The U.S. Soybean Export Council (USSEC) bersama Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggelar Indonesia Aquafeed Conference (IAC) 2026 di Jakarta, pada 7 Mei 2026. Mengusung tema “Feed Quality and Sustainability for Global Competitiveness,” konferensi tahunan ini mempertemukan berbagai pelaku industri pakan, pembudidaya, akademisi, hingga pemangku kepentingan sektor akuakultur untuk membahas beragam isu strategis industri. Diskusi yang berlangsung mencakup topik nutrisi pakan, teknologi produksi, kualitas bahan baku, aspek keberlanjutan, hingga sertifikasi sebagai upaya memperkuat daya saing akuakultur Indonesia di pasar global.
Konsultan Akuakultur untuk USSEC Asia Tenggara, Pamudi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa industri pakan memiliki peran penting dalam rantai produksi akuakultur global. Ia menyoroti meningkatnya tantangan global, mulai dari volatilitas politik, perubahan rantai pasok, hingga kenaikan biaya energi dan bahan baku pakan. Sehingga USSEC berkomitmen mendukung kemajuan industri akuakultur Indonesia secara menyeluruh.
USSEC East Asia Aquaculture Lead, Lukas Manomaitis, mengatakan industri seafood global saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, namun pelaku industri dinilai tetap optimistis karena sektor akuakultur memiliki fleksibilitas tinggi dalam beradaptasi. “Kita melihat dalam aspek formulasi, ada banyak bahan yang bisa kita gunakan. Karena kita memiliki kemampuan untuk melihat bahan baku sebagai paket nutrien,” ujarnya.

Lukas Manomaitis
Ia juga menyoroti potensi perubahan besar pada penggunaan bahan baku pakan di masa depan akibat meningkatnya biaya energi, pupuk, dan keterbatasan produksi bahan baku berbasis laut seperti fishmeal. Menurutnya, inovasi formulasi pakan dan diversifikasi sumber bahan baku akan menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan industri.
Selain itu, Lukaas menekankan pentingnya sertifikasi untuk membuka akses pasar ekspor. Ia menyebut standar sertifikasi pakan global, termasuk pembaruan standar BAP Feed Mill Standard 4.0, akan berdampak langsung terhadap industri pakan di Indonesia.
“Saya katakan bahwa gagasan untuk mendapatkan bahan baku yang tersertifikasi berkelanjutan dan memperhatikan jejak karbon akan sangat penting. Jadi, ini adalah hal-hal yang perlu Anda pertimbangkan di masa depan,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, USSEC juga menyinggung perkembangan teknologi berbasis artificial intelligence (AI) dan otomatisasi dalam formulasi pakan. Teknologi tersebut dinilai mulai berkembang di industri seafood global dan berpotensi diterapkan untuk meningkatkan efisiensi formulasi nutrisi akuakultur.
Produksi pakan terus meningkat
Sementara itu, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP yang diwakili oleh Direktur Rumput Laut, Nono Hartanto, menyampaikan bahwa konferensi ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat sektor budidaya nasional, khususnya melalui pengembangan pakan ikan dan udang yang efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Baca juga:
1. USSEC himpun stakeholder akuakultur, dorong kolaborasi dan perbaikan citra global
2. Stelina hadirkan transparansi rantai pasok perikanan dari hulu ke hilir
3. Diuji sepanjang 2025, industri udang Indonesia siap bangkit di 2026
Dalam sambutan tertulis Dirjen Perikanan Budidaya Budidaya, disebutkan bahwa pemerintah menargetkan produksi perikanan budidaya nasional mencapai 22,6 juta ton pada 2029 sebagai bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan nasional.
KKP mencatat saat ini terdapat 56 produsen pakan industri, 894 produsen pakan mandiri, serta 46 importir pakan ikan di Indonesia. Hingga April 2026, tercatat sebanyak 1.507 merek pakan telah terdaftar di KKP, terdiri dari 1.060 merek pakan ikan dan 410 merek pakan udang.
Data KKP juga menunjukkan produksi pakan industri terus meningkat dalam tiga tahun terakhir. Pada 2025, produksi pakan industri mencapai lebih dari 2 juta ton, meningkat 1.29% dari tahun sebelumnya yang mencapai 1,8 juta ton. Peningkatan produksi ini sejalan dengan meningkatnya impor bahan baku pakan seperti bungkil kedelai, tepung gandum, dan tepung ikan.
Melalui konferensi ini, pemerintah berharap tercipta kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha dalam mendorong inovasi teknologi formulasi pakan guna meningkatkan daya saing perikanan budidaya Indonesia di pasar global.

Hadirkan pembicara global
IAC 2026 menghadirkan sejumlah pembicara ahli dari institusi lokal dan internasional. Salah satu sesi utama dalam konferensi ini adalah keynote speech yang dibawakan oleh Dr. Dominique Bureau dari Wittaya Aqua bertema “Heat Damage of Soy Products and its Impact on Bioavailability and Digestibility.” Dalam presentasinya, ia membahas bagaimana proses pemanasan pada bahan baku kedelai dapat memengaruhi ketersediaan nutrisi dan tingkat kecernaan pakan, yang pada akhirnya berdampak terhadap performa pertumbuhan ikan dan udang budidaya.
Topik teknologi produksi pakan juga menjadi perhatian melalui sesi yang disampaikan oleh Bühler Indonesia dengan tema “Extruded Shrimp Feed for Improved Digestibility, Water Stability, and Durability.” Sementara itu, aspek keberlanjutan dan kredibilitas industri turut dibahas dalam sesi “Soy Sustainability for Your Credibility” yang dipaparkan Robert Middendorf dari USSEC East Asia. Materi tersebut menyoroti pentingnya penggunaan bahan baku kedelai berkelanjutan sebagai bagian dari upaya memperkuat reputasi industri akuakultur di pasar global yang semakin menuntut aspek keberlanjutan dan transparansi rantai pasok.
Pembahasan mengenai sertifikasi pakan juga menjadi salah satu agenda penting melalui sesi “Lessons Learnt from ASC Feed Certification in Indonesia” yang dibawakan oleh Control Union Indonesia (PT PCU Indoensia). Dalam sesi ini, peserta mendapatkan gambaran mengenai implementasi sertifikasi pakan ASC di Indonesia, termasuk tantangan dan peluangnya dalam meningkatkan daya saing produk akuakultur nasional di pasar ekspor.
***
Editor: Asep Bulkini



