Industri budidaya udang menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Ancaman penyakit yang terus berkembang, meningkatnya biaya produksi, tuntutan efisiensi, hingga kebutuhan untuk menjaga keberlanjutan usaha mendorong pelaku industri, khususnya para petambak, untuk terus beradaptasi dan berinovasi.
Menjawab kebutuhan tersebut, PT Tequisa Indonesia bersama USSEC Indonesia menggelar Aquaculture Innovation Forum & Expo (AIFE) 2026 di Marquee Cyber 2, Jakarta (19/6). Mengusung tema โAdapt & Innovate: Advancing Shrimp Aquacultureโ, forum ini menghadirkan sejumlah pakar dan praktisi industri tambak udang untuk berbagi informasi mengenai perkembangan teknologi, strategi manajemen, serta pendekatan terbaru dalam budidaya udang modern.
Berbagai topik dibahas dalam forum ini, mulai dari pengendalian penyakit, kesehatan udang, manajemen kualitas lingkungan, pemanfaatan mikrobioma, hingga penerapan kecerdasan buatan (AI) dan sistem pemberian pakan presisi.
Niran Warin, Business Development Manager dari MixScience, dalam peresentasinya menyoroti pentingnya perubahan paradigma dalam menghadapi tantangan budidaya udang saat ini. Menurutnya, perubahan lingkungan, meningkatnya tekanan penyakit seperti Enterocytozoon hepatopenaei (EHP), serta biaya produksi yang semakin tinggi membuat pendekatan budidaya konvensional tidak lagi cukup.
Ia menjelaskan bahwa tambak udang perlu mulai mengadopsi pendekatan preventif berbasis bioteknologi. Ia memperkenalkan solusi yang dikembangkan MixScience, yakni A-life dan A-coverost. A-life dirancang untuk membantu menekan bakteri dan virus patogen melalui mekanisme yang mengganggu struktur protein mikroorganisme tersebut. Sementara itu, A-coverost berfungsi menghambat penyebaran spora jamur baik secara fisik maupun biologis.
Berdasarkan hasil pengujian laboratorium dan penerapan di sejumlah tambak di Thailand dan Vietnam, penggunaan kedua solusi tersebut sejak tahap awal budidaya dilaporkan mampu meningkatkan tingkat kelangsungan hidup udang serta memperbaiki rasio konversi pakan (FCR). Menurut Niran, keberhasilan budidaya di masa depan akan sangat bergantung pada kombinasi antara nutrisi berkualitas, pengendalian patogen, dan pemantauan yang konsisten.
Topik EHP kembali menjadi perhatian dalam sesi yang dibawakan oleh drh. Narendra Santika dari PT Suri Tani Pemuka. Ia menjelaskan bahwa EHP masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam budidaya udang karena sporanya sangat sulit dieliminasi menggunakan disinfektan konvensional.
Menurut Narendra, strategi yang lebih efektif cenderung tidak berfokus pada upaya menghilangkan patogen sepenuhnya, melainkan meningkatkan ketahanan udang agar mampu tumbuh optimal meskipun berada dalam lingkungan yang memiliki risiko infeksi.
Ia menjelaskan bahwa persiapan tambak menggunakan perlakuan pH tinggi maupun pengaturan suhu tertentu dapat membantu mengurangi keberadaan spora EHP. Selain itu, pemantauan kondisi hepatopankreas melalui analisis histologi menjadi alat penting untuk mengetahui tingkat kerusakan jaringan akibat infeksi.
Narendra juga menekankan pentingnya penggunaan feed additive atau modulator pencernaan untuk meningkatkan kemampuan penyerapan nutrisi. Dengan demikian, energi yang diperoleh udang dapat digunakan untuk pertumbuhan dan pemulihan jaringan, bukan terkuras oleh aktivitas parasit. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan budidaya tetap bersih dari akumulasi limbah organik yang dapat meningkatkan stres pada udang.
Baca juga
1. Panen udang berulang di tengah banyak tantangan, kenapa tidak?
2. Bagus saja tidak cukup, manajemen tambak harus konsisten dengan pendekatan ekosistem
3. Standar global dan geopolitik kian berpengaruh terhadap daya saing perikanan
Sementara itu, Ghukos Tantyo Priono dari PT Tequisa Indonesia membahas solusi teknologi yang ditujukan untuk meningkatkan daya dukung tambak. Dalam presentasinya, ia memperkenalkan Central Drain Sedimentation System (CDSS), sistem otomatis yang dirancang untuk membuang limbah organik dan lumpur dasar tambak secara terus-menerus selama 24 jam.
Teknologi tersebut memanfaatkan sistem airlift untuk mengangkut endapan organik dari dasar tambak menuju area pembuangan. Dengan proses pembersihan yang berlangsung secara terus-menerus, kebutuhan penyiponan manual dapat dikurangi secara signifikan.

Para pembicara pada acara Aquaculture Innovatioan Forum and Expo 2026 di Jakarta. ยฉAsep Bulkini
Menurut Ghukos, pengelolaan limbah yang lebih baik akan membantu menekan tekanan lingkungan dan mengurangi risiko penyakit, termasuk EHP. Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya aerasi dasar menggunakan root blower berdaya tinggi untuk memastikan distribusi oksigen yang merata di seluruh kolom air.
Preventif tetap jadi pendekatan utama
Aspek kesehatan udang dari sudut pandang mikrobiologi dibahas oleh Fernanda Rinia Putri, Technical Account Manager CeKolam. Ia menjelaskan bahwa kesehatan usus udang memiliki hubungan erat dengan kualitas lingkungan budidaya secara keseluruhan.
Menurut Fernanda, penyakit seperti Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND) dan Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) masih menjadi ancaman utama tambak udang di berbagai wilayah di Indonesia. Namun, keberadaan patogen tidak selalu menjadi faktor penentu munculnya penyakit.
Melalui teknologi DNA sequencing, perubahan komunitas bakteri dapat dideteksi jauh sebelum muncul gejala klinis maupun kematian. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa mikrobioma yang beragam dan stabil sering kali menjadi faktor yang lebih menentukan keberhasilan budidaya dibandingkan keberadaan satu jenis patogen tertentu.
Ia menjelaskan bahwa konsentrasi Vibrio yang tinggi tidak selalu menyebabkan penyakit apabila keseimbangan ekosistem mikroba tetap terjaga. Oleh karena itu, pemantauan data mikrobiologi secara berkala menjadi bagian penting dari strategi budidaya modern yang lebih proaktif.
Transformasi digital dalam budidaya udang menjadi fokus presentasi Alexander Farthing, CEO HADL sekaligus co-founder dari De. Ia memperkenalkan Aquasense, platform diagnostik berbasis AI yang dirancang untuk membantu petambak mengambil keputusan secara lebih cepat dan akurat.
Aquasense Health menggunakan teknologi pencitraan kuantitatif untuk memantau kondisi hepatopankreas dan mendeteksi sinyal stres beberapa hari sebelum gejala fisik terlihat. Dengan informasi tersebut, petambak dapat melakukan tindakan yang lebih tepat sasaran tanpa harus menggunakan perlakuan preventif secara berlebihan.
Selain itu, sistem pemantauan plankton yang dikembangkan Aquasense mampu mengidentifikasi spesies plankton berpotensi berbahaya melalui analisis biovolume dan audit digital. Pendekatan ini dinilai memberikan tingkat akurasi yang lebih tinggi dibandingkan metode observasi manual.
Forum kemudian ditutup dengan presentasi Handono Setiyobudi mengenai teknologi AQ1 System, sistem pemberian pakan berbasis akustik yang mendukung konsep precision aquaculture.ย Teknologi ini memanfaatkan hydrophone untuk mendeteksi suara yang dihasilkan udang saat mencari makan. Data tersebut kemudian digunakan untuk menentukan kapan dan berapa banyak pakan yang harus diberikan.
Menurut Handono, pendekatan berbasis permintaan (demand feeding) memungkinkan pemberian pakan dilakukan sesuai kebutuhan biologis udang yang sebenarnya. Selain mengurangi pemborosan pakan, sistem ini juga membantu menjaga kualitas air dan meningkatkan pertumbuhan udang.
Melalui berbagai materi yang disampaikan, AIFE 2026 menunjukkan bahwa masa depan budidaya udang akan semakin bergantung pada kemampuan industri dalam menggabungkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan manajemen berbasis data. Dengan mengadopsi inovasi yang tepat, industri udang Indonesia diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, dan mewujudkan budidaya yang lebih berkelanjutan.
Hadiri Aquaculture Innovation Forum & Expo (AIFE) 2026 (Part 2) pada 24 Juni 2026. Dapatkan informasinya di sini:ย AIFE 2026 Part 2.
***




