Perkembangan teknologi bioflok untuk budidaya ikan lele bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutannya. Bioflok adalah sistem budidaya ikan yang menggunakan prinsip pengolahan air secara biologis dengan bantuan mikroorganisme seperti bakteri. Sistem ini dapat meningkatkan produktivitas budidaya lele melalui optimalisasi kualitas air, menyediakan nutrisi tambahan untuk ikan, hingga mengurangi risiko penyakit.

Cara kerja sistem bioflok yaitu dengan mengelola limbah organik, dari pakan yang tidak terkonsumsi dan kotoran ikan, dengan membentuk “flok” yang distimulus menggunakan bakteri probiotik, dapat menjadi makanan tambahan untuk lele. Bakteri-bakteri ini akan membentuk konsorsium dan membentuk flok yang terdiri atas empat komponen, antara lain sumber karbon, bahan organik dari sisa pakan maupun kotoran ikan, bakteri pengurai, dan ketersediaan oksigen dalam air. Proses ini dapat mengurangi dampak lingkungan yang buruk dari budidaya lele.

Namun di sisi lain, budidaya ikan lele tentunya memiliki kendala dan permasalahan seperti munculnya penyakit ikan yang mematikan, yang bisa menyebabkan gagal panen. Salah satu patogen yang sering ditemukan pada ikan lele adalah infeksi ektoparasit. Ektoparasit yang menginfeksi ikan lele (Clarias sp) dapat ditemukan pada insang, lendir, maupun sirip. Menurut Kolia et. al. (2021), prevalensi ektoparasit umumnya dipengaruhi oleh faktor biotik dan abiotik di perairan lingkungan. Prevalensi adalah jumlah ikan yang terserang penyakit dibandingkan jumlah total ikan dalam satu populasi yang dinyatakan dalam persentase (Permen KP No. 13 Tahun 2019).

Hasil riset melaporkan bahwa prevalensi ektoparasit pada budidaya ikan berbeda di setiap tempat. Di Nigeria terjadi 33,3 – 84,8%, Tanzania terjadi 4,7 – 20,9%, dan Kenya terjadi 3,3 – 31%. Sementara di Indonesia, kejadian prevalensi ektoparasit pada ikan (nila) bisa sampai di angka 90,4%. Meningkatnya masalah perubahan iklim menambah kekhawatiran terjadinya peningkatan prevalensi ektoparasit di masa depan, sehingga dapat mengakibatkan penurunan produktivitas sektor budidaya perikanan.

Baca juga: Guru besar Unpad kembangkan lele mutiara transgenik

Manfaat DO rendah pada budidaya lele bioflok

Faktor utama keberhasilan budidaya ikan lele sistem bioflok salah satunya adalah pengelolaan kualitas air yang ideal, antara lain seperti pH air 7,5-8, suhu 27-30 °C, tingkat kecerahan air 20-30 cm, dan DO 0,7 – 1,8 ppm.

Penerapan bioflok dalam budidaya ikan seringkali dikaitkan dengan penggunaan aerator. Aerator adalah alat yang digunakan untuk meningkatkan nilai oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO) dalam air. Selain itu, aerator pada bioflok juga berfungsi menjaga sirkulasi yang cukup agar menurunkan kandungan nitrit dalam air. Penggunaan aerator tentu saja membutuhkan listrik yang cukup besar, karena seringkali pompa blower selalu dalam kondisi hidup selama 24 jam. Hal ini tak ayal bisa meningkatkan biaya listrik.

Dalam sebuah acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Sistem Bioflok Lele yang dilaksanakan KKP bersama Komisi IV DPR RI di Lampung Utara beberapa waktu lalu, Suratno M.Si dari Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam menyampaikan bahwa nilai oksigen terlarut pada budidaya ikan lele idealnya tidak perlu besar, yakni kurang dari 2 ppm saja. Karena jika lebih dari 2 ppm akan berisiko terjadi serangan ektoparasit yang mengakibatkan kematian ikan. Ideal oksigen terlarut pada bioflok lele yaitu 0,7-1,8 ppm.

Suratno M.Si saat menjadi pemateri di acara Temu Lapang Pembudidaya Ikan di Lampung Utara (10/8/2023). © BPBAT Sungai Gelam

Di sisi lain, selain menggunakan aerasi, percikan hujan langsung dan fotosintesis fitoplankton juga dapat meningkatkan oksigen terlarut. Sehingga hal tersebut bisa menjadi alternatif untuk merekayasa durasi aerasi.

Suratno memperkuat pendapatnya dengan membandingkan hasil penelitiannya antara sistem bioflok lele dengan aerasi non-stop 24 jam/hari, aerasi yang hanya diberikan beberapa jam saja setiap harinya (6, 12, dan 18 jam/hari), dan tanpa aerasi sama sekali. 

Ia mengatakan bahwa durasi aerasi pada pemeliharaan bioflok lele (Clarias sp) dapat dijadikan sebagai salah satu indikator adanya infeksi ektoparasit di tubuh ikan, karena pada umumnya protozoa bersifat aerob obligat. Mikroorganisme aerob dapat melakukan metabolisme dengan bantuan oksigen. Pada saat kondisi hipoksia (kekurangan oksigen), pertumbuhan mikroorganisme aerob akan terhambat. Fakta ini bisa dijadikan acuan untuk menyiasati penggunaan aerasi pada sistem bioflok. Sementara kondisi tersebut tidak masalah bagi ikan lele karena dia dapat tumbuh baik pada kondisi lingkungan hipoksia.

Baca juga: Peluang dan tantangan industri patin Indonesia (Part 1) 

Salah satu hasil riset yang disimpulkan oleh Suratno adalah adanya korelasi kuat antara DO dengan ektoparasit, yakni 0,828. Artinya semakin tinggi kadar oksigen maka semakin tinggi intensitas serangan ektoparasit. Pada bak bioflok yang memiliki DO di atas 2 ppm, misalnya, prevalensi penyakit ektoparasitnya mencapai 79,6-93,5% dengan tingkat ketahanan hidup atau survival rate (SR) hanya 23-38%. Dominasi ektoparasit yang menginfeksi yaitu Trichodina sp. sebesar 71,7-100% dan Dactylogyrus sp. sebesar 0-28,4%.

Hasil sebaliknya, pada bak bioflok yang memiliki DO < 2 ppm, nilai prevalensinya cukup rendah sekitar 3,3-7,8%. Sehingga ketahanan hidup lele pun menjadi lebih tinggi mencapai 76-84%.

Pada Bimtek tersebut, Suratno menyimpulkan bahwa aerasi 6 jam/hari merupakan durasi paling ideal untuk menjaga DO pada nilai 1,5 ppm. Kondisi tersebut menghasilkan rata-rata prevalensi ektoparasit 0% dan nilai SR ikan sekitar 84%.

Kesimpulan

Konsep kerangka berfikir yang dibawakan Suratno yaitu pada umumnya protozoa bersifat aerob obligat. Sehingga dengan pemberian aerasi berlebih dapat menciptakan kondisi lingkungan aerob yang akhirnya dapat memicu perkembangan dan infeksi ektoparasit pada ikan budidaya. Di sisi lain, lele justru bisa bertahan dengan baik pada DO rendah. Konsep ini menghasilkan alternatif strategi budidaya lele sistem bioflok dengan menekan nilai DO melalui pengurangan durasi aerasi. 

Dalam perspektif yang lebih luas, pengurangan durasi aerasi juga bisa mengurangi penggunaan energi. Hal itu juga bisa membantu mengurangi ketergantungan pada sumber daya alam yang terbatas seperti batu bara dan minyak bumi. Sehingga dapat membantu melestarikan habitat alam dan mencegah kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh eksploitasi sumber daya alam yang berlebih

***

Penulis: Oki Setiawan
Editor: Asep Bulkini