Dalam upaya memperkuat kolaborasi dan arah keberlanjutan industri, U.S. Soybean Export Council menggelar USSEC Aquaculture Business Gathering di Bandung, Rabu (22/4), bertepatan dengan momentum Halal Bihalal. Mengusung tema “National Government and Industry Consolidation and Collaboration towards Credibility and Sustainability”, kegiatan ini mempertemukan pelaku usaha, asosiasi berbasis komoditas dan industri pendukung, hingga perwakilan pemerintah untuk membahas kondisi terkini sektor akuakultur nasional.
USSEC Technical Consultant – Aquaculture, Pamudi, menjelaskan bahwa pertemuan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang berbagi pembelajaran lintas komoditas dan memperkuat sinergi industri. Menurutnya, di tengah berbagai tantangan yang dihadapi industri perikanan belakangan ini, perlu ada upaya bersama untuk memperbaiki citra dan memperkuat kembali kepercayaan pasar global. “Jadi seandainya kita hari ini sama-sama kompak untuk bisa mensuplai dunia dengan produk perikanan yang kita produksi, itu akan sangat baik,” ujarnya.
Acara dibuka dengan diskusi panel para ketua asosiasi, antara lain dari Shrimp Club Indonesia (SCI), Asosiasi Tilapia Indonesia (ATI), Asosiasi Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I), Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI), Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), serta Himpunan Pembudidaya Ikan Laut Indonesia (Hipilindo). Setiap asosiasi menyampaikan sejumlah tantangan mereka mulai dari persoalan teknis seperti masih adanya temuan antibiotik, kenaikan biaya produksi akibat inflasi bahan baku dan logistik, hingga regulasi yang dinilai belum sepenuhnya mendukung, seperti SLO genset pada udang dan SIPA pada komoditas air tawar. Selain itu, tekanan pasar dan daya saing global juga menjadi perhatian bersama, khususnya bagi komoditas udang dan marikultur lainnya.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Rumput Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan, Nono Hartanto, menyampaikan bahwa sebagian persoalan yang telah berlangsung lama saat ini tengah dalam proses perbaikan. Sementara itu, berbagai masukan baru dari pelaku industri akan menjadi bahan evaluasi ke depan, termasuk kemungkinan adanya relaksasi kebijakan untuk mendukung keberlanjutan usaha.
Selain sesi diskusi, peserta juga mendapatkan pembelajaran dari praktik budidaya di Tiongkok melalui paparan Joe Zhou Enhua, USSEC Worldwide Aquaculture Technical Consultant. Salah satu yang disoroti adalah penerapan In-Pond Raceway System (IPRS) yang dikembangkan oleh USSEC, yakni sistem budidaya berbasis teknologi modern yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, sekaligus keberlanjutan tambak.

Sebagai penutup, seluruh peserta menyepakati deklarasi komitmen bersama untuk mendorong praktik akuakultur yang lebih transparan, akuntabel, dan berkelanjutan. Komitmen tersebut mencakup upaya menghasilkan produk perikanan yang memenuhi standar keamanan pangan dan perlindungan lingkungan, kepatuhan terhadap regulasi, pengurangan emisi karbon, serta optimalisasi limbah melalui pemanfaatan produk samping.
Deklarasi ini ditandatangani oleh para ketua asosiasi yang hadir sebagai simbol konsolidasi industri. Langkah ini diharapkan menjadi titik awal penguatan kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha dalam meningkatkan kredibilitas sekaligus daya saing akuakultur Indonesia di pasar global.
***
Editor: Asep Bulkini



