Peluang tersebut dibahas dalam Indonesia–Europe Business Forum (IEBF) 2026 yang berlangsung di Tangerang, Banten, Kamis (15/10). Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menawarkan peluang investasi dan kemitraan untuk pengembangan budidaya tilapia dan rumput laut kepada para investor yang hadir.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, keterhubungan antara kawasan budidaya, industri pengolahan, dan pasar menjadi faktor penting agar hasil panen memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi pembudidaya.
“Melalui Indonesia–Europe Business Forum 2026, kita dapat duduk bersama, berdiskusi, dan berkolaborasi untuk menemukan solusi terbaik yang saling menguntungkan,” ujar Trenggono dalam siaran resmi di Jakarta, Sabtu (17/10).
KKP saat ini menjalankan sejumlah program pengembangan budidaya, termasuk revitalisasi tambak di Pantai Utara Jawa Barat untuk komoditas tilapia, pembangunan kawasan budidaya udang terintegrasi di Waingapu, serta pengembangan budidaya ikan darat tematik di berbagai wilayah Pulau Jawa. Untuk rumput laut, upaya peningkatan produksi juga dilakukan di sejumlah daerah, termasuk Jawa, guna mendukung pengembangan industri hilir.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya TB Haeru Rahayu menjelaskan, pengembangan tilapia di Pulau Jawa diarahkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri sekaligus memasok bahan baku bagi industri pengolahan.
“Khusus untuk pengembangan komoditas tilapia di Pulau Jawa, diarahkan untuk mendukung pemenuhan konsumsi dalam negeri dan penyediaan bahan baku industri pengolahan. Peluang kemitraan yang dapat dibangun mencakup peningkatan mutu benih, efisiensi pakan, kesehatan ikan, serta ketertelusuran produk,” tambahnya.
Pada komoditas rumput laut, peluang kerja sama meliputi penyediaan bibit berkualitas, penerapan mekanisasi dan teknologi budidaya, serta perbaikan proses pengeringan dan penyimpanan hasil panen. Penguatan pada setiap tahapan tersebut diperlukan untuk menjaga konsistensi mutu bahan baku dan mendukung produksi olahan rumput laut bernilai tambah bagi pasar global.

Tilapia Indonesia bepeluang jangkau pasar ekspor premium
Perwakilan Asosiasi Tilapia Indonesia (ATI), Andhi Trapsilo, memaparkan bahwa nilai ekspor tilapia Indonesia pada Januari–November 2025 mencapai US$87,57 juta. Amerika Serikat menjadi pasar utama dengan pangsa 51,7%, diikuti Kanada sebesar 24,7%. Sementara itu, ekspor ke Uni Eropa tercatat US$7,13 juta atau setara 8,1% dari total nilai ekspor.
Baca juga
1. Lele marinasi asal Bandung tembus pasar Taiwan
2. Pasar global ikan nila berubah, apa peluang dan tantangan barunya?
3. USSEC dan ATI dorong penguatan posisi tilapia Indonesia di pasar ekspor
Nilai ekspor tilapia Indonesia mencapai US$6,98 per kilogram, tertinggi di antara eksportir utama dunia yang meliputi China, Kolombia, Vietnam, dan Taiwan. Menurut Andhi, capaian tersebut mencerminkan posisi tilapia Indonesia sebagai produk premium dan membuka peluang untuk memperluas penetrasi ke pasar dengan nilai jual lebih tinggi.
“Kami terbuka untuk berkolaborasi dengan seluruh pelaku industri tilapia di Indonesia,” ujar Andhi.
Ia juga menyoroti potensi penerapan konsep zero waste dalam industri pengolahan tilapia. Selain fillet sebagai produk utama, kulit dan sisik ikan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kolagen dan gelatin. Bagian lainnya juga bisa diolah menjadi tepung dan minyak ikan.
Pemanfaatan seluruh bagian ikan ini membuka peluang diversifikasi produk, sehingga nilai ekonomi tidak hanya bergantung pada penjualan fillet. Bagi pembudidaya, penguatan industri pengolahan dapat menjadi peluang untuk membangun rantai pasok yang lebih terintegrasi dengan pasar.
Rumput laut punya peluang di berbagai industri
Peluang pengembangan serupa juga terbuka bagi pembudidaya rumput laut. Perwakilan Indonesian Tropical Seaweed Association (INTROSEA), Artati Widarti, menjelaskan bahwa pemanfaatan rumput laut tidak terbatas pada produk hidrokoloid seperti karaginan dan agar.
Bahan baku rumput laut juga berpotensi dikembangkan menjadi beragam produk untuk industri pangan, kosmetik, farmasi, bioplastik, serta bahan pendukung sektor pertanian dan perikanan. Keragaman pemanfaatan tersebut dapat membuka pasar baru sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas rumput laut Indonesia.
Artati menyebutkan, kemitraan Indonesia–Eropa dapat dikembangkan melalui perdagangan produk turunan, penelitian, investasi, dan kegiatan pengolahan. Dukungan pengujian mutu, pemenuhan standar, serta akses pasar juga dibutuhkan agar produk rumput laut Indonesia semakin kompetitif.
Menurutnya, keterlibatan pembudidaya, industri, peneliti, dan pemerintah menjadi kunci untuk mengoptimalkan peluang tersebut. Dengan hubungan yang lebih kuat antara produksi dan industri hilir, pengembangan tilapia maupun rumput laut diharapkan tidak hanya meningkatkan daya saing produk, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi pembudidaya dan masyarakat pesisir.
***
Foto-foto: ©KKP



