Baru-baru ini, perusahaan global di bidang konsultansi manajamen McKinsey merilis sebuah artikel hasil riset terbaru mereka mengenai masa depan industri seafood di dunia. Seiring dengan permintaan akan produk hasil perikanan yang terus meningkat, McKinsey menyebut bahwa industri produksi perikanannya pun akan turut meningkat. Hingga 2030, pertumbuhan industri perikanan diprediksi akan meningkat 14 persen dibanding tahun 2020.

Namun permintaan akan sumber protein berbasis perikanan di masa depan diprediksi tak akan mampu terpenuhi dengan pola produksi saat ini, yakni dari penangkapan dan budidaya. Sebab produksi dari sektor penangkapan cenderung sudah stagnan, yang bahkan 85 persen produsen perikanan tangkap global sudah hampir mencapai batas maksimal produksinya. 

Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memperkirakan produksi perikanan secara global akan mencapai 203 juta ton pada tahun 2031 nanti. Lebih dari setengah dari volume tersebut, atau sekitar 108 juta ton, akan berasal dari hasil budidaya. Produksi dari sektor akuakultur diprediksi akan menyalip sektor penangkapan di tahun 2024. Selain karena tren produksi penangkapan yang sudah cenderung menurun, peningkatan produksi budidaya juga didukung oleh perkembangan inovasi teknologi produksi yang semakin membaik. 

Produksi seafood global

Namun meski produksi seafood di masa depan akan naik karena didukung hasil produksi sektor budidaya, menurut McKinsey, volumenya tidak akan mencukupi. Sehingga diperlukan solusi lain untuk memenuhi permintaan tersebut. Dalam hal ini, McKinsey menekankan pada potensi pengembangan alternatif produk seafood yang tidak berasal dari hasil penangkapan maupun budidaya. Melainkan produk artifisial atau buatan menyerupai produk-produk seafood.

McKinsey menyebut bahwa alternatif produk, yang cara produksinya jauh berbeda dengan seafood aslinya ini, memang masih sangat prematur. Tetapi mereka menilai potensinya sangat besar. Terutama pada produk-produk alternatif berbasis nabati (plant-based), hasil fermentasi (fermentation-enabled), dan hasil kultur (cultivated meat). Selain untuk menyiasati isu supply, produk alternatfi ini juga diklaim bisa mengatasi beberapa masalah lain seperti keberlanjutan lingkungan dan aspek keamanan pangan. 

Produk-produk alternatif seafood

Dalam artikel tersebut, McKinsey merangkum tiga produk alternatif seafood yang sedang dan berpotensi dikembangkan di masa depan. 

Pertama adalah plant-based atau produk alterntaif seafood berbasis nabati. Seafood artifisial ini sudah mulai dikembangkan dengan menggunakan bahan-bahan seperti kedelai, rumput laut, ragi, kacang-kacangan, hingga minyak nabati dan pati. Produk seafood plant-based ini bahkan sudah masuk pasar di beberapa negara sebagai alternatif daging ikan tuna, salmon, caviar, scallops, cumi-cumi, kepiting, dan udang. 

Alternatif pertama ini cenderung mudah masuk pasar karena bahan bakunya sudah umum digunakan untuk makanan dan ivestasinya dinilai relatif lebih rendah. Tantangannya hanya pada nama dan label produk agar tidak terkesan mengelabui konsumen. Sebab secara biologis, produk-produk ini berbeda dari protein (seafood) yang ditirunya. Menurut McKinsey, produk-produk tersebut hanya dirancang agar terlihat dan terasa seperti makanan laut tetapi berbeda pada tingkat molekuler.

Kedua adalah produk fermentasi (fermentation-enabled) yang potensial dikembangkan dengan 3 metode. Antara lain fermentasi tradisional dengan menggunakan bahan baku nabati dan mikroorganisme tertentu; fermentasi bimoassa yang menggunakan alga atau fungi dengan mikroorganisme yang dapat tumbuh secara cepat; dan fermentasi presisi yang menggunakan mikroba sebagai pabrik sel untuk menghasilkan bahan tertentu, seperti enzim, vitamin, dan pigmen alami.

Alternatif ketiga adalah (cultivated meat) seafood. Produk ini dibuat dengan cara mengkultur sel asli dari beberapa spesies ikan seperti salmon, tuna, udang, kepiting, hingga kerang-kerangan dengan menggunakan bioreaktor dan menggunakan rak atau wadah yang dibentuk menyerupai tekstur daging aslinya. Produk ini sudah mulai dikembangkan di beberapa negara. Namun demikian tetap menunggu lolos dari aspek regulasi dan sertifikasi, karena prosesnya yang menggunakan teknologi baru di industri makanan. 

Potensi alternatif produk seafood

Tantangan pengembangan produk alternatif seafood

Meski produk-produk tersebut potensial dikembangkan hingga memenuhi skala marketnya, McKinsey juga mengelaborasi tantangan dan keunggulan yang dimilikinya. Berikut beberapa tantangan dan bagaimana cara menyiasatinya.

Harga merupakan tantangan utama produk alternatif seafood. McKinsey menggarisbawahi bahwa produk harus dibanderol dengan harga yang paling komparatif dengan harga ikan atau udang asli yang beredar di pasar saat ini. Namun sebetulnya, produsen produk alternatif seafood bisa menghadapi tantangan ini karena beberapa spesies seafood populer cenderung memiliki harga yang sangat tinggi. Misalnya seperti blue fin tuna yang harga premium-super premiumnya mencapai USD 40 – 200 USD per pound. Jauh dari harga daging sapi yang hanya USD 4,9 saja per pound. 

Penerimaan oleh konsumen juga jadi tantangan. Selain tentunya konsumen akan berharap dengan kualitas alternatif seafood yang lebih baik dari seafood asli, aspek sosial-budidaya juga akan sangat memengaruhi. Beberapa kelompok konsumen tertentu misalnya, mungkin akan sulit untuk mengganti lobster asli dengan daging lobster buatan. Pun konsumen sushi yang akan sulit menerima sushi berbahan ikan artifisial. Tantangan ini diperberat dengan banyaknya spesies seafood, yang semuanya memiliki karakter daging yang berbeda. Misalnya antara ikan berdaging putih, sidat, hingga kepiting. 

Meski demikian, McKinsey juga menganalisa ada beberapa keunggulan dari produk alternatif seafood ini. Antara lain bisa diproduksi secara lokal berdekatan dengan lokasi marketnya. Hal ini bisa mengurangi biaya sekaligus jejak karbon akibat proses transporrtasi. Pada tingkat retail misalnya, jejak karbon yang dihasilkan bisa hanya 0,8 – 0,9 kgCO2 saja per kg dagingnya. Di sisi lain, isu keamanan pangan yang kerap merusak citra seafood seperti kandungan mercury, juga bisa dihindari.

Keunggulan lainnya yang teramati oleh McKinsey adalah tak bergantungnya pada perizinan produksi on-farm. Saat ini, perizinan untuk poduksi hasil laut seperti salmon atau ikan cod akan sulit didapat karena pasokannya di alam yang semakin terbatas. Sementara produksi seafood alternatif diklaim tak memerlukan perizinan itu. 

Kesimpulan

Menurut para peneliti McKinsey yang terdiri dari Tom Brennan, Anders Milde Gjendemsjø, dan  Casey Silver, meski peluang produk alternatif seafood ini cukup besar, tetapi perkerjaan rumahnya adalah perlu mengidentifikasi target konsumen utama dan mengembangkan nilai produk yang sesuai dengan nilai-nilai yang dimiliki konsumen. Antara lain seperti aspek keamanan pangan dan kesehatan, aspek keberlanjutan, hingga aspek kualitasnya. 

Temukan laporan lengkapnya di laman McKinsey.
***

Foto utama: Canva