Hari kedua Global Shrimp Forum (GSF) 2026 di Utrecht, Belanda, membahas sejumlah isu strategis yang tengah dihadapi industri udang dunia, mulai dari dinamika perdagangan dan pasar, ketahanan rantai pasok, perkembangan industri di India, hingga keberlanjutan dan perubahan perilaku konsumen.

Agenda hari kedua juga diawali dengan kembalinya Women Who Lead Breakfast untuk tahun kedua. Kegiatan ini mempertemukan perempuan dari berbagai lini industri udang dalam diskusi kelompok yang membahas sejumlah isu, termasuk bagaimana menciptakan ruang yang lebih baik bagi pekerja perempuan, serta mengatasi unconscious bias.

Diskusi tersebut menekankan bahwa keberagaman peran dan kepemimpinan perempuan tidak cukup hanya dirayakan, tetapi perlu diterjemahkan menjadi lingkungan kerja yang mampu menampung dan memperkuat suara, kepemimpinan, dan pengaruh perempuan di industri ini.

Ekspor global masih kuat di tengah banyak tantangan

Sesi utama hari kedua dibuka dengan analisis dari Managing Director GSF, Willem van der Pijl, mengenai perkembangan ekspor dan impor udang secara global.

Ekuador dan India telah mencatatkan rekor ekspor pada 2025. Namun memasuki 2026, industri menghadapi sejumlah tantangan baru, termasuk ancaman El Niño yang mulai memberikan dampak terhadap harga pakan udang dan ketidakpastian terkait kebijakan tarif di India. Meski demikian, volume ekspor dari kedua negara tersebut masih menunjukkan kinerja yang kuat.

Nano Disinfektan Tambak Udang

Sementara di Asia Tenggara, perkembangan pasar terlihat lebih beragam. Ekspor udang dari Vietnam cenderung stagnan pada 2025, meski demikian tersebut perlu dibandingkan dengan pasar domestik yang besar namun sulit diukur.

Indonesia sendiri menghadapi tantangan yang lebih berat pada 2025. Kasus udang yang terkontaminasi radioaktif pada akhir tahun lalu menyebabkan ekspor turun tajam sejak Oktober dan berkontribusi secara signifikan terhadap penurunan ekspor.

Namun, industri udang Indonesia mampu beradaptasi. Setelah kejadian tersebut, pelaku usaha secara cepat melakukan diversifikasi pasar ekspor sebelum kembali menjadikan Amerika Serikat sebagai pasar utama, setelah persoalan tersebut selesai.

Impor AS turun, China justru mencatat pertumbuhan

Dari sisi impor, kondisi di sejumlah negara konsumen utama menunjukkan dinamika yang berbeda.

Di Amerika Serikat, kebijakan tarif yang agresif berkontribusi terhadap penurunan volume impor pada 2025 hingga kuartal pertama 2026. Namun, di tengah penurunan tersebut terdapat perkembangan menarik, salah satunya kenaikan impor udang kupas dari Ekuador sebesar 52%.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan China. Meski konsumsi udang domestiknya relatif stagnan, impor China meningkat hingga mencapai rekor pertumbuhan masing-masing 25% dan 20% pada dua kuartal pertama 2026. Pertumbuhan tersebut utamanya didorong oleh pasokan dari Ekuador dan India.

Sementara itu, pertumbuhan impor yang sebelumnya positif di pasar Uni Eropa tidak berlanjut pada 2026. Meski demikian, sejumlah negara di Eropa Timur mencatat peningkatan impor yang cukup signifikan, meskipun impor sebelumnya relatif kecil.

Selain itu, pasar Jepang juga menjadi perhatian. Setelah mengalami pertumbuhan pada periode 2023-2025, impor udang Jepang mengalami sedikit penurunan pada tahun ini.

Rantai pasok yang semakin kompleks

Sesi berikutnya mempertemukan pembeli dan penjual untuk membahas logistik dan prospek perjanjian perdagangan bebas antara India dan Uni Eropa.

Dalam 25 tahun terakhir, pengiriman produk seafood melalui jalur laut telah meningkat lebih dari dua kali lipat. Pertumbuhan tersebut didorong oleh perkembangan logistik, ekspansi akuakultur, dan perubahan preferensi konsumen. Udang menjadi salah satu kategori seafood yang menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan sejumlah produk seafood lainnya.

Namun demikian, pertumbuhan perdagangan juga menghadapi tantangan karena semkain kompleksnya rantai pasok. Terbatasnya kapasitas pelabuhan dan pengawasan, persyaratan dokumentasi, isu geopolitik pada jalur pelayaran utama, dan keterbatasan infrastruktur di daratan menjadi sejumlah persoalan yang perlu diantisipasi oleh industri ini.

Di tengah peningkatan ukuran kapal dan kapasitas kontainer, infrastruktur di darat dinilai belum mampu mengikuti perkembangan tersebut. Karena itu, ketahanan logistik perlu menjadi perhatian strategis, termasuk di tingkat manajemen perusahaan.

Sementara itu, perjanjian perdagangan bebas India-Uni Eropa juga berpotensi membuka peluang baru bagi industri udang India untuk memperluas diversifikasi pasar ke Eropa, terutama setelah menghadapi berbagai gangguan dalam perdagangan dengan AS.

Meski tarif diperkirakan turun, eksportir dan importir tetap perlu memperhatikan hambatan non-tarif, inspeksi, serta berbagai persyaratan regulasi.

India memperkuat daya saing industri udangnya

Ketahanan menjadi salah satu tema utama dalaam pembahasan mengenai masa depan industri udang India.

Di tengah berbagai prediksi mengenai perlambatan industri, India justru terus mencatat kinerja ekspor yang kuat. Salah satu faktor pendukungnya adalah jaringan petambak kecil yang luas dan adaptif, terutama di Andhra Pradesh yang tetap menjadi sentra produksi udang utama negara tersebut.

India juga terus memperkuat daya saing melalui otomatisasi, pengembangan produk bernilai tambah, peningkatan kompetensi tenaga kerja, ketertelusuran, serta penerapan Aquaculture Improvement Programs (AIPs).

Industri menilai keberlanjutan, sertifikasi, dan keamanan pangan semakin penting untuk mempertahankan akses pasar. Pada saat yang sama, diversifikasi produk, spesies, dan tujuan ekspor menjadi strategi penting untuk menjaga pertumbuhan dalam jangka panjang.

Investasi pada teknologi pengolahan dan otomatisasi juga terus meningkat. India kini menjadi salah satu negara terdepan dalam bidang tersebut bersama Ekuador.

Pertumbuhan produk individually quick frozen (IQF) dan produk bernilai tambah menunjukkan bahwa industri udang India semakin menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan konsumen global.

Tantagan bahan baku bagi industri pakan

Pada saat yang sama, Feed Summit dan Responsible Sourcing Summit membahas tentang tantangan pasokan bahan baku pakan dan keberlanjutan industri.

Persoalan industri pakan juga bukan hanya pada ketersediaan bahan bakunya saja, tetapi akses terhadap bahan baku tersebut. Isu geopolitik, perubahan permintaan terhadap minyak nabati, serta kondisi logistik di kawasan Laut Hitam semakin memengaruhi rantai pasok bahan baku pakan.

Proyeksi semakin terbatasnya pasokan tepung minyak ikan juga mendorong pengembangan bahan baku alternatif yang lebih berkelanjutan, termasuk bahan berbasis alga dan serangga.

Sementara itu, dari aspek budidaya, kesehatan pencernaan udang turut menjadi perhatian. Disebtukan bahwa sekitar 60% udang mengalami masalah kesehatan usus yang berpotensi menghambat pertumbuhan dan ketahanan udang. Hal tersebut menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas tidak hanya bergantung pada aspke eksternal budidaya, tetapi yang paling penting justru pada pemahaman yang lebih baik mengenai kondisi internal udang dan keterkaitan antara pakan, kesehatan, dan performa budidaya.

Meninjau ulang pasar Eropa

Hari kedua GSF 2026 ditutup dengan pembahasan mengenai peluang pasar dan perubahan perilaku konsumen Eropa.

Berdasarkan analisis Ananda Roy dari Circana terhadap data perilaku konsumen dan retail scanning, peluang pertumbuhan udang di Eropa tidak hanya terletak pada penurunan harga, melainkan pada bagaimana membuat udang lebih relevan dalam kehidupan sehari-hari konsumen.

Meskipun tekanan inflasi mulai mereda, konsumsi udang masih berada di bawah potensinya. Udang masih kerap dipandang sebagai produk premium yang dikonsumsi untuk kesempatan tertentu saja, bukan sebagai sumber protein yang bisa dikonsumsi sehari-hari.

Di Prancis dan Jerman, produk udang beku masih menunjukkan kinerja yang kuat. Sebaliknya, produk segar dan chilled menghadapi tantangan lebih besar.

Cita rasa dan manfaat kesehatan menjadi faktor utama yang mendorong pembelian. Sementara itu, keterjangkauan harga, keterbatasan kemampuan memasak, serta kurangnya pemahaman mengenai cara mengonsumsi udang dalam kehidupan sehari-hari menjadi sejumlah hambatan.

Perbedaan karakter konsumen antara Prancis dan Jerman juga menunjukkan bahwa strategi pemasaran tidak dapat diterapkan secara seragam di seluruh pasar Eropa.

Karena itu, industri dinilai perlu menjaga posisi udang sebagai produk premium dan tidak terlalu mengandalkan strategi diskon. Kanal ritel baru seperti quick commerce dan social commerce, termasuk TikTok, dinilai dapat menjadi peluang untuk menjangkau konsumen baru.

Keberlanjutan tetap menjadi salah satu kekuatan udang. Namun, konsumen kini semakin menganggap keberlanjutan sebagai standar yang seharusnya sudah melekat pada produk, bukan lagi sekadar fitur premium.

Pada akhirnya, pertumbuhan pasar udang akan sangat bergantung pada kemampuan industri menciptakan nilai lebih bagi konsumen. Produk yang lebih praktis, seperti makanan siap santap dan siap dipanaskan dengan inspirasi kuliner Asia, serta informasi yang lebih jelas mengenai produk udang dapat membantu meningkatkan relevansinya.

***