Himpunan Mahasiswa Akuakultur (Himakua) IPB University berkolaborasi dengan Asosiasi Tilapia Indonesia (ATI) menyelenggarakan kegiatan Tilapia Conference – Aquafest 2026 dengan tema “Upaya Strategis dalam Menjawab Krisis Produksi Induk Unggul Tilapia di Indonesia”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 24 Mei 2026 di Auditorium Sumardi Sastrakusumah, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University.

Konferensi ini menghadirkan berbagai narasumber dari asosiasi, peneliti, pemerintah, hingga praktisi industri perikanan yang membahas tantangan dan strategi pengembangan budidaya ikan nila nasional, khususnya terkait ketersediaan induk dan benih unggul.

Penguatan program budidaya nila nasional

Perwakilan Ditjen Perikanan Budidaya (DJPB) KKP, Nana Sarip Sumarna Udi Putra, mengungkapkan bahwa pemerintah saat ini tengah memperkuat ketahanan pangan nasional melalui optimalisasi sektor kelautan dan perikanan. Salah satu komoditas prioritas yang dikembangkan adalah ikan nila salin karena dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung kebutuhan pangan sekaligus meningkatkan produktivitas budidaya nasional.

Program prioritas DJPB difokuskan pada revitalisasi tambak untuk pengembangan budidaya nila salin. Pemerintah menargetkan revitalisasi tambak hingga sekitar 14 ribu hektare di wilayah Pantai Utara Jawa. Pengembangan ini mencakup wilayah Bekasi, Karawang, Subang, dan Indramayu yang dinilai memiliki potensi besar untuk budidaya nila salin.

Selain revitalisasi tambak, pemerintah juga mengembangkan program budidaya tematik untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pangan domestik dan program makan bergizi gratis (MBG). Berbeda dengan program revitalisasi yang lebih diarahkan pada kebutuhan ekspor, budidaya tematik difokuskan untuk mendukung konsumsi nasional.

Banner Iklan SBI

“Pengembangan ikan nila di Indonesia sebenarnya telah berkembang cukup pesat melalui berbagai strain unggul seperti Nirwana dan BEST. Namun, perubahan kebijakan otonomi daerah pasca Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 menyebabkan terjadinya perubahan kewenangan pengelolaan induk dan distribusi benih, sehingga kualitas dan ketersediaan induk unggul mengalami penurunan,” tutur Nana.

Menurutnya, tantangan utama pengembangan nila saat ini meliputi kebutuhan sumber daya genetik unggul, pengelolaan broodstock yang baik, sertifikasi induk dan benih, serta pengendalian penyakit. Pemerintah juga terus berupaya mencari sumber genetik baru, termasuk dari plasma nutfah lokal di Papua dan berbagai daerah lainnya.

Nana juga turut menekankan pentingnya pengelolaan hatchery yang baik agar tidak terjadi inbreeding akibat penggunaan induk yang sama secara terus-menerus. Inbreeding dapat menyebabkan penurunan performa pertumbuhan, rendahnya tingkat kelangsungan hidup, serta meningkatnya kerentanan terhadap penyakit.

Tilapia Conference 2026

Tilapia Conference – Aquafest 2026

Teknologi induk pengganti untuk produktivitas nila masa depan

Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Anna Octavera, menyampaikan kiprahnya sebagai peneliti yang mengerahkan teknologi induk pengganti (Surrogate Broodstock) dalam produksi induk nila unggul yang berkelanjutan.

Ia menyoroti bahwa salah satu permasalahan utama budidaya nila saat ini adalah penurunan mutu genetik induk yang menyebabkan kualitas benih tidak konsisten di tingkat pembudidaya. Penurunan mutu tersebut dipengaruhi oleh pemijahan liar, inbreeding, pencampuran strain, dan pengelolaan induk unggul yang belum optimal.

Baca juga:
1. Indonesia Aquafeed Conference 2026 bahas masa depan pakan akuakultur berkelanjutan
2. Stelina hadirkan transparansi rantai pasok perikanan dari hulu ke hilir
3. Indonesia berhasil hapus hambatan ekspor rajungan ke pasar AS 

Sebagai solusi, surrogate broodstock atau induk pengganti diperkenalkan sebagai teknologi yang memanfaatkan transplantasi sel germinal. Teknologi ini memungkinkan sel reproduksi dari ikan donor ditransplantasikan ke tubuh ikan penerima sehingga ikan penerima mampu menghasilkan sperma atau telur dengan sifat genetik yang berasal dari donor.

“Teknologi tersebut dapat menjadi solusi jangka panjang dalam menjaga kualitas genetik ikan nila unggul nasional. Selain itu, teknologi kriopreservasi memungkinkan jaringan reproduksi ikan unggul disimpan dalam nitrogen cair sehingga kualitas genetik dapat dipertahankan dalam jangka waktu panjang,” ungkap Anna.

Ia menambahkan bahwa teknologi transplantasi sel germinal telah berhasil diterapkan dalam berbagai penelitian, termasuk menggunakan jaringan dari ikan yang telah mati beberapa jam maupun jaringan yang telah disimpan melalui kriopreservasi.

Menurutnya, teknologi ini berpotensi mempercepat produksi induk unggul secara massal, menjaga keberlanjutan sumber daya genetik, hingga menghasilkan ikan nila monoseks jantan steril dengan performa pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan metode hormonal konvensional.

Optimalisasi produksi benih unggul tilapia

Sebagai Wakil Ketua Umum Asosiasi Tilapia Indonesia, Asep Epi Supriadi mengupas tuntas optimalisasi produksi benih unggul tilapia dan berkaca pada teknologi milik perusahaan swasta di Thailand.

Asep menilik sistem pembenihan ikan nila di Thailand telah berhasil menerapkan sistem pembenihan modern berbasis indoor system dengan pengendalian lingkungan yang baik, biosekuriti tinggi, serta produksi benih yang stabil sepanjang tahun.

Sementara itu, sistem pembenihan di Indonesia masih didominasi metode tradisional berbasis kolam tanah dan pemijahan alami. Perbedaan utama terletak pada metode panen dan pengelolaan hatchery.

“Di Thailand, telur ikan dipanen sekitar 7–10 hari setelah pemijahan dan ditetaskan di hatchery sehingga produktivitas lebih tinggi. Sebaliknya, di Indonesia sebagian besar pembudidaya langsung memanen larva sekitar 14 hari setelah pemijahan,” tutur Asep.

Asep juga menyoroti pentingnya kesinambungan data riset, pencatatan genetik, dan pemeliharaan kualitas induk unggul. Menurutnya, salah satu kelemahan budidaya di Indonesia adalah belum optimalnya dokumentasi dan pengelolaan kualitas genetik secara berkelanjutan.

Selain itu, ia mengajak generasi muda untuk tetap berkarir di sektor perikanan dan terus mengembangkan inovasi budidaya nila. Menurutnya, potensi ekonomi sektor perikanan masih sangat besar dan dapat menjadi peluang usaha yang menjanjikan.

Krisis benih dan tantangan kemandirian nila nasional

Lucky Pransiska dari ATI Bogor Raya membeberkan fakta di lapangan terkait krisis benih ikan nila. Dalam penyampaiannya, Lucky membuka materi dengan persoalan nyata yang dihadapi pembudidaya ikan nila di lapangan, terutama terkait sulitnya memperoleh benih berkualitas.

Ia menceritakan pengalaman seorang pembudidaya bioflok di Cianjur yang terpaksa menjual ikan dalam ukuran kecil karena tidak mampu lagi membeli pakan akibat lambatnya pertumbuhan ikan dari benih berkualitas rendah.

“Banyak pembudidaya di Indonesia memulai usaha dari sisi pembesaran tanpa memahami pentingnya kualitas benih dan manajemen budidaya. Akibatnya, banyak pembudidaya mengalami kerugian besar akibat penggunaan benih yang tidak layak,” Ujar Lucky.

Selain itu, lemahnya distribusi benih unggul di berbagai daerah membuat banyak pembudidaya harus membeli benih dari luar daerah dengan ukuran yang tidak ideal karena keterbatasan pasokan.

Berdasarkan estimasi tahun 2025, kebutuhan benih di wilayah Jawa, Bali, dan Lombok mencapai sekitar 407,5 juta ekor. Namun hingga saat ini, Indonesia masih belum memiliki data riil mengenai jumlah pembudidaya dan kebutuhan benih nasional secara akurat.

Ia menegaskan bahwa kualitas genetik benih merupakan faktor paling penting dalam keberhasilan budidaya. Menurutnya, penggunaan benih berkualitas rendah menyebabkan biaya pakan dan operasional menjadi tidak efisien karena pertumbuhan ikan sangat lambat.

Lucky juga mendorong adanya dukungan pemerintah terhadap industri pakan dan perlunya lembaga yang memiliki fungsi seperti Bulog untuk menyerap hasil budidaya masyarakat agar pembudidaya memiliki kepastian pasar.

Sebagai penutup, ia menekankan bahwa kemandirian benih nila nasional membutuhkan waktu panjang dan dukungan berbagai pihak. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, asosiasi, peneliti, mahasiswa, dan pelaku usaha dinilai menjadi kunci utama dalam membangun industri nila nasional yang berdaya saing dan berkelanjutan.
***

Penulis: Rosita
Editor: Asep Bulkini
Foto-foto: Himakua