Nila merupakan salah satu ikan yang paling lumrah ditemui di pasar-pasar, ataupun pada pilihan menu di warung-warung makan dan restoran. Masyarakat Indonesia sudah begitu familiar dengan ikan ini. Bagaimana tidak? Ikan asal sungai nil ini sudah sekitar 50 tahun yang lalu masuk Indonesia dan menjadi salah satu komoditas budidaya air tawar yang sangat penting, dan terus mendominasi hingga saat ini.

Menurut data Laporan Kinerja Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB), ikan nila telah mengambil posisi sebagai komoditas penting dengan produktivitas tertinggi, diantara komoditas lainnya, sejak tahun 2010. Pada 2022 lalu, produksi ikan nila diperkirakan mencapai 1,64 juta ton. Volume tersebut cukup jauh dari  produksi ikan lele, yang menduduki posisi kedua, dengan dengan volume produksi 1,37 juta ton.

Produktivitas nila yang tinggi tidak lepas dari sejarah budidaya, pengembangan varietas unggul, pangsa pasar, hingga kebijakan yang mendukung pertumbuhannya. 

Mujair sebagai jembatan eksistensi nila di Indonesia

Sejarah awal budidaya ikan nila di Indonesia tidak lepas dari keberadaan dan perkembangan ikan mujair. Mujair (Oreochromis mossambicus) adalah jenis tilapia yang ditemukan dan didomestikasi oleh penemunya dengan nama yang sama, Moedjair, yang berasal dari Blitar.

Dalam laporan tesis Sidrotun Naim disebutkan bahwa Moedjair berhasil mendomestikasi ikan tersebut dari habitat air payau di Pantai Serang, Blitar, ke air tawar pada akhir tahun 1936. Moedjair berhasil mengadaptasikan ikan tersebut hingga bisa berkembang biak. Anakan ikan tersebut kemudian dibudidayakan hingga mencapai 3 kolam. Moedjair kemudian mengenalkan dan membagikan ikan tersebut secara gratis kepada masyarakat di sekitar desanya, dan  menjualnya kepada masyarakat yang lebih luas di Kabupaten Blitar. 

Pengenalan komoditas ke publik terus Moedjair lakukan. Bahkan setelah kemerdekaan Indonesia pada 1945, ia menyebarkan ikan mujair hingga hampir ke seantero Jawa Timur yang dibantu oleh anaknya, Wahanan. Hingga kurun waktu 1957, ia juga membuat beberapa kolam budidaya mujair di beberapa titik di provinsi Jatim.

Baca juga: Lima komoditas perikanan strategis di masa depan

Bertahun kemudian, Moedjair mendapatkan banyak penghargaan atas kerja kerasnya tersebut. Pengenalan dan penyebaran ikan yang semakin luas yang dilakukan Moedjair, serta namanya yang kian kondang, membuat banyak masyarakat mengunjungi dan belajar budidaya ikan mujair darinya. Semenjak itu juga, praktik budidaya ikan mujair mulai berkembang sampai kemudian menjadi ia jembatan hadirnya ikan nila di Indonesia.

Spesies introduksi yang terus melejit

Ikan nila baru diintroduksi ke Indonesia pada tahun 1969. Muncul dengan nama Nile Tilapia dari negara Taiwan, ikan ini dengan cepat diterima oleh masyarakat.

Tidak hanya karena teknologi budidayanya yang sudah dikenal luas, pasar tilapia yang sama-sama telah terbangun lebih dulu oleh mujair juga membuat permintaan ikan ini semakin naik. Importasi ikan nila unggul dari luar negeri saat itu pun menjadi jalan pintas untuk menambah produktivitas komoditas.Tak berhenti di situ, pada kisaran tahun 1969 hingga 2000-an berbagai jenis ikan nila terus diintroduksi ke Indonesia. Beberapa di antaranya adalah ikan nila hitam “Chitralada” yang diintroduksi bersamaan dengan nila merah “NIFI” (National Inland Fish Institute) pada tahun 1989. Selanjutnya disusul dengan introduksi ikan nila dari Filipina bernama “GIFT” (Genetic Improvement of Farmed Tilapia) pada 1989, dan “GET” (Genetically Enhanced of Tilapia) pada awal tahun 2000-an.

Keadaan semakin menguntungkan ikan nila ketika wabah Koi Herpes Virus (KHV) menyerang ikan mas pada awal tahun 2000-an. Wabah tersebut dimulai dari Blitar, Jawa Timur, da menyebabkan kerugian hingga ratusan miliar rupiah. Ikan nila pun kemudian menjadi komoditas alternatif dengan produktivitas yang terus melejit.

Pengembangan varietas lokal

Melepas ketergantungan pada nila impor, pengembangan varietas nila unggul lokal pun mulai dikembangkan. Upaya pengembangan pertama yang melibatkan institusi lokal adalah ikan nila “JICA”. Nama strain ini diambil dari lembaga Japan For International Cooperation Agency (JICA) yang mendanai proyek tersebut. Inti proyeknya adalah introduksi ikan nila  dari Kagoshima Fisheries Research Station ke Indonesia melalui Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Jambi.

Benih ikan nila

Pemerintah dan swasta terus mengembangkan strain unggul ikan nila guna meningkatkan produktivitas dan memberikan banyak pilihan bagi pembudidaya. © Asep Bulkini

Nila JICA dikirim ke BPBAT Jambi pada 8 Juni 2002 dan kemudian berhasil dipijahkan pertama kali pada Februari 2003. Pada akhirnya, ikan nila JICA disahkan dan dilepas oleh BPBAT Jambi pada 12 Agustus 2004.

Ikan nila JICA diklaim memiliki aspek pertumbuhan dan fekunditas yang lebih baik dari nila GIFT yang sempat populer dibudidayakan. Berdasarkan Laporan Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2005, penggunaan pakan untuk nila JICA lebih hemat hingga 25% dibanding nila GIFT.

Baca juga: Guru besar Unpad kembangkan lele mutiara transgenik

Pada kurun waktu yang sama, berbagai lembaga riset milik pemerintah juga mulai mengembangkan strain nila unggul lain. Sejak tahun 2001 hingga 2006, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor dan Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi berhasil mengembangkan nila “Gesit” (Genetically Supermale Indonesian Tilapia).

Nila Gesit adalah nila jantan super dengan kromosom YY. Jenis nila ini dikembangkan agar menjadi indukan yang dapat menghasilkan 98-100% keturunan jantan (monoseks).  Praktik monoseks lebih menguntungkan pembudidaya karena secara alami nila jantan tumbuh lebih cepat dibanding nila betina. Pengembangan nila ini juga bisa menghindari inbreeding yang gampang terjadi pada ikan nila. Nila GESIT kemudian dilepaskan oleh BBPBAT Sukabumi pada 14 Desember 2006.

Pengembangan nila strain unggul lainnya terus dilanjutkan oleh berbagai instansi lain di berbagai daerah. Berikut daftar strain ikan nila yang tersedia sampai saat ini:

No.Nama VarietasInstansi PelepasTanggal Pelepasan
1Nila JICABalai Perikanan Budidaya Air Tawar Jambi12 Agustus 2004
2Nila NirwanaBadan Penelitian Benih Ikan Wanayasa12 Februari 2006
3Nila GesitBalai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi14 Desember 2006
4Nila JatimbulanUnit Pelaksana Teknis Pengembangan Budidaya Air Tawar Jatimbulan2 Juli 2008
5Nila LarasatiLoka Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar Janti23 Oktober 2009
6Nila BESTBalai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar Bogor23 Oktober 2009
7Nila Pandu – KuntiLoka Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar Janti12 Januari 2012
8Nila AnjaniBalai Pengembangan Budidaya Ikan Air Tawar Aikmel12 Maret 2012
9Nila SrikandiBalai Riset Pemuliaan Ikan Sukamandi8 Juni 2012
10Nila Nirwana IIBadan Penelitian Benih Ikan Wanayasa6 Agustus 2012
11Nila SultanaBalai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi6 Agustus 2012
12Nila Merah NilasaUnit Kerja Budidaya Air Tawar Cangkringan27 Desember 2012
13Nila SalinaBadan Pengkajian dan Penerapan Teknologi3 September 2014

Pengembangan berbagai varietas ini seakan menjadi batu-bata berikutnya dalam menaikkan pamor dan produktivitas komoditas ikan nila di Indonesia. Dengan banyaknya varietas unggul tersebut, pembudidaya punya pilihan yang sesuai dengan kriteria lokasi pemeliharaan. Hal ini berkaitan dengan sifat unggul tiap varietas yang terekspresi sesuai dengan lingkungannya.

*Foto utama: KKP

***

Penulis: Aditya Mukti Pramana
Editor: Asep Bulkini