Enterocytozoon hepatopenaei (EHP) masih menjadi penyakit yang menghantui petambak udang saat ini. EHP merupakan mikrosporidia yang menyerang dan mengganggu fungsi hepatopankreas udang sehingga pemanfaatan nutrisi dan pertumbuhan udang menjadi lambat. Meski tidak identik dengan kematian massal, penyakit ini biasanya menghasilkan ukuran udang yang tidak seragam dan pertumbuhan lambat, yang pada akhirnya menyebabkan FCR jadi bengkak.
Menurut CEO Genics, Dr. Melony Sellars, penyebaran EHP terjadi melalui dua pola: horizontal dan vertikal. Penyebaran horizontal terjadi melalui pakan atau air yang terkontaminasi EHP, peralatan dan personel yang berpindah antar tambak, hewan liar (tikus, burung, kucing/anjing), hingga capung. Sementara penyebaran vertikal terjadi dari induk (broodstock) ke keturunan (larva), khususnya ketika induk diberi pakan alami berupa polychaete dari alam (liar) yang terkontaminasi EHP.
Cara produksi menentukan status benur
Status kesehatan benur tidak hanya ditentukan oleh kondisi di hatchery saat benur diproduksi. Pada penyakit seperti EHP, penelusuran perlu dilakukan lebih jauh, mulai dari sumber induk hingga pakan yang diberikan selama proses pematangan dan pemijahan.
Menurut Melony, Indonesia sebenarnya memiliki pilihan sumber benur dengan tingkat biosekuriti yang relatif tinggi. Program breeding lokal dengan sumber specific pathogen free (SPF) dapat menghasilkan benur yang tidak hanya memiliki status kesehatan lebih terkontrol, tetapi juga dikembangkan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan lokal.
Di sisi lain, Indonesia juga memiliki akses terhadap induk SPF dari Amerika Serikat yang kemudian menjalani proses pematangan dan produksi secara lokal. Jika induk tersebut dipelihara dengan input yang memiliki status kesehatan baik, risiko masuknya patogen ke dalam rantai produksi benur juga dapat ditekan.
Namun demikian, sistem produksi ini dapat berubah saat sumber induk dan input yang digunakan tidak lagi memiliki tingkat biosekuriti yang sama.
Salah satu titik yang mendapat perhatian Melony adalah penggunaan polychaete hasil tangkapan alam sebagai pakan induk. Meskipun polychaete merupakan sumber nutrisi yang sangat bagus untuk digunakan dalam pematangan induk udang, sumbernya yang berasal langsung dari alam (wild) cenderung membawa risiko karena status kebersihannya dari sumber penyakit tidak selalu dapat dipastikan.
Baca juga
1. Cara lama tak lagi berhasil di tambak udang, adaptasi dan inovasi jadi kunci
2. Panen udang berulang di tengah banyak tantangan, kenapa tidak?
3. Bagus saja tidak cukup, manajemen tambak harus konsisten dengan pendekatan ekosistem
“Penggunaan polychaete liar di Indonesia sangat berisiko, dalam konteks biosekuriti, karena dapat menjadi jalur penularan patogen seperti EHP dan bahkan white spot virus” katanya dalam suatu webinar yang diadakan Genics.
Dengan demikian, sumber induk saja belum cukup untuk menjamin kebersihan benur dari EHP. Induk yang berasal dari sumber SPF tetap dapat menghadapi risiko EHP jika dikombinasikan dengan input pakan berupa polychaete yang sudah terkontaminasi patogen.

Induk SPF dan pakan alami yang bersih dari EHP menjadi kombinasi ideal dalam menghasilkan benur bebas EHP. ©Genics
Melony menjelaskan bahwa induk impor yang diberi input pakan alami yang bersih pada umumnya memiliki tingkat biosekuriti yang tinggi. Sebaliknya, penggunaan polychaete liar dapat membuka jalur paparan patogen sebelum induk menghasilkan benur. Risiko tersebut menjadi penting karena patogen dapat terbawa hingga fase post-larvae (PL), sehingga masalah baru diketahui ketika benur sudah berada di tangan pembudidaya.
Bagi petambak, kondisi ini membuat informasi mengenai asal-usul benur menjadi bagian yang sangat penting sebelum keputusan tebar. Tidak cukup hanya mengetahui nama hatchery atau asal induknya, riwayat induk, sistem pemeliharaan, serta jenis dan sumber pakan induk juga relevan untuk dikonfirmasi kepada produsen benur.
Induk dari tambak berisiko EHP paling besar
Sementara tu, risiko EHP bahkan akan lebih besar lagi jika induk udang yang digunakan adalah hasil seleksi dari kolam pembesaran. Udang yang sebelumnya berada di lingkungan produksi berpotensi telah terpapar berbagai patogen. Jika kemudian digunakan untuk calon induk, siklus EHP dan patogen lainnya dapat terus berlanjut ke generasi berikutnya.
Karena itu, pendekatan biosekuriti perlu melihat rantai produksi secara utuh. Hal ini untuk memastikan benur tidak hanya terlihat sehat saja, tetapi juga dapat dikonfirmasi jika status kesehatannya dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan sumber induk, input yang digunakan, serta proses produksinya.
Lengkapi dengan pengujian
Pada tahap inilah Melony menambahkan bahwa pengujian kesehatan benur menjadi sangat penting. Ia menekankan bahwa metode pengujian untuk mendeteksi keberadaan patogen pada benur perlu memiliki sensitivitas yang memadai, terutama ketika keputusan yang diambil adalah apakah benur akan ditebar ke tambak atau tidak.
“Jika terdapat patogen, Anda perlu mengetahuinya agar dapat mengambil keputusan manajemen yang tepat, termasuk apakah akan melakukan tebar atau tidak sama sekali.”
Semakin awal risiko EHP dapat diketahui, semakin besar ruang untuk mengambil keputusan sebelum patogen masuk ke sistem budidaya. Karena itu, pemeriksaan status kesehatan benur idealnya tidak berhenti pada kondisi fisik PL, tetapi juga mempertimbangkan asal induk, pakan induk, serta hasil pengujian kesehatan yang sesuai untuk deteksi dini.
***


