Produk olahan lele asal Bandung, Jawa Barat, mulai membuka peluang baru di pasar internasional. Lele marinasi beku produksi PT Asha Nuova International berhasil dikirim ke Taiwan dalam ekspor perdana sebanyak 10,5 ton dengan nilai sekitar Rp400 juta.

Pengiriman perdana tersebut berlangsung di Pergudangan Ketapang, Kabupaten Bandung, pada Kamis (6/8). Produk ini menjadi salah satu contoh bagaimana komoditas air tawar yang selama ini lebih banyak dipasarkan untuk konsumsi domestik mulai memiliki peluang untuk masuk ke pasar ekspor dalam bentuk produk bernilai tambah.

Plt. Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (Badan Mutu KKP), Ishartini, mengatakan keberhasilan produk tersebut memasuki pasar Taiwan tidak terlepas dari penerapan jaminan mutu sepanjang rantai produksi, mulai dari hulu hingga hilir.

“Komoditas lele Indonesia saat ini telah masuk dalam skema sertifikasi CBIB (Cara Budidaya Ikan yang Baik), CPIB (Cara Penangkapan Ikan yang Baik) untuk hulu maupun SKP (Sertifikasi Kelayakan Pengolahan) dan HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point) untuk hilir sehingga otoritas kompeten di tempat atau negara tujuan ekspor mengakui kualitasnya dan memberikan approval masuk pasar mereka,” ungkap Ishartini dalam keterangan resminya di Jakarta (8/8).

Pemenuhan standar tersebut menjadi bagian penting bagi produk perikanan Indonesia untuk bersaing di pasar global. Bagi produk olahan seperti lele marinasi, konsistensi kualitas, keamanan pangan, dan pemenuhan persyaratan negara tujuan menjadi faktor yang menentukan akses pasar.

Nano Disinfektan Tambak Udang

Lele marinasi juga mulai menunjukkan potensi sebagai produk perikanan Indonesia yang diminati pasar global, mengikuti jejak ikan nila yang lebih dahulu dikenal di pasar ekspor.

Ekspor perdana ke Taiwan tersebut merupakan pengiriman batch pertama. Untuk pengiriman berikutnya, volumenya direncanakan meningkat menjadi 20 ton. “Sudah dijadwalkan pada bulan depan (September 2026) menyusul produk dari ikan nila,” tutur Ishartini.

Masuknya lele marinasi ke Taiwan juga memperlihatkan peluang pengembangan produk perikanan air tawar melalui pengolahan. Alih-alih hanya menjual ikan dalam bentuk segar atau beku, pengolahan menjadi produk marinasi memberikan nilai tambah sekaligus membuka akses ke segmen pasar yang lebih luas.

Baca juga:
1. Strategi hemat listrik dan cegah parasit pada budidaya lele bioflok
2. Pasar global ikan nila berubah, apa peluang dan tantangan barunya?
3. Indonesia berhasil hapus hambatan ekspor rajungan ke pasar AS

Dari sisi produksi, penguatan rantai pasok menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keberlanjutan ekspor. Unit Pengolahan Ikan (UPI) yang telah memiliki sertifikasi mutu dapat berperan sebagai mitra penampung produk dari pelaku UMKM perikanan, sehingga produk dari pembudidaya dan usaha kecil memiliki jalur yang lebih jelas menuju pasar yang lebih besar.

Kepala UPT Badan Mutu KKP Bandung, Darwin Syah Putra, mengatakan upaya meningkatkan volume dan nilai ekspor produk perikanan Jawa Barat terus dilakukan, termasuk dengan memperkuat keterhubungan antara sektor hulu dan industri pengolahan.

Program kampung budidaya tematik yang dikembangkan di tingkat hulu juga diyakini dapat mendukung ketersediaan bahan baku bagi industri pengolahan.

Sepanjang 2025, ekspor produk perikanan dari Jawa Barat tercatat mencapai 1.800 ton dengan nilai sekitar Rp42 miliar. Produk yang diekspor cukup beragam, mulai dari layur, cumi, tenggiri, sumpia udang, sotong, cunang, hingga ikan nila.

“Kehadiran UPT kami di Jawa Barat terbukti mampu mengawal komoditas perikanan Jawa Barat mendunia dengan komoditas unggulan layur, cumi, tenggiri, sumpia udang, sotong, cunang, ikan nila dan sekarang tambah lele. Tujuan ekspornya ke Hongkong, Filipina, Kanada, Brunei, Jepang, Korea, Timor Leste, Amerika Serikat, Singapura, Malaysia dan Tiongkok, lalu sekarang Taiwan,” pungkasnya.

Dengan bertambahnya lele sebagai komoditas ekspor, peluang pengembangan produk perikanan air tawar Indonesia tidak lagi terbatas pada penjualan ikan sebagai bahan baku. Produk olahan dengan standar mutu dan karakteristik yang sesuai kebutuhan konsumen berpotensi menjadi jalan untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas sekaligus memperluas pasar bagi pelaku usaha perikanan.

***
Foto Utama: ©KKP