Tingginya kebutuhan protein hewani sumber ikan untuk beberapa program pemerintah, seperti pengentasan masalah stunting dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi anak sekolah, berimbas pada meningkatnya aktivitas budidaya dan pada gilirannya meningkatkan kebutuhan pakan sebagai variabel utama dalam proses budidaya.

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), total produksi perikanan Indonesia tahun 2025 mencapai 18,64 juta ton, di mana salah satunya berasal dari sektor budidaya. Jumlah tersebut itu ditargetkan akan meningkatkan lagi di tahun selanjutnya.

Pergeseran skala budidaya dari tradisional menjadi semi-intensif/intensif, guna mencapai target peningkatan produksi  nasional, berpengaruh pada peningkatan volume kebutuhan pakan. Saat ini, kebutuhan pakan akuakultur 90% disuplai oleh industri pakan skala besar dengan sebagian besar bahan bakunya berbasis impor.

Bila permintaan bahan baku pakan impor semakin tinggi, apalagi jika diperburuk dengan menurunnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang internasional, maka dikhawatirkan harga pakan  akansemakin mahal. Hal ini bisa menyebabkan keuntungan dan intensitas pembudidaya ikan makin menurun dan berdampak buruk terhadap produksi perikanan nasional.

Ketergantungan pada bahan baku impor

Salah satu faktor yang menjadi penyebab mahalnya pakan nasional adalah ketergantungan yang besar pada bahan baku impor, seperti tepung ikan, bungkil kedelai, dan pollard.  Tercatat, komponen bahan pakan impor yang digunakan dalam pakan ikan komersial porsinya mencapai 70%.

Sementara itu, pengembangan pakan lokal berbasis pemanfaatan limbah industri merupakan pendekatan penyediaan pakan nasional yang lebih ekonomis. Berbagai agroindustri tersebar di Indonesia, seperti kelapa sawit, coklat, tapioka, dan jagung, menghasilkan limbah yang berpotensi dijadikan sebagai sumber karbohidrat (kandungan protein <20%). Daun-daunan seperti lamtoro, biji karet, kecipir, dan berbagai tanaman air merupakan sumber protein nabati. Sedangkan hasil samping pengalengan ikan, ikan rucah, bekicot, cacing dan maggot merupakan sumber protein hewani  dengan kandungan protein di atas 20%.

Berbagai penelitian tentang cara pengolahan untuk meningkatkan nilai nutrisi  dan  jumlah substitusi optimal dalam pemanfaatan bahan-bahan lokal telah dikaji dan masih terus dieksplorasi. Bahan pakan lokal terbukti mampu mengurangi porsi bahan pakan impor dalam pakan tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan ikan. Evaluasi hasil penelitian tingkat penambahan bahan pakan lokal dalam pakan berbagai spesies ikan menunjukkan tingkat substitusi yang bervariasi antara 5-30% untuk sumber nabati dan sampai 40%  untuk sumber hewani dalam formulasi pakan.

Kualitas bahan baku lokal

Kajian tentang penggunaan bahan pakan lokal hasilnya mendokumentasikan penggunaan bahan pakan lokal dalam bentuk penyediaan pakan mandiri telah dilakukan oleh beberapa kelompok pembudidaya. Inisiatif penyediaan pakan mandiri berkembang di beberapa sentra perikanan seperti di daerah seperti Ciamis, Serang, Cianjur,  Tegal, Brebes, Purbalingga, Jogjakarta, Palembang, dan  Jambi. Meskipun kombinasi penggunaan pakan komersil dan pakan mandiri dapat menekan biaya produksi 10%-20%,  dari aspek kualitas hanya 20% pakan mandiri yang memiliki kualitas fisik yang memadai dan komposisi gizi yang berimbang.

Penelitian Azwar dan Heptarina (2010) menginformasikan bahwa faktor pembatas pada produk pakan mandiri adalah kandungan air yang tinggi, kadar abu yang tinggi (22,62%-44,79%), komposisi nilai gizi yang fluktuatif dipengaruhi pasokan bahan lokal,dan  kadar garam yang tinggi (20%). Beberapa penelitian pun menunjukkan faktor warna yang lebih gelap pada produk bahan pakan lokal (Gambar 1), sehingga akan berdampak pada warna produk akhir yang cenderung lebih gelap dibandingkan dengan pakan komersil buatan pabrik (Gambar 2).

Gambar 1. Tepung ikan lokal (kanan) dan tepung ikan impor (kiri). ©Yuli Andriani

Gambar 1. Tepung ikan lokal (kanan) dan tepung ikan impor (kiri). ©Yuli Andriani

Ditinjau dari aspek nutrisi, kualitas pakan mandiri masih tidak sesuai dengan kualifikasi yang disyaratkan oleh SNI ataupun NRC (1992) tentang nilai kecukupan kebutuhan gizi dalam pakan ikan. Hal ini bertolakbelakang dengan kebutuhan pakan pada budidaya semi intensif dan intensif yang mensyaratkan pakan harus memiliki kualitas gizi yang baik dan homogen, memiliki kandungan air yang rendah, mudah  diperoleh  dan kontinuitas yang terjamin. Lebih jauh diketahu bahwa masalah dalam penyediaan bahan pakan lokal adalah : kualitas produk yang masih rendah dan fluktuatif,  dan volume produksi yang tidak stabil, sehingga tidak mampu memenuhi kegiatan budidaya ikan secara kontinyu.

Gambar 2. Warna pakan semakin gelap dengan penambahan bahan pakan lokal. ©Yuli Andriani

Gambar 2. Warna pakan semakin gelap dengan penambahan bahan pakan lokal. ©Yuli Andriani

Upaya peningkatan kualitas

Diperlukan peran serta pemerintah dalam meningkatkan kualitas bahan pakal lokal. Salah satunya dengan melakukan pendampingan pada industri bahan pakan lokal sehingga mampu menghasilkan produk yang sesuai dengan standar, yaitu  produk perikanan wajib memenuhi persyaratan kelayakan, sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan yang terdiri dari subsistem: Pengawasan dan pengendalian mutu; pengembangan dan penerapan persyaratan atau standar bahan baku, persyaratan atau standar sanitasi dan teknik penanganan serta pengolahan, persyaratan atau standar mutu produk, persyaratan atau standar sarana dan prasarana, serta persyaratan atau standar metode pengujian, dan sertifikasi .

Pengaturan produk agar memiliki daya saing kompetitif dan sejalan dengan isu kemanan pangan telah diatur pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 86 Tahun 2019 tentang Keamanan Pangan. Lebih jauh lagi, peran pemerintah lebih diharapkan pada perbaikan rantai tataniaga dan distribusi pakan yang lebih efisien, regulasi dan kebijakan yang melindungi dan mendukung terhadap pemyediaan bahan pakan lokal yang stabil dan kontinu. Hal ini dapat dilakukan dengan penerapan pajak progresif pada bahan pakan import, sehingga pengadaan bahan pakan bergerak pada pemanfaatan bahan lokal.

Selain itu aspek penguatan modal melalui koperasi dan kelompok usaha tani, serta  subsidi terhadap komponen produksi budidaya ikan, seperti pupuk dan  obat, akan meningkatkan minat masyarakat dalam usaha di sektor perikanan dan pada gilirannya akan berkontribusi pada peningkatan produksi perikanan budidaya. Semoga segera terwujud Indonesia yang mapan pangan seperti harapan kita bersama.
***

Penulis: Prof. Yuli Andriani
Editor: Asep Bulkini