Singapore Food Agency (SFA) dan Japfa Pte. Ltd. (JAPFA) menjalin kemitraan strategis untuk mengembangkan riset dan inovasi di bidang akuakultur tropis. Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) di sela-sela acara Singapore International Agri-Food Week (27/10).
Melalui kemitraan ini, kedua pihak akan mengeksplorasi solusi praktis untuk menjawab berbagai tantangan industri akuakultur, terutama dalam bidang kesehatan organisme akuatik, pengendalian penyakit, dan digitalisasi budidaya.
Pada tahap awal, kolaborasi akan berfokus pada dua bidang utama, yakni kesehatan organisme akuatik dan pengelolaan penyakit, serta pemanfaatan teknologi digital. Sejumlah potensi pengembangan yang dijajaki mencakup pemantauan dan diagnosis penyakit berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dukungan AI dalam pengambilan keputusan operasional budidaya, serta sistem ketertelusuran (traceability).
SFA dan JAPFA juga akan mengkaji bagaimana kemampuan riset Singapura dapat dipadukan dengan pengalaman komersial, operasional, dan teknologi yang dimiliki JAPFA beserta unit bisnis akuakultur di Indonesia, PT Suri Tani Pemuka (STP).
Dengan pengalaman lebih dari 50 tahun dalam produksi protein di Asia, mulai dari peternakan hingga akuakultur, JAPFA memiliki pemahaman mendalam mengenai karakteristik dan tantangan budidaya di wilayah tropis. Kolaborasi ini sekaligus membuka peluang bagi lembaga riset, penyedia teknologi, dan mitra industri di Singapura untuk mengembangkan solusi bersama guna mendeteksi penyakit dan risiko lingkungan lebih dini, sekaligus meningkatkan pengelolaan farm.
CEO SFA, Damian Chan, menegaskan bahwa riset dan pengembangan harus mampu menghasilkan solusi yang dapat diterapkan langsung untuk menjawab kebutuhan di lapangan.
“Nilai dari riset dan pengembangan terletak pada kemampuannya menerjemahkan inovasi ilmiah menjadi solusi praktis yang dapat menjawab kebutuhan nyata di sektor budidaya. Dengan menggabungkan kemampuan riset Singapura dengan keahlian operasional, teknologi, dan skala usaha JAPFA, kita dapat mempercepat pengembangan dan penerapan solusi praktis di bidang kesehatan organisme akuatik, pengelolaan penyakit, dan akuakultur digital,” ujar Damian.
Baca juga:
1. Benur udang bebas EHP tak hanya bergantung pada induk SPF
2. Peluang kemitraan tilapia dan rumput laut terbuka, pembudidaya bisa perkuat akses pasar
3. AquaDigest 2026 soroti strategi formulasi pakan di tengah gejolak pasar bahan baku
Senada dengan itu, Direktur sekaligus Chief Operating Officer Corporate Shared Services Japfa Pte. Ltd., Gabriella Santosa, menilai bahwa kemajuan akuakultur akan lebih optimal ketika kegiatan riset berjalan beriringan dengan praktik produksi.
“Produksi pangan secara efisien, berkelanjutan, dan dalam skala besar di kawasan kita membutuhkan pendekatan yang dikembangkan dan disempurnakan sesuai kondisi lokal, serta didukung oleh teknologi terkini. Kami menantikan kerja sama dengan SFA dan komunitas riset Singapura untuk mengeksplorasi solusi yang memberikan dampak nyata,” kata Gabriella.
Melalui MoU ini, SFA dan JAPFA berharap dapat mempererat hubungan antara dunia riset dan industri, sekaligus mempercepat pengembangan solusi yang dapat diterapkan dan diperluas penggunaannya di sektor usaha budidaya.
Selain memperkuat kapasitas Singapura dalam pengembangan akuakultur tropis, kemitraan tersebut juga diharapkan menjadi wadah untuk menghasilkan inovasi yang menjawab tantangan bersama industri akuakultur di kawasan Asia. Pada akhirnya, kerja sama ini ditujukan untuk mendukung sistem pangan regional yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
***
Foto: ©Japfa



