
Prof. La Ode M. Aslan Guru Besar Akuakultur, Universitas Halu Oleo, Kendari
Kelapa sawit merupakan komoditas strategis Indonesia yang berperan besar dalam devisa, penyerapan tenaga kerja, dan penyediaan bahan baku industri. Namun, keberlanjutan produksinya semakin menghadapi tekanan akibat degradasi tanah, penurunan bahan organik, ketergantungan pada pupuk anorganik, serta meningkatnya tuntutan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK). Pada banyak perkebunan tua, penurunan karbon organik tanah telah menurunkan efisiensi pemupukan dan meningkatkan biaya produksi.
Indonesia juga memiliki potensi besar biomassa rumput laut seperti Kappaphycus alvarezii, Eucheuma denticulatum, dan Gracilaria spp. Sebagian biomassa yang tidak terserap industri utama masih bernilai rendah dan berpotensi menjadi limbah. Melalui proses pirolisis, biomassa ini dapat dikonversi menjadi biochar bernilai tambah tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai pembenah tanah, termasuk pada perkebunan kelapa sawit.
Biochar merupakan material kaya karbon yang dihasilkan melalui pirolisis biomassa pada kondisi oksigen terbatas (300–700°C). Dibandingkan biochar lignoselulosa, biochar rumput laut memiliki kandungan mineral lebih tinggi seperti K, Ca, Mg, P, Na, dan Si. Kombinasi karbon stabil dan mineral ini menjadikannya berfungsi ganda sebagai penyimpan karbon sekaligus sumber hara. Struktur porinya juga meningkatkan CEC, retensi air, dan ketersediaan unsur hara.
Dalam konteks ekonomi biru dan pertanian berkelanjutan, biochar rumput laut mulai banyak dikaji sebagai opsi strategis. Indonesia memiliki keunggulan karena ketersediaan biomassa yang melimpah. Konversi biomassa menjadi biochar tidak hanya meningkatkan nilai tambah sektor kelautan, tetapi juga memperkuat mitigasi perubahan iklim melalui penyimpanan karbon jangka panjang.
Biochar juga efektif untuk memperbaiki tanah tropis yang umumnya masam, rendah bahan organik, dan memiliki efisiensi pemupukan rendah. Aplikasinya dapat meningkatkan pH tanah, mengurangi toksisitas aluminium, serta memperbaiki ketersediaan fosfor dan aktivitas mikroorganisme tanah. Dengan demikian, perannya mencakup perbaikan menyeluruh sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.
Dari perspektif iklim, biochar merupakan teknologi mitigasi penting karena mengubah karbon mudah terurai menjadi karbon aromatik stabil yang dapat bertahan ratusan hingga ribuan tahun. Proses ini menjadikannya teknologi carbon-negative yang mampu menurunkan CO₂ atmosfer serta mengurangi emisi CH₄ dan N₂O melalui perbaikan aerasi dan siklus nitrogen.
Rumput laut sendiri memiliki kemampuan penyerapan karbon yang tinggi selama budidaya, tetapi sebagian besar karbon akan kembali ke atmosfer melalui dekomposisi jika tidak dimanfaatkan lebih lanjut. Konversi menjadi biochar meningkatkan permanensi karbon dan memperkuat manfaat mitigasi iklim. Efektivitasnya juga bergantung pada rantai pasok, energi proses, dan pemanfaatan akhir biomassa.
Integrasi biochar rumput laut dalam perkebunan kelapa sawit menciptakan sistem produksi yang lebih efisien dan rendah emisi. Biomassa yang sebelumnya bernilai rendah berubah menjadi input agronomis bernilai tinggi yang meningkatkan produktivitas sekaligus memperbaiki kualitas tanah. Pendekatan ini juga berpotensi menurunkan ketergantungan pupuk anorganik, mengurangi biaya produksi, dan membuka peluang perdagangan karbon.
Dengan demikian, pengembangan biochar rumput laut menjadi bagian penting dari transformasi menuju pertanian rendah karbon. Indonesia memiliki posisi strategis untuk mengembangkan inovasi ini melalui sinergi riset, teknologi, dan kebijakan berbasis ekonomi biru dan ekonomi sirkular.
Peningkatan produktivitas sawit dengan biochar rumput laut
Peningkatan produktivitas kelapa sawit melalui biochar terjadi melalui perbaikan simultan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Dari aspek fisik, biochar meningkatkan porositas, aerasi, infiltrasi, dan kapasitas menahan air. Hal ini mengurangi dampak pemadatan tanah pada perkebunan sawit dan memperbaiki perkembangan sistem perakaran, terutama pada kondisi kering.
Dari aspek kimia, biochar memiliki luas permukaan tinggi yang mampu mengikat dan melepaskan unsur hara secara bertahap (slow release). Mekanisme ini mengurangi kehilangan N, P, dan K akibat pencucian serta meningkatkan efisiensi pemupukan. Biochar rumput laut memiliki keunggulan tambahan karena kandungan kalium yang relatif tinggi, yang penting untuk pertumbuhan vegetatif dan pembentukan tandan buah segar.
Baca juga:
1. Integrasi sawit-rumput laut untuk mewujudkan Biodiesel B50 di Indonesia
2. Coast 4C secures US$2.5 million seed funding to expand smallholder seaweed farming in SEA
3. Menggagas Global Seaweed Certification Framework: Reformasi tata kelola perdagangan rumput laut dunia
Dari aspek biologi, struktur pori biochar menyediakan habitat bagi bakteri penambat nitrogen, bakteri pelarut fosfat, fungi mikoriza arbuskula (AMF), dan mikroorganisme dekomposer. Aktivitas mikroba ini mempercepat siklus hara, meningkatkan mineralisasi, dan memperbaiki serapan nutrien tanaman. Kombinasi biochar dan AMF juga terbukti meningkatkan pertumbuhan akar, efisiensi air, dan ketahanan terhadap kekeringan.
Secara keseluruhan, interaksi ketiga aspek tersebut meningkatkan efisiensi pupuk, memperbaiki kesehatan tanah, dan menciptakan kondisi tumbuh yang lebih optimal. Dampaknya adalah peningkatan produktivitas TBS, penurunan biaya produksi, serta peningkatan keberlanjutan sistem perkebunan kelapa sawit.
Potensi biochar rumput sebagai media blue carbon
Rumput laut merupakan komponen penting ekonomi biru karena memiliki kemampuan menyerap karbon anorganik melalui fotosintesis dengan laju tinggi. Namun, berbeda dengan ekosistem karbon biru seperti mangrove dan lamun yang menyimpan karbon di sedimen, sebagian besar karbon rumput laut tersimpan dalam biomassa yang cepat terurai setelah panen.
Tanpa pemanfaatan lanjutan, karbon tersebut kembali ke atmosfer dalam bentuk CO₂. Oleh karena itu, konversi biomassa menjadi biochar menjadi strategi penting untuk meningkatkan permanensi penyimpanan karbon. Proses pirolisis mengubah karbon menjadi struktur aromatik stabil yang dapat bertahan ratusan hingga ribuan tahun di dalam tanah.
Dengan demikian, biochar mengubah sistem budidaya rumput laut dari sekadar penyerap karbon sementara menjadi penyimpan karbon jangka panjang (long-term carbon sequestration). Pendekatan ini semakin diakui sebagai teknologi carbon-negative yang mendukung target Net Zero Emissions (NZE).
Namun, dampak iklim dari rumput laut tidak hanya ditentukan oleh besarnya serapan karbon, tetapi juga oleh efisiensi rantai pasok, penggunaan energi, dan bentuk pemanfaatan biomassa. Pengolahan menjadi biochar dinilai lebih unggul dibanding dekomposisi atau pembakaran langsung karena menghasilkan penyimpanan karbon yang lebih permanen.
Integrasi blue economy, circular economy, dan industri sawit
Pemanfaatan biochar rumput laut pada perkebunan kelapa sawit menawarkan model integrasi antara sektor kelautan dan pertanian darat dalam kerangka blue economy dan ekonomi sirkular. Biomassa rumput laut dari budidaya maupun limbah pascapanen dapat dikonversi menjadi biochar, kemudian dimanfaatkan sebagai pembenah tanah pada perkebunan kelapa sawit. Sistem ini menghasilkan manfaat ganda, yaitu peningkatan produktivitas tanaman melalui perbaikan kualitas tanah serta peningkatan cadangan karbon tanah sebagai bentuk mitigasi perubahan iklim.
Dalam pendekatan ini, biomassa tidak lagi dipandang sebagai limbah, tetapi sebagai sumber daya bernilai tambah (value-added biomass). Pemanfaatannya memperbaiki efisiensi penggunaan pupuk, meningkatkan kesehatan tanah, menurunkan emisi gas rumah kaca, serta membuka peluang pengembangan skema perdagangan karbon di sektor pertanian. Model integrasi ini sejalan dengan prinsip ekonomi biru yang menekankan optimalisasi sumber daya kelautan secara berkelanjutan sekaligus mendukung transisi industri kelapa sawit menuju sistem produksi rendah karbon.
Tantangan implementasi dan agenda riset masa depan
Meskipun memiliki prospek besar, implementasi biochar rumput laut pada skala komersial masih menghadapi tantangan teknis, ekonomi, dan kelembagaan. Kendala utama meliputi keterbatasan teknologi pirolisis skala industri, tingginya biaya pengeringan dan transportasi akibat kadar air serta salinitas rumput laut, serta belum optimalnya sistem rantai pasok biomassa.
Selain itu, kualitas biochar sangat dipengaruhi oleh jenis spesies, suhu, dan durasi pirolisis sehingga diperlukan standardisasi proses untuk menjamin konsistensi produk. Dari sisi ilmiah, sebagian besar penelitian masih berada pada skala laboratorium dan rumah kaca, sementara data lapangan jangka panjang pada perkebunan kelapa sawit masih terbatas, khususnya terkait produktivitas, dinamika karbon tanah, dan efisiensi ekonomi.
Ke depan, penelitian perlu diarahkan pada integrasi biochar dengan fungi mikoriza arbuskula (AMF), pupuk hayati, dan teknologi pertanian presisi untuk meningkatkan efisiensi sistem budidaya. Selain itu, analisis Life Cycle Assessment (LCA) dan cost-benefit analysis penting dilakukan untuk memastikan kelayakan ekonomi dan dampak lingkungannya secara menyeluruh.
Indonesia memiliki posisi strategis untuk mengembangkan teknologi ini karena merupakan produsen utama rumput laut tropis sekaligus produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Kombinasi kedua sektor ini membuka peluang pengembangan rantai nilai terpadu berbasis biomassa. Namun, percepatan adopsi membutuhkan dukungan kebijakan, penguatan riset, pengembangan teknologi pirolisis skala industri, serta kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor swasta.
Implikasi kebijakan dan arah pengembangan industri
Pengembangan biochar rumput laut memerlukan dukungan kebijakan yang lebih konkret agar dapat diadopsi secara luas dalam sistem pertanian nasional. Saat ini, belum terdapat regulasi khusus yang mengatur standar mutu, proses produksi, dan pemanfaatan biochar sebagai pembenah tanah. Oleh karena itu, penyusunan standar nasional (SNI) mengenai kualitas biochar, metode karakterisasi, serta pedoman aplikasi menjadi langkah penting untuk menjamin efektivitas dan keamanan penggunaannya.
Dalam konteks pembangunan rendah karbon, biochar rumput laut berpotensi diintegrasikan ke dalam strategi pencapaian Net Zero Emissions Indonesia. Kemampuannya menyimpan karbon dalam jangka panjang sekaligus meningkatkan cadangan karbon tanah menjadikannya relevan sebagai teknologi mitigasi sektor pertanian. Implementasinya juga dapat melengkapi berbagai strategi dekarbonisasi seperti rehabilitasi lahan dan efisiensi input pertanian, serta mendukung komitmen Indonesia dalam Nationally Determined Contribution (NDC).
Dari sisi ekonomi, biochar membuka peluang pengembangan mekanisme insentif karbon (carbon credit) karena stabilitas karbonnya yang tinggi memungkinkan pengakuan sebagai bentuk penyerapan karbon yang terukur. Meskipun sistem verifikasi masih berkembang, biochar telah mulai diakui sebagai salah satu opsi teknologi mitigasi dalam pasar karbon sukarela maupun terregulasi.
Selain itu, biochar rumput laut juga dapat memperkuat sinergi antara industri rumput laut dan kelapa sawit. Biomassa rumput laut yang tidak memenuhi standar industri pangan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biochar, yang kemudian diaplikasikan pada perkebunan sawit untuk meningkatkan kesuburan tanah dan efisiensi pupuk. Model ini menciptakan integrasi ekonomi sirkular yang meningkatkan nilai tambah biomassa sekaligus menurunkan ketergantungan pada pupuk anorganik.
Keberhasilan implementasi ekosistem ini memerlukan kolaborasi multipihak. Pemerintah berperan dalam regulasi dan insentif, industri dalam investasi dan rantai pasok, serta perguruan tinggi dalam riset dan inovasi teknologi. Sinergi ini menjadi kunci untuk mempercepat transformasi biochar rumput laut sebagai bagian dari sistem pertanian berkelanjutan, produktif, dan rendah emisi di Indonesia.
Kesimpulan
Biochar rumput laut merupakan inovasi yang menghubungkan pengelolaan sumber daya kelautan dengan pembangunan pertanian berkelanjutan melalui pendekatan blue economy dan ekonomi sirkular. Selain meningkatkan produktivitas kelapa sawit melalui perbaikan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, biochar juga berfungsi sebagai media penyimpanan karbon jangka panjang yang mampu menurunkan emisi gas rumah kaca dan meningkatkan cadangan karbon tanah.
Pemanfaatan biomassa rumput laut menjadi biochar memberikan nilai tambah terhadap komoditas rumput laut sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap mitigasi perubahan iklim. Dengan potensi sumber daya yang dimiliki Indonesia, pengembangan biochar rumput laut berpeluang menjadi salah satu inovasi strategis dalam mendukung transformasi industri kelapa sawit menuju sistem produksi yang lebih produktif, berkelanjutan, dan selaras dengan target Net Zero Emissions nasional maupun agenda pembangunan berkelanjutan global.
Referensi
- Aslan, L.O.M. (2026a) ‘Biochar rumput laut: inovasi biomassa laut untuk pertanian berkelanjutan’, Hijauku.com, 28 May. Available at: https://hijauku.com/2026/05/28/biochar-rumput-laut-inovasi-biomassa-laut-untuk-pertanian-berkelanjutan/ (Accessed: 28 June 2026).
- Aslan, L.O.M. (2026) ‘Pemanfaatan biochar untuk mendukung produksi kakao nasional’, Hijauku.com, 17 June. Available at: https://hijauku.com/2026/06/17/pemanfaatan-biochar-untuk-mendukung-produksi-kakao-nasional/ (Accessed: 28 June 2026).
- Duarte, C.M., Wu, J., Xiao, X., Bruhn, A. and Krause-Jensen, D. (2017). Can seaweed farming play a role in climate change mitigation and adaptation? Frontiers in Marine Science, 4, 100. https://doi.org/10.3389/fmars.2017.00100
- Farghali, M., Mohamed, I.M.A., Osman, A.I., Rooney, D.W., Coker, V.S., Al-Muhtaseb, A.H. et al. (2023). Seaweed for climate mitigation, wastewater treatment, bioenergy, bioplastic, biochar, food, pharmaceuticals and cosmetics: A review. Environmental Chemistry Letters, 21, 97–152. https://doi.org/10.1007/s10311-022-01520-y
- Farmery, A.K., Allison, E.H., Andrew, N.L., Troell, M., Voyer, M., Campbell, B., Eriksson, H., Fabinyi, M., Song, A.M., Steenbergen, D. et al. (2021). Blind spots in visions of a “blue economy” could undermine the ocean’s contribution to eliminating hunger and malnutrition. One Earth, 4(1), 28–38. https://doi.org/10.1016/j.oneear.2020.12.002
- Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). (2023). Climate Change 2023: Synthesis Report. Contribution of Working Groups I, II and III to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Geneva: IPCC. https://doi.org/10.59327/IPCC/ AR6-9789291691647
- Lehmann, J. and Joseph, S. (eds.) (2015). Biochar for Environmental Management: Science, Technology and Implementation. 2nd ed. London: Routledge.
- Schmidt, H.P., Kammann, C., Niggli, C. and Evangelou, M.W.H. (2017). Biochar and biochar-compost as soil amendments to reduce oil palm plantation emissions and improve soil fertility. Agronomy for Sustainable Development, 37, 60.
https://doi.org/10.1007/s13593-017-0469-9 - Pessarrodona, A., Duarte, C.M., Krause-Jensen, D. et al. (2024). Seaweed cultivation for climate change mitigation: Opportunities and limitations. Science of the Total Environment, 918, 170525. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2024.170525
- Ross, F.W.R., Mac Monagail, M., Yarish, C. et al. (2024). Seaweed aquaculture and climate mitigation: Current evidence, uncertainties and future directions. Phycologia, 63(3), 258–271. https://doi.org/10.1080/00318884.2024.2315253
- United Nations. (2015). Paris Agreement. United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), Paris. Available at: https://unfccc.int/process-and-meetings/the-paris-agreement
- World Bank (2017). The Potential of the Blue Economy: Increasing Long-term Benefits of the Sustainable Use of Marine Resources for Small Island Developing States and Coastal Least Developed Countries. Washington, DC: World Bank. https://doi.org/10.1596/28239
- Warnock, D.D., Lehmann, J., Kuyper, T.W. and Rillig, M.C. (2007). Mycorrhizal responses to biochar in soil: Concepts and mechanisms. Plant and Soil, 300, 9–20. https://doi.org/10.1007/s11104-007-9391-5
- Woolf, D., Lehmann, J. et al. (2021). Biochar as a negative emission technology. Nature Communications, 12, 1963. https://doi.org/10.1038/s41467-021-22065-2
***




