The U.S. Soybean Export Council (USSEC) bekerja sama dengan Asosiasi Tilapia Indonesia (ATI) kembali menyelenggarakan Tilapia Roundtable, sebuah forum diskusi yang mempertemukan para pelaku usaha, asosiasi, lembaga sertifikasi, perwakilan BUMN, hingga pemangku kebijakan untuk membahas peluang dan tantangan industri budidaya tilapia nasional.
Dalam sambutannya, Konsultan Teknis Akuakultur USSEC untuk Asia Tenggara, Pamudi, menyampaikan bahwa pertumbuhan industri akuakultur global, termasuk tilapia, didorong oleh peningkatan konsumsi masyarakat terhadap makanan sehat berbasis ikan.
Namun, ia juga menggarisbawahi sejumlah tantangan yang dihadapi seperti penyakit yang menjadi penyebab utama kerugian produksi, fluktuasi harga pakan, kebijakan tarif dagang di berbagai negara, hingga dampak perubahan iklim yang mulai memengaruhi kualitas air dan keberlangsungan budidaya. Pamudi menekankan pentingnya konsolidasi dan kolaborasi antar pelaku industri untuk menghadapi tantangan tersebut secara bersama-sama.
Pada sesi pertama, Tri Dharma Saputra, Direktur Supply Chain and Procurement Regal Springs Indonesia, membagikan pengalaman Regal Springs dalam mengisi peluang pasar ekspor. Ia mendorong para pelaku usaha tilapia untuk menjadikan ikan tersebut bukan hanya sekedar komoditas, tapi produk dengan nilai yang tinggi. Contohnya bagaimana tilapia Regal Springs menggantikan cod hasil tangkapan, yang pasokannya kini mulai menurun, pada salah satu jaringan restoran fish and chips terkemuka di London. Tilapia cenderung unggul karena relatif lebih stabil dari sisi pasokan, tekstur daging, hingga kebersihan hasil fillet.
“Tingkat kepuasan konsumennya jadi semakin tinggi. Jadi, ini salah satu bukti bahwa tilapia bisa menjadi solusi dari kebutuhan ikan putih yang saat ini luar biasa semakin tinggi kebutuhannya,” kata Tri.
Pada sesi selanjutnya, Drh. Andhi Trapsilo, Government Relations Manager Japfa Comfeed, memaparkan konsep zero waste dalam pengolahan tilapia, di mana seluruh bagian ikan—mulai dari fillet, kepala, rangka, jeroan, hingga kulit—dapat dimanfaatkan untuk berbagai produk bernilai tambah, termasuk bahan baku kolagen kosmetik yang berpotensi diekspor ke pasar Eropa, bahan baku pangan lain, hingga bahan baku pakan untuk jenis ikan yang berbeda.
Selain isu pasar dan produksi, diskusi turut mengangkat topik karbon dan keberlanjutan. Lembaga sertifikasi global Control Union memaparkan potensi karbon biru (blue carbon) di sektor perikanan mulai dari integrasi dengan ekosistem pesisir seperti mangrove hingga penggunaan pakan dengan bahan baku yang menghasilkan jejak karbon lebih rendah.
Hadir secara online melalui Zoom, Stephanie Horn, COO Blue Food Performance, memaparkan hasil riset mengenai nilai gizi tilapia, termasuk kandungan omega-3 dan vitamin D yang cukup tinggi, serta perbandingan jejak karbon antar sistem budidaya—di mana sistem polikultur tercatat memiliki jejak karbon paling rendah.
Baca juga:
1. Orkestrasi Tilapianomic: Menjemput fajar baru akuakultur nusantara
2. Tilapia Conference 2026 soroti masa depan budidaya nila Indonesia
3. Budidaya ikan di KJA: Mencari titik temu antara keuntungan dan kelestarian
Pembagian fokus pasar
Forum ini juga turut menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi industri di tingkat hulu, antara lain ketersediaan benih unggul, regulasi tata ruang budidaya yang belum harmonis antar daerah, optimalisasi serapan produk perikanan dalam program pemerintah, serta kesiapan sertifikasi halal menjelang penerapan wajib pada Oktober 2026.
Menjelang akhir acara, Titik Mustikasari, Direktur Utama PT Perikanan Indonesia (Perindo), turut hadir dan memperkenalkan rencana Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk komoditas tilapia yang akan dikembangkan oleh Perindo. Dalam paparannya, Titik menyampaikan bahwa pihaknya masih dalam tahap kajian kelayakan dan secara terbuka meminta masukan serta dukungan dari asosiasi dan para pelaku industri tilapia.

Titik Mustikasari (kanan), Direktur Utama PT Perikanan Indonesia, saat berdiskusi dengan para pelaku usaha bubdidaya ikan nila di Bandung. ©Asep Bulkini
Menanggapi hal tersebut, Sekjen ATI, Pandu Meilaka, berpesan agar Perindo atau pemerintah tidak mengambil segmen pasar lokal yang sudah diisi oleh para pembudidaya,karena pasar domestik saat ini cenderung mengalami kelebihan pasokan. Sebaliknya, Pandu mendorong proyek pemerintah dapat langsung dikhususkan untuk pasar ekspor yang peluangnya masih terbuka lebar.
Sebagai bagian dari penguatan kelembagaan, ATI juga melantik Dewan Pengurus Cabang (DPC) ATI Bandung Raya Jawa Barat periode 2026–2031 dalam rangkaian acara yang sama.

Pengukuhan pengurus DPC ATI Bandung Raya periode 2026-2031. ©Asep Bulkini
Melalui kolaborasi ini, USSEC dan ATI berharap dapat terus memfasilitasi pertukaran wawasan dan membangun sinergi antar pemangku kepentingan, termasuk dengan BUMN, guna mendorong daya saing industri tilapia Indonesia di pasar domestik maupun internasional.
***
Editor: Asep Bulkini




