Terdapat setidaknya 250 peserta dari petambak udang dan penyuluh perikanan di empat wilayah di Nusa Tenggara Barat mengikuti kegiatan Climate Resilience Farmers Field School (CRFSS), yang diselenggarakan sepanjang April 2026, sebagai bagian dari kemitraan antara Crustea dan su-re.co. Program ini menjadi langkah awal dalam memperkuat ketahanan iklim sektor budidaya udang melalui pelatihan, demonstrasi teknologi cerdas iklim, hingga persiapan investasi dan ekspansi pasar teknologi ramah lingkungan.
Kegiatan dilaksanakan secara hybrid, menggabungkan pelatihan tatap muka dan sesi daring melalui Zoom, dengan waktu pelaksanaan mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WITA di Jerowaru dan Sambelia di Lombok Timur, serta Utan dan Empang di Sumbawa.
Meningkatkan Kesadaran Ketahanan Iklim di Sektor Tambak
Program CRFSS hadir untuk menjawab tantangan besar yang dihadapi sektor budidaya perikanan akibat perubahan iklim. Melalui pelatihan ini, para peserta diperkenalkan pada konsep budidaya yang lebih adaptif, efisien energi, dan berkelanjutan.
Dalam dokumen kerja sama pelatihan disebutkan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan praktis pembudidaya ikan dan udang dalam pengelolaan kolam budidaya yang berkelanjutan, adaptif terhadap perubahan iklim, dan ramah lingkungan.
Selain membangun kesadaran tentang ketahanan iklim, program ini juga dirancang untuk:
- mendorong kesiapan investasi (investment readiness),
- memperkenalkan intervensi teknologi cerdas iklim,
- melakukan riset pasar terkait pembiayaan dan adopsi teknologi,
- serta memperluas pasar teknologi akuakultur berkelanjutan.

Sesi diskusi teknologi aerator hemat energi Crustea bersama petambak udang dan penyuluh perikanan dalam pelatihan Climate Resilience Farmers Field School (CRFSS).
Demonstrasi Teknologi Cerdas Iklim
Salah satu fokus utama kegiatan adalah demonstrasi teknologi dari Crustea yang dirancang untuk mendukung efisiensi energi dan pengelolaan kualitas air tambak.
Teknologi yang diperkenalkan meliputi:
- panel surya untuk operasional tambak,
- mini aerator hemat energi,
- sensor kualitas air berbasis IoT EBII,
- serta sistem smart energy untuk mendukung operasional tambak yang lebih efisien dan rendah emisi.
Dalam lampiran proyek kemitraan dijelaskan bahwa Crustea menghadirkan Eco-Aerator bertenaga surya yang terintegrasi dengan sistem pemantauan kualitas air berbasis IoT, sementara su-re.co berperan dalam pendampingan petambak dan penguatan kapasitas kelembagaan di tingkat tapak.
Selain sesi pelatihan, kegiatan juga dimanfaatkan sebagai focus group discussion (FGD) untuk memahami kebutuhan petambak terkait teknologi, akses pembiayaan, dan tingkat willingness to pay terhadap solusi budidaya cerdas iklim.

Peragaan aerator cerdas iklim Crustea kepada petambak udang
Menuju Pilot Project di Lombok Timur dan Sumbawa
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan CRFSS, akan dilakukan implementasi teknologi terpilih di dua lokasi pilot project, masing-masing satu lokasi di Lombok Timur dan satu lokasi di Sumbawa. Implementasi dijadwalkan berlangsung pada akhir Mei 2026.
Pilot project ini diharapkan menjadi bentuk kehadiran fisik teknologi Crustea di lapangan sehingga petambak dapat melihat langsung penerapan teknologi cerdas iklim di tambak budidaya. Selain menjadi sarana demonstrasi dan market outreach, lokasi pilot juga akan menjadi tempat evaluasi dampak teknologi terhadap efisiensi operasional dan produktivitas tambak.
Melalui pendekatan kolaboratif antara teknologi, pendampingan lapangan, dan penguatan kapasitas petambak, program CRFSS diharapkan mampu mempercepat transformasi sektor budidaya perikanan menuju praktik yang lebih tangguh iklim, efisien, dan berkelanjutan di Indonesia.
***
ADV.




