Hari terakhir Global Shrimp Forum (GSF) 2026 di Utrecht, Belanda, tetap diwarnai diskusi mengenai sejumlah isu strategis yang menentukan arah industri udang global ke depan. Mulai dari peluang investasi di Ekuador, tantangan responsible sourcing, pentingnya membangun merek (branding), hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam bisnis udang.

Rangkaian diskusi ditutup dengan sesi pleno yang membahas bagaimana industri dapat meningkatkan efisiensi sekaligus mendorong pertumbuhan konsumsi udang di tengah ketidakpastian pasar global.

Ekuador dinilai masih memiliki ruang besar untuk investasi

Salah satu agenda utama hari terakhir adalah Finance & Investment Summit, yang secara khusus membahas prospek investasi di industri udang di Ekuador.

Dalam beberapa tahun terakhir, Ekuador berkembang menjadi salah satu pemain sukses terbesar di industri udang. Namun, investasi di sektor tersebut justru masih dinilai relatif terbatas, terfragmentasi, dan belum banyak dipahami oleh para investor global.

Forum ini mempertemukan produsen, pengolah, penyedia teknologi, perusahaan genetika, hingga investor untuk melihat lebih jauh seberapa menarik industri udang Ekuador sebagai tujuan investasi, ke mana modal saat ini mengalir, serta sektor mana yang membutuhkan investasi lebih besar ke depan.

Nano Disinfektan Tambak Udang

Dalam diskusi tersebut, industri udang Ekuador kerap dibandingkan dengan industri salmon Norwegia. Meski perusahaan salmon Norwegia saat ini memiliki skala dan tingkat konsolidasi yang lebih besar, pertumbuhan udang Ekuador dinilai jauh lebih cepat.

Ekspor udang Ekuador bahkan tercatat meningkat rata-rata dua kali lipat setiap lima tahun, selama 15 tahun terakhir. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh penggunaan genetika yang lebih tahan penyakit, sistem budidaya dengan kepadatan lebih rendah, adopsi teknologi, integrasi vertikal, serta budaya berkelanjutan.

Perkembangan tersebut memungkinkan produksi terus meningkat sekaligus menekan penggunaan antibiotik dan meningkatkan ketahanan industri terhadap berbagai tantangan.

Para pelaku industri menilai Ekuador masih memiliki ruang ekspansi yang cukup besar. Hanya saja sebagian dari area yang sesuai untuk produksi telah banyak digunakan. Sementara kemajuan dalam genetika, teknologi pakan, AI, dan otomasi terus membuka peluang peningkatan produktivitas.

Namun, forum menilai persaingan udang ke depan tidak lagi dinilai sebatas antarnegara produsen saja, melainkan persaingan dengan sumber protein lain seperti ayam, daging sapi, dan salmon.

Karena itu, pertumbuhan industri tidak cukup hanya dilakukan dengan meningkatkan produksi. Industri juga perlu memperkuat pengolahan bernilai tambah, inovasi produk, serta mendorong konsumsi udang secara global.

Ketenagakerjaan yang bertanggungjawab

Isu keberlanjutan juga menjadi perhatian dalam sesi Responsible Sourcing Summit. Para panelis menilai bahwa upaya meningkatkan kondisi tenaga kerja dan perlindungan hak asasi manusia di sepanjang rantai pasok perlu bergerak lebih jauh dari hanya kepatuhan administratif dan audit saja.

Audit dinilai hanya memberikan gambaran kondisi pada satu waktu tertentu, sementara standar sertifikasi juga memiliki tingkat keketatan yang berbeda. Karena itu, ketika ditemukan ketidaksesuaian, pendekatan berupa perbaikan dan pendampingan dinilai lebih efektif dibandingkan sekadar memberikan sanksi.

Kolaborasi yang lebih kuat serta pemahaman yang lebih mendalam terhadap kondisi pekerja di tingkat awal rantai pasok menjadi kunci untuk menghasilkan perubahan yang nyata dan bertahan dalam jangka panjang.

Keluar dari jebakan komoditas

Tantangan lain yang mengemuka adalah bagaimana industri udang perlu keluar dari hanya sekedar komoditas menjadi sebuat merek yang kuat.

Sesi “Breaking the Commodity Trap with Blockbuster Brands” membahas apakah industri udang memang terjebak dalam pola bisnis komoditas. Hasil survei konsumen yang dilakukan bersama Circana memperkuat pandangan bahwa industri udang memang masih menghadapi persoalan tersebut.

Salah satu pembicara utama, Henk Jan Beltman, membagikan pengalamannya membangun Tony’s Chocolonely dari awal hingga menjadi salah satu merek cokelat yang dikenal luas. Menurutnya, keberhasilan membangun merek bertumpu pada tiga hal utama: autentisitas, passion, dan kreativitas. Membangun merek, katanya, tidak selalu membutuhkan anggaran besar, tetapi membutuhkan keberanian untuk berpikir kreatif.

Diskusi kemudian menghadirkan sejumlah merek dari sektor seafood, antara lain Varlaks, Fish Tales, dan Naughty Prawns. Mereka membahas tantangan membangun merek di industri seafood yang belum memiliki banyak pemain dengan tingkat pengenalan merek seperti yang ditemukan di industri cokelat.

Pesan yang muncul cukup jelas: industri udang perlu lebih berani membangun identitas dan menawarkan produk yang memiliki nilai lebih bagi konsumen.

Optimasi AI

GSF 2026 kemudian ditutup dengan pembahasan mengenai teknologi yang semakin sulit dipisahkan dari masa depan industri, yaitu artificial intelligence (AI).

Remy Gielings, co-founder The AI Group dan The Automation Group, dalam sesi keynote mendorong pelaku industri untuk melihat AI bukan sekadar sebagai alat percakapan atau chatbot, tetapi sebagai sistem yang dapat membantu menjalankan berbagai tugas melalui jaringan agen AI.

Menurutnya, perkembangan AI akan mengubah cara pekerjaan dilakukan. Pekerjaan tidak selalu hilang, tetapi proses di balik pekerjaan tersebut akan berubah. Potensinya cukup luas bagi industri udang, mulai dari fasilitas produksi hingga pekerjaan administratif. Di GSF, sejumlah perusahaan juga mempresentasikan penerapan AI yang telah digunakan dalam perdagangan seafood dan sistem produksi.

PatternLab.ai, misalnya, mengembangkan solusi AI untuk membantu mengelola kompleksitas penjadwalan produksi. Sementara SolarPunk memperkenalkan platform AI untuk perdagangan seafood dan produk yang mudah rusak.

Penerapan AI juga mulai dilakukan oleh perusahaan besar. Skretting disebut telah mengembangkan dan menerapkan sekitar 3.000 aplikasi AI sepanjang tahun ini, dengan sekitar 50 di antaranya dinilai memiliki potensi untuk diterapkan secara global.

Di Avanti Group, agen AI juga mulai digunakan untuk membantu pekerjaan administratif. Bagi perusahaan yang baru memulai, pendekatan bertahap dinilai menjadi pilihan yang lebih realistis: memulai dari kebutuhan sederhana, kemudian meningkatkan kompleksitas secara perlahan.

Konsumsi tetap jadi tantangan utama

Sebagai penutup, Angel Rubio memberikan gambaran mengenai perkembangan permintaan udang di Amerika Serikat.

Berbagai data menunjukkan bahwa konsumsi udang di pasar AS masih cenderung datar. Di sisi lain, harga yang dibayar konsumen berada pada level tertinggi dalam lebih dari satu dekade. Kondisi tersebut kembali menegaskan salah satu tantangan terbesar industri udang global: bagaimana meningkatkan konsumsi, bukan hanya produksi.

Dengan ketidakpastian yang kini menjadi bagian dari kondisi pasar global, industri udang dituntut untuk tidak hanya meningkatkan efisiensi dan produktivitas, tetapi juga menciptakan produk yang lebih menarik, membangun merek yang kuat, memanfaatkan teknologi, serta memperluas basis konsumen.

Pesan tersebut menjadi salah satu benang merah dalam penutupan GSF 2026: masa depan industri udang tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak udang yang dapat diproduksi, tetapi juga oleh kemampuan industri menciptakan nilai dan membuat lebih banyak konsumen memilih udang.

***