Industri budidaya udang modern semakin menghadapi tantangan yang kompleks. Ancaman penyakit, tekanan lingkungan, hingga fluktuasi kualitas input produksi membuat keberhasilan budidaya tidak lagi hanya bergantung pada pengalaman semata. Petambak kini dituntut untuk mengelola tambak sebagai sebuah sistem produksi yang terintegrasi, di mana setiap keputusan harus didasarkan pada pemahaman yang kuat terhadap biologi, lingkungan, dan manajemen operasional.
CEO Genics, Dr. Melony Sellars, dalam Shrimp Outlook 2026 di Yogyakarta, menilai bahwa banyak kegagalan produksi sebenarnya terjadi bukan karena kurangnya teknologi, melainkan karena sistem manajemen yang belum berjalan secara konsisten. Dalam pandangannya, petambak sering kali mencari solusi cepat ketika menghadapi masalah, padahal yang lebih dibutuhkan adalah membangun sistem yang stabil dari awal. Menurutnya, keputusan yang “cukup baik” tidak lagi cukup untuk menghadapi kompleksitas budidaya udang saat ini.
“Semua ini tentang mengubah keputusan yang ‘cukup baik’ menjadi keputusan yang benar-benar tepat (gold star decision),” ujar Melony. Ia menambahkan bahwa tambak udang modern harus dikelola seperti sebuah ekosistem, di mana setiap komponen saling memengaruhi. Ketika satu bagian sistem tidak dikelola dengan benar, dampaknya dapat menyebar ke seluruh siklus produksi.
Konsistensi operasional dan biosekuriti tambak
Salah satu karakteristik utama dari petambak yang berhasil adalah konsistensi dalam menjalankan operasional tambak. Konsistensi ini mencakup berbagai aspek produksi, mulai dari pemilihan benur, protokol penebaran, manajemen pakan, hingga cara tim lapangan menjalankan standar operasional setiap hari. Tanpa konsistensi, sistem produksi akan mudah terganggu oleh perubahan kecil yang seharusnya dapat dikendalikan.
Melony menekankan bahwa banyak tambak sebenarnya sudah memiliki teknologi dan fasilitas yang memadai. Namun, tanpa disiplin dalam menjalankan prosedur, teknologi tersebut tidak akan memberikan hasil optimal. Menurutnya, konsistensi menjadi kunci agar setiap siklus berjalan dengan pola yang bisa diprediksi, sehingga risiko kegagalan dapat ditekan.
“Petambak terbaik di dunia memiliki satu kesamaan: mereka sangat konsisten. Mereka memiliki suplai benur yang konsisten, protokol penebaran yang konsisten, manajemen pakan yang konsisten, dan tim yang menjalankan prosedur dengan disiplin,” ujar Melony.
Selain konsistensi, biosekuriti merupakan pondasi penting dalam menjaga kesehatan sistem budidaya. Banyak kasus penyakit di tambak sebenarnya berasal dari celah kecil dalam sistem biosekuriti yang sering dianggap sepele. Contohnya, kerusakan pada liner kolam berbahan HDPE yang tidak diperbaiki setelah panen.
Robekan kecil pada HDPE memungkinkan sedimen yang mengandung patogen tetap berada di bawah lapisan kolam. Jika bagian tersebut tidak dibersihkan dan diperbaiki dengan benar sebelum siklus berikutnya dimulai, patogen dapat kembali menginfeksi udang pada periode budidaya selanjutnya.
“Jika Anda memiliki patogen seperti EHP, sporanya dapat bertahan di sedimen di bawah liner. Jika area itu tidak dibersihkan, dikeringkan, dan diperbaiki dengan benar, Anda hanya akan (membiarkan EHP) menginfeksi kembali siklus berikutnya.”
Karena itu, pemeriksaan menyeluruh terhadap infrastruktur tambak setelah panen menjadi langkah penting dalam memutus siklus penyakit. Area-area rawan lainnya seperti outlet kolam dan pipa pembuangan juga perlu diperiksa secara detail sebelum kolam digunakan kembali.
Memahami mikrobioma tambak
Dalam beberapa tahun terakhir, pemahaman tentang mikrobioma tambak mulai mendapat perhatian besar dalam manajemen budidaya udang. Mikrobioma merujuk pada keseluruhan komunitas bakteri yang hidup di dalam air dan lingkungan tambak. Komunitas mikroorganisme ini memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem tambak.
Baca juga:
1. Diuji sepanjang 2025, industri udang Indonesia siap bangkit di 2026
2. Mengapa konsorsium mikroba menjadi kunci keseimbangan tambak udang
3. Bisnis vaname 2026 tetap seksi, kualitas benur hingga mutu jadi kunci
Menurut Melony, mikrobioma dapat memberikan gambaran menyeluruh tentang kondisi kesehatan tambak. Perubahan dalam komposisi bakteri sering kali terjadi lebih awal sebelum gejala penyakit muncul pada udang. Dengan memantau perubahan tersebut, petambak dapat mengambil langkah pencegahan lebih dini.
“(Microbioma tambak) itu seperti buku laporan yang hidup mengenai status kesehatan tambak dan udang Anda. Anda bisa melihat profil bakteri dalam kolam dan udang Anda, dan perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu, Anda bisa melihatnya melalui pengecekan mikrobioma,” kata Melony. Informasi tersebut dapat digunakan oleh petambak untuk mengelola tambaknya dengan baik.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa beberapa metode pengujian bakteri yang umum digunakan di tambak tidak selalu memberikan hasil yang akurat. Metode seperti TCBS plating atau ChromAgar sering digunakan untuk mengidentifikasi bakteri Vibrio.
Dalam praktiknya, koloni bakteri yang terlihat seperti Vibrio parahaemolyticus pada media tersebut belum tentu benar-benar spesies tersebut ketika diuji dengan metode yang lebih presisi (false positive). Terutama ketika diikuti dengan fakta bahwa udang yang diperiksa ternyata adalah udang yang sehat. Kesalahan hasil uji ini bisa berimbas pada kesalahan petambak dalam mengambil keputusan.
Melony menduga bahwa tren kesalahan hasil pengecekan (false positive) dengan metode lama, di mana udang yang sehat justru mengandung Vibrio, adalah karena praktik penggunaan probiotik di tambak yang semakin masif. Oleh karena itu, menurutnya teknologi analisis berbasis sequencing dan studi mikrobioma kini mulai digunakan untuk memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai komunitas bakteri di tambak.
Mengendalikan risiko dari input produksi
Selain kondisi tambak itu sendiri, berbagai input produksi juga dapat menjadi jalur masuk patogen. Banyak petambak sering bertanya dari mana patogen tertentu berasal, padahal sumbernya bisa sangat beragam. Penularan dapat terjadi secara vertikal dari induk ke benur, maupun secara horizontal melalui air, pakan, atau organisme lain yang masuk ke dalam sistem tambak. Melony menjelaskan bahwa serangga air seperti capung juga dapat berperan sebagai vektor penyakit seperti EHP.
Selain itu, efektivitas sistem pengolahan air juga perlu dipastikan secara berkala. Banyak tambak menggunakan teknologi seperti UV, ozon, atau klorinasi untuk mengurangi risiko patogen dalam air yang masuk ke kolam budidaya. Namun, tanpa pemantauan yang tepat, sistem tersebut mungkin tidak bekerja secara optimal.
“Untuk lampu UV, apakah ada lampu indikator? Apakah lampu tersebut baru saja diganti? Berapa jam operasionalnya? Lampu tersebut perlu diganti agar tetap berfungsi. Untuk sistem ozon, di mana dan bagaimana Anda mengukur ORP Anda? Berapa titik awalnya? Berapa titik akhirnya? Berapa dosis target Anda dan apakah Anda mencapainya?” ujarnya bertanya retoris.
Selain menyarankan petambak untuk selalu memastikan efektivitas kerja water treatment tersebut, Melony juga merekomendasikan pengujian efektivitasnya melalui pengecekan eDNA. Menurutnya, pengujian eDNA dapat digunakan untuk mengevaluasi apakah sistem pengolahan air benar-benar mampu menghilangkan patogen sebelum air digunakan dalam tambak.
Genetik mendukung keberhasilan tambak
Di luar faktor lingkungan dan biosekuriti, kualitas udang itu sendiri tetap menjadi komponen penting dalam keberhasilan budidaya. Benur yang berasal dari induk berkualitas, bebas patogen, dan memiliki toleransi terhadap penyakit dapat memberikan keuntungan besar bagi petambak.
Namun Melony menegaskan bahwa genetik bukanlah solusi tunggal untuk mengatasi masalah produksi. Udang dengan kualitas genetik terbaik sekalipun tetap membutuhkan sistem manajemen yang baik agar dapat menunjukkan performa optimal.
“Genetik tidak menggantikan manajemen yang baik. Genetika hanya memperkuat manajemen yang sudah baik,” tegasnya.
Pada akhirnya, menurut Melony, keberhasilan budidaya udang tidak datang dari satu teknologi tertentu. Keberhasilan justru berasal dari kombinasi antara konsistensi operasional, biosekuriti yang kuat, pemantauan berbasis data, serta pemahaman yang baik terhadap ekosistem tambak secara keseluruhan. Petambak yang mampu membangun sistem seperti inilah yang akan lebih siap menghadapi tantangan industri udang di masa depan.
***
Editor: Asep Bulkini



