Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan (FPIK) Universitas Muslim Indonesia (UMI) memperingati milad ke-39 dengan menggelar Sekolah Lapangan Tambak di Laboratorium Lapangan Tambak UMI, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, Sabtu (13/6).
Kegiatan ini menjadi bagian dari realisasi Kampus Berdampak, yakni upaya perguruan tinggi untuk hadir langsung memberikan solusi bagi masyarakat, khususnya petambak tradisional yang menjadi salah satu tulang punggung ekonomi pesisir.
Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Dekan FPIK UMI, Prof. Hj. Hasnidar; Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI), Prof. Andi Tamsil; praktisi budidaya, Muhammad Saenong; Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan; Anggota DPRD Pangkep, Luthfi; penyuluh perikanan lapangan (PPL) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Direktur Pemasaran PT Esaputlii, Ismet; General Manager PT Bomar Marinusa, Jeremi; serta para petambak dan stakeholder lokal dari sektor pertambakan.
Dalam sambutannya, Prof. Hasnidar menegaskan bahwa Milad ke-39 bukan sekadar seremoni, tetapi momentum untuk memperkuat kontribusi nyata kampus bagi masyarakat. “Melalui Sekolah Lapangan Tambak ini, kami ingin memastikan ilmu dari kampus benar-benar sampai dan bermanfaat di tengah masyarakat. Inilah wujud Kampus Berdampak yang sesungguhnya,” ujar Hasnidar.
Ia menambahkan bahwa FPIK UMI berkomitmen menjadikan laboratorium lapangan tambak sebagai ruang belajar bersama antara akademisi, petambak, dan dunia industri untuk memperkuat inovasi budidaya yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Sebagai pembicara utama, Prof. Andi Tamsil menekankan pentingnya transfer teknologi kepada petambak tradisional agar usaha budidaya semakin maju dan mandiri. Menurutnya, pendampingan harus dilakukan secara berkelanjutan agar petambak tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi juga mampu menerapkannya di lapangan.
“Transfer teknologi harus benar-benar menyentuh petambak. Kalau teknologi budidaya, manajemen tambak, dan pola kerja yang baik diterapkan dengan benar, maka peluang panen berhasil akan jauh lebih besar,” kata Andi.

Ketua Umum Shrimp Club Indonesia (SCI) Prof. Andi Tamsil
Ia juga menilai kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, penyuluh, dan petambak merupakan kunci untuk mendorong kemandirian pangan dari sektor perikanan budidaya.
Baca juga:
1. SCI dorong kekompakan dalam benahi tata kelola industri udang
2. CRFSS dorong ketahanan iklim petambak udang di Lombok dan Sumbawa
3. Bagus saja tidak cukup, manajemen tambak harus konsisten dengan pendekatan ekosistem
Sementara itu, Muhammad Saenong, memberikan materi teknis mulai dari pemilihan benur, persiapan kolam tanah, pengelolaan kualitas air, hingga tahapan panen. Ia menekankan pentingnya praktik budidaya yang aman bagi lingkungan dan konsumen.
“Petambak perlu lebih hati-hati dalam menggunakan bahan kimia. Kolam tidak perlu memakai disinfektan secara sembarangan, karena bisa berdampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Budidaya yang baik adalah budidaya yang sehat, aman, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan menyampaikan apresiasi atas inisiatif FPIK UMI yang dinilai mampu menjembatani kebutuhan petambak dengan perkembangan teknologi budidaya. Ia menilai kegiatan seperti ini sangat penting untuk mempercepat peningkatan kapasitas petambak di daerah.
Dukungan juga datang dari Anggota DPRD Pangkep, Luthfi, yang menyebut Sekolah Lapangan Tambak sebagai bentuk kolaborasi yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. “Petambak kita butuh pendampingan, butuh ilmu, dan butuh akses teknologi. Karena itu kegiatan seperti ini sangat penting untuk terus dilanjutkan,” ungkapnya.
Dari sektor industri, Ismet dari PT Esaputlii menegaskan bahwa keberhasilan industri perikanan sangat bergantung pada keberhasilan petambak sebagai produsen utama. Sementara itu, Jeremi dari PT Bomar Marinusa menyatakan kesiapan dunia usaha untuk terus bersinergi dalam penguatan budidaya udang yang modern, efisien, dan berdaya saing.
Kegiatan Sekolah Lapangan Tambak ini juga mendapat sambutan antusias dari para petambak tradisional, pekerja tambak, penyuluh, dan stakeholder lokal yang hadir mengikuti sesi materi dan diskusi teknis.

Melalui Milad ke-39 FPIK UMI ini, kampus menegaskan langkahnya untuk terus hadir di tengah masyarakat melalui pendidikan, riset, dan pengabdian yang memberi dampak nyata, terutama bagi penguatan sektor perikanan budidaya di Sulawesi Selatan.
***



