
Prof. Yuli Andriani
Guru Besar Universitas Padjajaran
Pesatnya urbanisasi saat ini telah membawa konsekuensi munculnya perhatian terhadap ketahanan pangan perkotaan. Kota terus berkembang sedangkan area pertanian semakin terdesak oleh perkembangan pemukiman, industri, dan infrastruktur. Hal ini tentu menimbulkan kekhawatiran bagaimana ke depan kota akan memperoleh pangan yang cukup, sehat, dan berkelanjutan.
Berdasarkan data World Bank (2024), ada sekitar 59,2 persen penduduk Indonesia tinggal di kawasan perkotaan, atau setara dengan lebih dari 167 juta jiwa. Jumlah ini diproyeksikan akan terus meningkat seiring dengan pembangunan ekonomi serta migrasi dari pedesaan ke perkotaan.
Di sisi lain, kebutuhan pangan bagi masyarakat perkotaan pun semakin bertambah. Tingginya ketergantungan pada pasokan pangan dari daerah produksi membuat kota sangat mudah terganggu oleh krisis distribusi, perubahan iklim, atau bahkan fluktuasi harga pangan.
Dalam konteks tersebut, akuaponik hadir sebagai salah satu inovasi yang menawarkan harapan baru. Teknik budidaya akuaponik bukanlah metode pertanian konvensional biasa, melainkan sebuah pendekatan produksi pangan yang memadukan efisiensi, keberlanjutan, dan pemberdayaan masyarakat perkotaan.
Peluang dan tantangan ketahanan pangan di perkotaan
Ketahanan pangan tidak hanya soal ketersediaan pangan saja, tetapi juga tentang kualitas, aksesibilitas, dan keberlanjutan pasokannya. Kini tantangan yang dihadapi kota-kota besar semakin kompleks. Selain lahan produktif yang terus berkurang, juga adanya jarak antara sentra produksi dan konsumen semakin panjang.
Belum lagi jika terjadi gangguan transportasi, cuaca ekstrem, atau kenaikan harga bahan bakar, biaya distribusi pangan bisa naik secara signifikan. Akibatnya, harga sayuran, buah-buahan, dan sumber protein hewani menjadi lebih mahal bagi masyarakat perkotaan.
Selain itu, sektor pertanian konvensional juga menghadapi tantangan dalam penggunaan air yang tinggi. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) melaporkan bahwa sektor pertanian menghabiskan sekitar 70 persen dari sumber daya air tawar yang ada di dunia. Karena itu, diperlukan sistem pertanian pangan yang lebih efisien dan mampu beradaptasi dengan keterbatasan sumber daya.
Di sinilah gagasan pertanian perkotaan (urban farming) mulai mendapat perhatian. Produksi pangan kini tidak perlu dilaksanakan di lahan luas di pedesaan, melainkan bisa dilakukan di halaman rumah, atap gedung, halaman sekolah, maupun di sudut-sudut area permukiman yang dulunya tidak produktif.
Secara global, pertanian perkotaan ini sangat menjanjikan. Menurut laporan dari Acumen Research and Consulting (ARC), pasar pertanian perkotaan global mencapai USD 202,9 juta pada tahun 2022 dan diproyeksikan akan mencapai USD 261,1 juta pada tahun 2032.
Akuaponik: Integrasi budidaya ikan dan tanaman
Akuaponik merupakan kombinasi budidaya ikan (akuakultur) dengan budidaya tanaman tanpa tanah (hidroponik) dalam satu ekosistem yang saling mendukung (Gambar 1). Sistem kerja akuaponik yaitu mengubah limbah hasil metabolisme ikan yang mengandung nitrogen menjadi nutrien yang dapat diserap oleh tanaman, dengan adanya bakteri di dalamnya. Sebaliknya, tanaman berperan sebagai biofilter yang membantu menjaga kualitas air bagi ikan.

Gambar 1. Skema instalasi sistem resirkulasi akuaponik. ©Yuli Andriani
Konsep akuaponik meniru keseimbangan ekosistem di alam, di mana tidak ada sumber daya yang terbuang percuma. Dalam sistem ini air terus bersirkulasi sehingga penggunaannya jauh lebih efisien dibandingkan sistem pertanian konvensional.
Dalam satu siklus sistem akuaponik memungkinkan untuk produksi dua komoditas sekaligus, yakni ikan dan sayuran. Jenis ikan yang dibudidayakan adalah ikan lele, nila, patin, maupun ikan mas. Sedangkan untuk jenis sayuran akuaponik bisa selada, pakcoy, kangkung, bayam, atau jenis sayuran lainnya.
Tentu saja sistem ini cocok bagi masyarakat perkotaan, karena lebih fleksibel. Akuaponik dapat diaplikasikan dalam skala rumah tangga, lingkungan RT/RW, komunitas, sekolah, hingga skala komersial. Bahkan, di berbagai kota besar di negara maju, akuaponik ini menjadi bagian dari strategi pembangunan kota berkelanjutan.
Baca Opini lainnya dari Prof. Yuli Andriani
1. Penguatan kualitas bahan baku lokal pakan akuakultur
2. Pesona Pulau Jeju: Dari warisan UNESCO hingga SDA perikanan yang melimpah
3. Manfaat konsumsi ikan bagi penderita celiac disease
Mengapa akuaponik layak menjadi pilihan?
Ada sejumlah alasan mengapa akuaponik patut dipertimbangkan sebagai salah satu pilar ketahanan pangan perkotaan.
Pertama, teknologi ini mampu menghasilkan dua sumber pangan sekaligus, yaitu protein hewani dari ikan dan protein nabati dari sayuran, yang di dalamnya juga terdapat kandungan vitamin dan mineral.
Kedua, akuaponik sangat hemat lahan. Lahan yang sempit dapat dimanfaatkan untuk budidaya dua komoditas sekaligus dengan desain vertikal.
Ketiga, penggunaan air sangat efisien. Adanya sistem resirkulasi dalam akuaponik dapat menekan hilangnya air secara signifikan, serta menjaga kualitas air dalam kondisi optimal, sehingga dapat meningkatkan kapasitas produksi ikan.
Keempat, akuaponik juga dikenal sebagai integrated farming yang ramah lingkungan, karena memanfaatkan limbah ikan sebagai sumber nutrisi tanaman dan mengurangi kebutuhan pupuk kimia, ditambah lagi dengan ketersediaan pupuk organik relatif lebih sering karena mengikuti metabolisme ikan, sehingga waktu panen tanaman relatif lebih cepat.
Kelima, akuaponik memiliki nilai ekonomi. Selain untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, hasil panen juga dapat dijual untuk menambah pendapatan keluarga. Bahkan, dapat memperpendek rantai pasok pangan dengan kualitas produk yang lebih segar dan biaya distribusi yang lebih murah.
Keenam, akuaponik memiliki nilai edukatif yang tinggi. Anak-anak dan generasi muda dapat belajar mengenai produksi pangan, siklus nutrien, konservasi air, dan pentingnya menjaga lingkungan hidup.
Beberapa hal tersebut didukung oleh hasil penelitian kami terkait akuaponik dengan membudidayakan ikan koi dengan tanaman kangkung pada lahan terbatas, penelitian tersebut menghasilkan waktu panen kangkung lebih cepat menjadi dua minggu dari pada sistem pemeliharaan konvensional.
Selain itu, hasil menunjukkan dengan diterapkannya sistem akuaponik dapat meningkatkan kapasitas produksi atau padat tebar ikan dalam satu wadah budidaya daripada padat tebar pada budidaya konvensional.

Gambar 2. Produktifitas tanaman dan ikan dalam system akuaponik. ©Yuli Andriani
Pada akhirnya, ketahanan pangan perkotaan tidak bisa sepenuhnya mengandalkan pasokan dari luar kota. Masyarakat perlu didorong untuk menjadi bagian dari solusi dalam meningkatkan produksi pangan secara mandiri dan berkelanjutan.
Akuaponik memang bukan satu-satunya solusi untuk memperkuat ketahanan pangan, namun sistem ini menawarkan jalur baru yang realistis, efisien, dan ramah lingkungan. Apabila dikembangkan lebih luas yang disertai dengan dukungan dari pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat, maka akuaponik berpotensi menjadi fondasi masa depan ketahanan pangan bagi wilayah perkotaan di Indonesia.
***
Foto Utama: UNAIR




