Keberhasilan budidaya udang tidak hanya ditentukan oleh faktor-faktor yang terlihat secara langsung, seperti kualitas benur atau pakan. Di balik aktivitas tambak yang kasat mata, terdapat ekosistem mikroskopis yang memainkan peran yang tidak kalah penting dalam menjaga kestabilan lingkungan budidaya. Ekosistem tersebut dikenal sebagai konsorsium mikroba.
Konsorsium mikroba merupakan kumpulan berbagai mikroorganisme yang hidup bersama dalam satu lingkungan dengan peran yang saling terkait. Dalam konteks tambak udang, konsorsium ini bukan hanya sekumpulan berbagai jenis bakteri yang ada di dalam air atau sedimen, melainkan sebuah komunitas yang saling berinteraksi, saling melengkapi, dan dalam banyak kasus saling bergantung satu sama lain untuk menjaga keseimbangan sistem budidaya.
Hal ini disampaikan oleh Fernanda Rinia Putri, Technical Sales CeKolam, dalam Webinar Silaturahmi CeKolam yang digelar pada November 2025. Ia menekankan bahwa pemahaman terhadap peran konsorsium mikroba menjadi kunci penting, terutama dalam menjaga stabilitas kualitas air dan kesehatan sistem pencernaan udang.
“Jadi kalau kita bicara konsorsium mikroba itu bukan hanya tentang ada gabungan beberapa jenis bakteri saja, tapi juga tentang aktivitas mereka itu apa? Yang mana aktivitasnya itu bisa saling melengkapi dan ada juga yang saling ketergantungan,” ujar Fernanda.
Dua ekosistem utama konsorsium mikroba tambak
Menurut Fernanda, dalam praktik budidaya terdapat dua ekosistem utama konsorsium mikroba yang harus menjadi perhatian, yakni media air dan tubuh udang itu sendiri. Meskipun keduanya memiliki komposisi mikroba yang berbeda, interaksi di antara keduanya sangat menentukan keberhasilan budidaya.
Di dalam media air misalnya, interaksi antar-mikroba umumnya didominasi oleh proses penguraian. Pakan, sebagai komponen yang paling besar masuk ke dalam tambak, akan terakumulasi menjadi bahan organik, kemudian diuraikan oleh bakteri menjadi senyawa yang lebih sederhana. Dalam proses ini, bakteri nitrifikasi seperti Nitrosomonas dan Nitrobacter memegang peran penting karena membantu menjaga keseimbangan nitrogen agar kualitas air tetap stabil.
Sementara itu, ekosistem mikroba di dalam tubuh udang, terutama pada saluran pencernaan, memiliki dinamika yang jauh lebih kompleks. Bakteri di dalam usus udang jauh lebih beragam, termasuk bakteri patogen, bakteri probiotik yang menguntungkan, serta bakteri netral yang berfungsi menjaga keseimbangan. Konsorsium mikroba di saluran pencernaan tidak hanya berpengaruh terhadap kesehatan udang, tetapi juga berperan dalam regulasi sistem imun, penyerapan nutrisi, hingga produksi asam lemak yang dibutuhkan untuk pertumbuhan optimal.
Dinamika dan klasifikasi mikroba tambak
Fernanda mengatakan bahwa mikroba yang mendominasi tambak umumnya adalah mikroba yang paling sesuai dengan kondisi lingkungannya. Mikroba yang secara alami ada di ekosistem biasanya dengan sendirinya akan tetap ada meskipun sudah mendapat perlakuan untuk dikurangi atau dihilangkan. Di sisi lain, keberadaan mikroba di tambak juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang sulit dikendalikan seperti cuaca dan musim.
Baca juga:
1. Waspada penyakit TPD, menyerang udang lebih cepat dibanding AHPND
2. Laporan “100% Shrimp: Full Utilisation” bahas strategi pemanfaatan hasil samping olahan udang
3. Bisnis vaname 2026 tetap seksi, kualitas benur hingga mutu jadi kunci
Meski begitu, ia juga mengatakan bahwa ada faktor-faktor yang dapat diintervensi melalui manajemen budidaya, seperti pengaturan pH, kadar oksigen terlarut (DO), serta ketersediaan nutrisi berdasarkan rasio karbon, nitrogen, dan fosfat (C:N:P).
Berdasarkan sumber energi dan karbonnya, mikroba dalam konsorsium tambak dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama. Pertama, fotoautotrof, yang memanfaatkan cahaya matahari dan karbon anorganik, seperti fitoplankton. Kedua, kemolitotrof, yang memperoleh energi dari senyawa anorganik seperti amonia dan nitrit, termasuk bakteri nitrifikasi. Ketiga, heterotrof, yang menggunakan senyawa organik sebagai sumber energi dan karbon.
Fernanda menekankan bahwa bakteri dari genus Vibrio misalnya, termasuk ke dalam kelompok heterotrof. Inilah sebabnya, ketika beban organik di tambak meningkat tajam, populasi Vibrio berpotensi berkembang dengan sangat cepat dan meningkatkan risiko penyakit.
Peran masing-masing
Lebih lanjut, interaksi antarmikroba di media air tambak mencakup sejumlah proses biologis penting yang saling berkaitan. Mikroorganisme dari kelompok fotoautotrof misalnya, menjalankan proses fotosintesis yang menghasilkan oksigen terlarut, sehingga membantu menopang kehidupan organisme di dalam tambak. Selain itu, ada juga mikroba yang berperan dalam proses mineralisasi, yakni penguraian senyawa organik kompleks—seperti sisa pakan dan feses—menjadi senyawa yang lebih sederhana yang berguna dalam proses lain seperti nitrifikasi.
Sementara itu, di dalam tubuh udang, konsorsium mikroba memiliki peran yang tidak kalah krusial. Mikroba yang hidup di saluran pencernaan membantu menyederhanakan pakan sehingga nutrisi dapat diserap secara lebih efisien. Di sisi lain, beberapa jenis bakteri juga berperan dalam regulasi sistem imun, dengan membantu mengaktifkan respons pertahanan tubuh ketika tekanan patogen mulai meningkat.
Konsorsium mikroba ini juga berkontribusi dalam produksi asam lemak sebagai sumber energi untuk pertumbuhan udang, sekaligus memberikan perlindungan terhadap patogen melalui kompetisi ruang dan nutrisi, serta dengan menghasilkan senyawa yang mampu menekan pertumbuhan bakteri merugikan.
Manajemen keseimbangan mikroba tambak
Fernanda kemudian menjelaskan bahwa kestabilan konsorsium mikroba di tambak bersifat dinamis dan dapat berubah akibat faktor alam, seperti hujan dan pergantian musim, maupun faktor buatan yang berasal dari manajemen budidaya. Ia juga mengatakan, sebuah penelitian menunjukkan bahwa faktor musim sering kali memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap komposisi komunitas bakteri dibandingkan lokasi tambak atau perlakuan manajemen itu sendiri.
Karena faktor yang berpengaruh terhadap keseimbangan tersebut sulit dikendalikan, maka peluang terjadi ketidakseimbangan konsorsium mikroba sangat besar dan dapat memicu fluktuasi kualitas air yang berisiko bagi kesehatan udang.
Untuk merespons tantangan tersebut, penggunaan probiotik masih menjadi salah satu pendekatan yang paling banyak diterapkan oleh petambak, meskipun efektivitasnya sangat bervariasi. Fernanda menekankan bahwa perbedaan hasil penggunaan probiotik dipengaruhi oleh berbagai aspek, mulai dari kualitas proses fermentasi, dosis, frekuensi dan waktu aplikasi, hingga potensi ketidaksesuaian antara klaim produk dan mikroba yang sebenarnya terkandung di dalam kemasan.
Guna memastikan konsorsium mikroba dan peran masing-masing mikroorganisme dapat terpantau dengan baik, Fernanda menyarankan penggunaan metode sequencing untuk analisis yang lebih mendalam. Menurutnya, metode ini mampu mengevaluasi sampel secara lebih objektif dan memberikan gambaran yang lebih akurat. Sebaliknya, metode evaluasi konvensional seperti penghitungan Colony Forming Units (CFU) atau Vibrio Count di laboratorium sering kali hanya menghasilkan informasi terbatas, tanpa dapat memastikan apakah bakteri probiotik yang diaplikasikan benar-benar menjalankan fungsi yang diharapkan, atau apakah bakteri Vibrio yang terdeteksi bersifat patogen.
***
Editor: Asep Bulkini




