Perusahaan akuakultur terintegrasi, JALA, sukses menyelenggarakan Shrimp Outlook 2026. Acara tahunan yang mempertemukan para pelaku industri udang lintas sektor ini membahas isu-isu terbaru dan arah masa depan industri udang Indonesia. Berlangsung pada 12 Februari 2026 di Royal Ambarrukmo Yogyakarta, acara ini sekaligus menjadi momentum peluncuran Laporan Shrimp Outlook 2026, sebuah laporan komprehensif yang merangkum tren pasar, kinerja tambak udang Indonesia, dan tantangan di lapangan berbasis data.
Dengan mengusung tema “Thriving Through Change: Beyond Tradition, Toward Ambition”, Shrimp Outlook 2026 bertujuan untuk mendorong pengambilan keputusan berbasis data, memperkuat kolaborasi antar pemangku kepentingan, serta memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai tantangan dan peluang industri udang ke depan.
Capaian 2025
Meski mengalami tahun sulit selama 2025, secara umum (median) pencapaian petambak Indonesia cukup baik dengan adanya peningkatan produktivitas. “Apresiasi untuk seluruh petambak Indonesia yang tetap semangat tebar tahun 2025, meskipun dihadapkan berbagai tantangan”, ucap Liris Maduningtyas, CEO JALA. Indonesia juga masih mempertahankan posisi keempat sebagai negara eksportir udang dunia, walaupun volume ekspor tahun ini turun 0,7% year-on-year.
Liris juga menambahkan fokus 2026 adalah meningkatkan branding udang Indonesia yang aman dan dapat dipercaya oleh konsumen global. Perlunya kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, terutama pembuat kebijakan untuk memenangkan pasar global. Keseimbangan antara efisiensi biaya dan profitabilitas turut menjadi kunci dari keberlanjutan industri.

Memperkuat pasar
Peningkatan strategi budi daya udang perlu diawali dengan pemahaman yang jelas terhadap kapasitas dan karakteristik masing-masing tambak. Setiap pelaku usaha harus mengetahui batas kemampuan produksinya, sekaligus memastikan seluruh rantai pasok berjalan konsisten dalam menghasilkan produk akhir yang berkualitas. Robins McIntosh, Executive Vice President Charoen Pokphand Foods, menegaskan bahwa upaya tersebut tidak cukup hanya dengan menjaga kesehatan udang. “Selain menjaga kesehatan udang, penting juga memerhatikan ekosistemnya agar udang dapat tumbuh optimal,” ujarnya.
Di sisi lain, tantangan besar yang dihadapi petambak Indonesia sepanjang 2025 adalah fluktuasi harga udang. Gejolak ini dipengaruhi berbagai faktor, terutama kebijakan impor Amerika Serikat yang masih menjadi pasar utama ekspor udang Indonesia. Situasi semakin kompleks dengan munculnya isu antibiotik dan cemaran radioaktif Cesium-137 yang berdampak pada persepsi pasar. Kondisi tersebut menjadi titik balik bagi industri untuk mulai serius mempertimbangkan diversifikasi pasar. “Indonesia perlu melihat peluang di negara lain, seperti Cina, Jepang, dan Uni Eropa yang saat ini pertumbuhan impornya tinggi” ucap Willem van der Pijl, Director Global Shrimp Forum.
Dalam konteks keseimbangan supply-demand, stabilitas harga tidak hanya bergantung pada produksi, tetapi juga pada konsistensi permintaan. Karena itu, industri udang Indonesia memiliki tugas penting untuk memastikan keamanan produk demi menjaga kepercayaan konsumen global. Anna Maria, Executive Secretary Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I), menekankan bahwa pengujian ketat terus dilakukan untuk memenuhi seluruh standar operasional prosedur (SOP) negara tujuan ekspor. “Namun, ini juga perlu didukung oleh keamanan bahan baku dari hulu,” tambahnya.
Senada dengan itu, Kevin Sidharta dari Haven Foods menyatakan bahwa persaingan harga memang penting, tetapi menjaga kepercayaan konsumen adalah hal yang paling utama. Untuk memperkuat posisi tersebut, Erwin Dwiyana, Direktur Pemasaran PDSPKP KKP, menyampaikan komitmen untuk mengupayakan rebranding udang Indonesia sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kredibilitas dan daya saing di pasar global.
Antusiasme peserta
Shrimp Outlook 2026 dihadiri lebih dari 500 peserta yang terdiri dari petambak udang, supplier, pelaku industri, investor, hingga akademisi. Acara ini didukung oleh sejumlah mitra strategis, termasuk dsm-firmenich, Genics, Kona Bay, INVE Aquaculture, Suri Tani Pemuka (STP), Panca Sukses Lestari, dan seluruh sponsor serta organisasi lainnya yang turut berkontribusi bagi kemajuan industri udang Indonesia.
Tren peningkatan produktivitas
Sebagai bagian dari rangkaian acara, JALA secara resmi merilis Laporan Shrimp Outlook 2026. Laporan ini menyajikan analisis berbasis data terkait kondisi pasar global industri udang, performa dan perilaku budi daya di Indonesia, tantangan yang dihadapi, serta proyeksi ke depan yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku industri sebagai referensi strategis.
Sepanjang tahun 2025, median produktivitas budi daya udang Indonesia khususnya pada kategori tambak dengan padat tebar sedang (80-150 PL/m2) menunjukkan peningkatan naik dari 18,23 ton/ha menjadi 19,07 ton/ha, mencerminkan ketangguhan petambak udang Indonesia.
Dapatkan informasi lengkapnya laporan Shrimp Outlook 2026 yang dapat diunduh secara gratis di: https://jala.cc/read-SO26



