Pertumbuhan industri ikan nila atau tilapia dunia masih menunjukkan tren positif seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap sumber protein yang sehat dan terjangkau. Namun di balik peluang tersebut, pelaku usaha juga dihadapkan pada berbagai tantangan baru, mulai dari penyakit, fluktuasi harga pakan, perubahan iklim, hingga tuntutan pasar terhadap praktik budidaya ikan berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan Konsultan Teknis Akuakultur USSEC untuk Asia Tenggara, Pamudi, dalam sambutannya pada acara Indonesia Tilapia Roundtable 2026, yang diadakan USSEC dan Asosiasi Tilapia Indonesia (ATI), beberapa waktu lalu di Bandung.

Menurut Pamudi, sejumlah faktor masih menjadi pendorong utama pertumbuhan sektor budidaya ikan, termasuk meningkatnya konsumsi ikan, pertumbuhan populasi, serta berkembangnya industri pangan yang membutuhkan pasokan protein hewani dalam jumlah besar.

โ€œOrang semakin ingin mengonsumsi makanan yang sehat, termasuk ikan. Kebutuhan protein juga terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dunia,โ€ ujarnya.

Meski demikian, hasil berbagai survei menunjukkan bahwa tantangan terbesar industri akuakultur saat ini masih berkaitan dengan penyakit (35%), biaya pakan dan keberlanjutan (28%).ย ย Selain itu, berbagai kebijakan pemerintah di sejumlah negara yang mulai membatasi penggunaan bahan atau praktik tertentu dalam budidaya (22%) dan tarif perdagangan (15%) turut menjadi tantangan baru.

Banner Iklan SBI

Di sisi lain, perubahan iklim juga mulai memberikan dampak yang semakin nyata. Fenomena cuaca ekstrem dan penurunan kualitas lingkungan berpotensi memengaruhi produktivitas budidaya di berbagai wilayah.

โ€œDampak El Niรฑo sudah mulai terasa. Ke depan kejadian seperti ini kemungkinan akan semakin sering terjadi dan perlu diantisipasi oleh pelaku budidaya,โ€ kata Pamudi.

Pergeseran pasar global

Pamudi juga menyoroti adanya perubahan peta perdagangan tilapia dunia, khususnya di pasar Amerika Serikat. Menurutnya, preferensi konsumen dan dinamika perdagangan internasional telah mendorong perubahan jenis produk yang diminati pasar.

Jika sebelumnya produk ikan utuh (whole fish) mendominasi perdagangan, kini pasar semakin bergerak ke arah produk olahan bernilai tambah seperti fillet dan produk siap saji.

Baca juga
1. USSEC dan ATI dorong penguatan posisi tilapia Indonesia di pasar ekspor
2. Tilapia Conference 2026 soroti masa depan budidaya nila Indonesia
3. Orkestrasi Tilapianomic: Menjemput fajar baru akuakultur nusantara

Perubahan tersebut turut memengaruhi strategi ekspor negara-negara produsen utama. China misalnya, yang selama ini menjadi pemain dominan dalam perdagangan tilapia (whole fish) dunia, mulai mengalihkan sebagian fokus pasarnya ke kawasan Afrika.ย 

Konsultan Teknis Akuakultur USSEC untuk Asia Tenggara, Pamudi.

Konsultan Teknis Akuakultur USSEC untuk Asia Tenggara, Pamudi.

โ€œChina mulai mengurangi ekspornya ke Amerika dan lebih agresif masuk ke pasar Afrika. Ini menciptakan pergeseran yang cukup signifikan dalam perdagangan global tilapia,โ€ jelasnya.

Namun begitu, China tetap memanfaatkan preferensi baru konsumen AS dengan menjual lebih banyak frozen fillet. Tercatat ekspor frozen fillet tilapia China ke AS meningkat dari 58,96 ribu ton pada 2024 menjadi 67,84 ribu ton pada 2025.

Sebaliknya,Pamudi mencatat adanya penurunan ekspor tilapia dari Indonesia ke Amerika Serikat pada tahun 2025. Penurunan tersebut mencapai sekitar 1.000 ton atau dengan nilai sekitar US$11,5 juta.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa Indonesia perlu segera beradaptasi dengan perubahan pasar yang sedang berlangsung.

Ia juga menjelaskan bahwa nilai pasar global ikan tilapia saat ini mencapai USD13,77 miliar dan diprediksi akan meningkat hingga USD16,16 miliar pada tahun 2035, atau dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 1,8%.

Keberlanjutan dan sertifikasi semakin penting

Di tengah persaingan yang semakin ketat, Pamudi menilai keberlanjutan (sustainability) akan menjadi faktor penentu daya saing industri tilapia di masa depan.

Ia menjelaskan bahwa fokus industri global kini tidak lagi hanya memproduksi ikan dengan biaya murah, tetapi juga memastikan proses produksinya memenuhi standar lingkungan dan sosial yang diakui pasar.

โ€œKe depan yang dicari bukan hanya ikan yang murah, tetapi produk yang berasal dari sistem budidaya yang tersertifikasi dan berkelanjutan,โ€ ujarnya.

Karena itu, pelaku usaha perlu mulai mempersiapkan diri menghadapi tuntutan sertifikasi, efisiensi produksi, serta penerapan teknologi budidaya yang lebih ramah lingkungan.

Pamudi juga menyoroti meningkatnya perhatian pasar terhadap isu jejak karbon (carbon footprint). Menurutnya, kemampuan produsen untuk mengukur dan menunjukkan upaya pengurangan emisi karbon akan menjadi nilai tambah yang semakin penting.

โ€œPenting bagi pelaku usaha untuk bisa membuktikan bahwa operasional budidayanya berkelanjutan dan mampu mengurangi jejak karbon. Ke depan hal ini bisa menjadi bagian dari keunggulan kompetitif,โ€ katanya.

Selain China, Indonesia juga perlu mewaspadai perkembangan industri tilapia di sejumlah negara Amerika Latin seperti Brasil, Kolombia, Meksiko, Honduras, dan Kosta Rika. Negara-negara tersebut dinilai semakin fokus pada kualitas produk, sertifikasi, dan keberlanjutan sehingga berpotensi menjadi pesaing kuat di pasar internasional.

Meski demikian, Pamudi tetap optimis terhadap prospek industri tilapia Indonesia. Dengan sumber daya yang dimiliki dan peluang pasar yang masih terbuka lebar, Indonesia dinilai memiliki kesempatan untuk memperkuat posisinya di pasar global, asalkan mampu beradaptasi dengan tuntutan baru yang semakin mengedepankan efisiensi, kualitas, dan keberlanjutan.