodiesel FAME tanpa modifikasi mesin.

Integrasi industri sawit dan rumput laut membuka peluang pengembangan multi-feedstock biofuel system, di mana minyak sawit tetap menjadi sumber utama FAME melalui transesterifikasi, sedangkan rumput laut dimanfaatkan untuk menghasilkan renewable diesel melalui HTL, pirolisis katalitik, atau gasifikasi–Fischer–Tropsch. Pendekatan ini mengurangi ketergantungan pada satu jenis biomassa, memperluas basis karbon terbarukan nasional, dan meningkatkan ketahanan energi jangka panjang.

Lebih jauh lagi, residu padat seperti biochar atau hydrochar dapat dikembalikan ke lahan perkebunan sawit sebagai pembenah tanah dan media sekuestrasi karbon, sehingga membentuk sistem circular blue bioeconomy yang mengintegrasikan sumber daya darat dan laut.

IndonIntegrasi sawit–rumput laut untuk & circular blue bioeconomy

Pengembangan mandatori biodiesel Indonesia menuju B50 memerlukan pendekatan yang tidak hanya meningkatkan produksi biodiesel berbasis minyak sawit, tetapi juga menjamin keberlanjutan pasokan biomassa, mengurangi tekanan terhadap penggunaan lahan, dan mendukung target penurunan emisi gas rumah kaca.

Artikel ini menawarkan konsep baru Integrated Palm Oil–Seaweed Renewable Diesel System (IPSRDS) sebagai model bioenergi yang mengintegrasikan biomassa darat dan laut dalam kerangka circular blue bioeconomy. Berbeda dengan sistem konvensional yang hanya mengandalkan minyak sawit sebagai feedstock biodiesel, IPSRDS menerapkan pendekatan multi-feedstock, dengan minyak sawit sebagai bahan baku utama biodiesel FAME dan rumput laut sebagai feedstock komplementer yang dikonversi menjadi renewable diesel melalui hydrothermal liquefaction (HTL), pirolisis katalitik, atau gasifikasi–Fischer–Tropsch.

Model ini terdiri atas dua subsistem terintegrasi yang menghasilkan biofuel melalui proses pencampuran (fuel blending), sehingga meningkatkan ketahanan pasokan energi terbarukan sekaligus mengurangi kompetisi pangan–energi. Konsep IPSRDS juga menerapkan prinsip circular blue bioeconomy melalui pemanfaatan biochar sebagai pembenah tanah di perkebunan sawit dan pemanfaatan fase cair HTL sebagai pupuk setelah pengolahan lebih lanjut.

Pendekatan closed-loop biomass utilization ini meminimalkan limbah, meningkatkan efisiensi sumber daya, memperkuat sinergi antara green economy dan blue economy, serta mendukung implementasi B50 dan pencapaian target Net Zero Emission 2060.Implikasi bagi Kebijakan energi Nasional

Konsep IPSRDS memberikan implikasi strategis bagi kebijakan energi Indonesia. Pertama, pengembangan rumput laut sebagai feedstock renewable diesel dapat dimasukkan dalam revisi Roadmap Biofuel Nasional sebagai sumber biomassa pelengkap bagi minyak sawit. Kedua, pembangunan biorefinery pesisir perlu diprioritaskan di wilayah sentra produksi rumput laut, seperti Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua, untuk mendekatkan lokasi produksi biomassa dengan fasilitas konversi. Ketiga, diperlukan harmonisasi kebijakan antara sektor energi, kelautan, perkebunan, dan industri agar pengembangan biofuel tidak berjalan secara sektoral, melainkan sebagai bagian dari strategi ekonomi sirkular nasional.

Referensi 

  • Abdul-Manan, A. F. N., & Malins, C. (2017). Lifecycle GHG emissions of palm biodiesel: Unintended market effects negate direct benefits of the Malaysian Economic Transformation Plan (ETP). Energy Policy, 104, 56–65. https://doi.org/10.1016/j.enpol.2017.01.041
  • Aslan, L. O M. (2026a) Total jenis Rumput laut (Makroalga) Indonesia. Rekapitulasi data Algabase dan Temuan Peneliti Indonesia. UHO Presss (in preparation)
  • Aslan, L.O.M. (2026) Biochar Rumput Laut: Inovasi Biomassa Laut untuk Pertanian Berkelanjutan. Hijauku, 28 May. Available at: https://hijauku.com/2026/05/28/biochar-rumput-laut-inovasi-biomassa-laut-untuk-pertanian-berkelanjutan/ (Accessed: 8 July 2026).
  • Barreiro, D. L., et al. (2015). Hydrothermal liquefaction of macroalgae for the production of biofuels and chemicals: A review. Journal of Analytical and Applied Pyrolysis, 111, 53–65. https://doi.org/10.1016/j.jaap.2014.11.023
  • Barreiro, D. L., et al. (2015). Hydrothermal liquefaction (HTL) of microalgae for biofuel production: State of the art review and future prospects. Renewable and Sustainable Energy Reviews, 53, 1135–1147. https://doi.org/10.1016/j.rser.2015.09.032
  • Carlson, K. M., et al. (2018). Effect of oil palm sustainability certification on deforestation and fire in Indonesia. Proceedings of the National Academy of Sciences, 115(1), 121–126. https://doi.org/10.1073/pnas.1704728114
  • Castello, D., et al.  (2020). Continuous hydrothermal liquefaction of biomass: A critical review. Energy & Fuels, 34(10), 11997–12022. https://doi.org/10.1021/acs.energyfuels.0c02182
  • Chopin, T. (2013). Integrated Multi-Trophic Aquaculture—Ancient, Adaptable Concept Focuses on Ecological Integration. Global Aquaculture Advocate.
  • Elliott, D. C. et al. (2015). Hydrothermal liquefaction of biomass: Developments from batch to continuous process. Bioresource Technology, 178, 147–156. https://doi.org/10.1016/j.biortech.2014.09.132
  • Jones, S. B et al. (2014). Process Design and Economics for the Conversion of Algal Biomass to Hydrocarbons: Whole Algae Hydrothermal Liquefaction and Upgrading. Pacific Northwest National Laboratory (PNNL-23227). https://doi.org/10.2172/1126336
  • Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia. (2025). Siaran Pers Nomor 001.Pers/04/SJI/2025: Wujudkan Ketahanan Energi dan Kurangi Impor, Menteri ESDM: Mandatori B40 Berlaku 1 Januari 2025.
  • Kumar, M., et al. (2020). A holistic zero waste biorefinery approach for macroalgal biomass utilization: A review. Science of the Total Environment, 716, 137067. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2020.137067
  • Lehmann, J., & Joseph, S. (Eds.). (2024). Biochar for Environmental Management: Science, Technology and Implementation (3rd ed.). Routledge.
  • Milledge, J. J., et al. (2014). Macroalgae-derived biofuel: A review of methods of energy extraction from seaweed biomass. Energies, 7(11), 7194–7222. https://doi.org/10.3390/en7117194
  • OECD & FAO. (2024). OECD–FAO Agricultural Outlook 2024–2033. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/agr_outlook-2024-en
  • Pessarrodona, A., et al. (2024). Carbon removal and climate change mitigation by seaweed farming: A state of knowledge review. Science of the Total Environment, 918, 170525. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2024.170525
  • Ross, F. et al. (2023). Potential role of seaweeds in climate change mitigation. Science of the Total Environment, 885, 163699. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2023.163699
  • Searchinger, T., et al.  (2008). Use of U.S. croplands for biofuels increases greenhouse gases through emissions from land-use change. Science, 319(5867), 1238–1240. https://doi.org/10.1126/science.1151861
  • Sharma, S., Horn, S. J., & Parts, S. (2021). Macroalgal biorefinery concepts for the circular bioeconomy: A review on biotechnological developments and future perspectives. Renewable and Sustainable Energy Reviews, 151, 111553. https://doi.org/10.1016/j.rser.2021.111553
  • Shuit, S. H., et al. (2009). Oil palm biomass as a sustainable energy source: A Malaysian case study. Energy, 34(9), 1225–1235. https://doi.org/10.1016/j.energy.2009.05.008
  • Su, G., et al. (2022). Pyrolysis of oil palm wastes for bioenergy in Malaysia: A review. Renewable and Sustainable Energy Reviews, 164, 112554. https://doi.org/10.1016/j.rser.2022.112554
  • Troell, M., et al. (2009). Ecological engineering in aquaculture—Potential for integrated multi-trophic aquaculture (IMTA) in marine offshore systems. Aquaculture, 297, 1–9.
  • van Zutphen, J. M., & Wijbrans, R. A. (2011). LCA GHG emissions in production and combustion of Malaysian palm oil biodiesel. Journal of Oil Palm, Environment and Health, 2, 1–8.
  • Yana, S., et al. (2022). Biomass waste as a renewable energy in developing bio-based economies in Indonesia: A review. Renewable and Sustainable Energy Reviews, 160, 112268. https://doi.org/10.1016/j.rser.2022.112268
  • Yee, K. F., et al. (2009). Life cycle assessment of palm biodiesel: Revealing facts and benefits for sustainability. Applied Energy, 86(Suppl. 1), S189–S196. https://doi.org/10.1016/j.apenergy.2009.04.014
  • Yung, C. L., et al. (2021). Life cycle assessment for the production of palm biodiesel. Journal of Oil Palm Research, 33(1), 140–150. https://doi.org/10.21894/jopr.2020.0080

***

Foto utama: Kementerian ESDM