Setelah AHPND (Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease), yang sempat dikenal dengan nama early mortality syndrome (EMS) karena dampak kematian yang ditimbulkan pada masa-masa awal budidaya, kini tantangan baru penyakit udang bisa mematikan lebih awal lagi. Penyakit ini bisa menyerang udang pada fase paling rentan dalam siklus hidupnya, stadia post-larvae (PL). Penyakit tersebut dikenal sebagai Translucent Post-Larva Disease (TPD), sebuah penyakit bakteri yang pertama kali dilaporkan di Tiongkok pada 2020-an dan kini mulai terdeteksi di beberapa negara produsen udang utama di Asia.
Seorang pakar dari Blue Aqua, Dr. Wiphada Mitbumrung, dalam sebuah webinar yang diadakan oleh PT Bahtera Adi Jaya baru-baru ini mengatakan bahwa TPD dinamai berdasarkan gejala visualnya yang paling khas, yaitu tubuh PL udang yang tampak transparan atau menyerupai kaca. Penyakit ini menyerang udang pada fase sangat dini, yakni PL 4-7, dan dikenal memiliki periode serangan yang sangat singkat namun mematikan.
Dalam banyak kasus, kematian massal dapat terjadi hanya dalam waktu tiga hari sejak infeksi awal, dengan tingkat mortalitas mencapai 90–100% pada kondisi parah. “Yang membuat TPD sangat berbahaya adalah waktunya sangat singkat. Dalam tiga hari, kita bisa kehilangan seluruh populasi PL tanpa sempat menyadarinya,” jelas Wiphada.
Penyebab TPD: Vibrio dengan virulensi tinggi
Menurut Wiphada, TPD disebabkan oleh bakteri Vibrio parahaemolyticus, yang secara spesifik dikenal sebagai VpTPD. Berbeda dengan strain Vibrio penyebab AHPND, bakteri ini membawa plasmid khusus yang mengode protein virulensi tinggi bernama vhvp-2. Protein ini menghasilkan toksin SpvB dan TcdB, yang menargetkan jaringan udang pada fase PL.
Penelitian terbaru bahkan menemukan bahwa plasmid serupa tidak hanya terdapat pada Vibrio parahaemolyticus, tetapi juga pada Vibrio campbellii, yang semakin memperluas potensi penyebaran penyakit ini. Spesies udang laut seperti Litopenaeus vannamei dan Penaeus japonicus dilaporkan cenderung lebih sensitif terhadap TPD dibandingkan spesies air tawar.
Gejala klinis dan perubahan jaringan
Secara klinis, udang yang terinfeksi TPD menunjukkan penurunan nafsu makan, usus kosong, serta hepatopankreas yang pucat. Warna tubuh, mulai dari cephalothorax hingga segmen abdomen, berubah menjadi transparan. Meski sekilas menyerupai gejala AHPND, TPD memiliki karakteristik patologis yang berbeda
Pemeriksaan histopatologi menunjukkan bahwa pada tahap awal, hanya terjadi nekrosis ringan pada hepatopankreas. Namun pada fase akut, bakteri menginvasi sel secara masif, menyebabkan pengelupasan (sloughing) sel epitel hepatopankreas. Pada tahap lanjut, koloni bakteri bahkan bermigrasi ke bagian midgut dan memperparah kerusakan jaringan.
Tantangan diagnosis dan risiko salah deteksi
Wiphada menyampaikan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam penanganan TPD adalah kesulitan diagnosis. Pada awal kemunculannya, TPD kerap disalahartikan sebagai AHPND karena kemiripan gejala. Namun hasil uji PCR menunjukkan bahwa sampel TPD sering kali negatif terhadap primer AHPND. Hal tersebut menandakan bahwa keduanya adalah penyakit yang berbeda.
Ia juga menekankan bahwa mutasi genetik pada bakteri Vibrio dapat menyebabkan kegagalan deteksi jika metode diagnostik tidak diperbarui. “Satu perubahan kecil pada gen bisa membuat PCR tidak lagi mengenali patogen tersebut,” ujarnya
Upaya pencegahan
Hingga saat ini, belum ada pengobatan spesifik untuk TPD. Oleh karena itu, pencegahan tetap menjadi kunci utama. Wiphada menekankan bahwa budidaya yang sukses harus dimulai dari fondasi yang kokoh. “Budidaya udang yang sukses dimulai dengan fondasi yang kokoh – Kualitas indukan, PL yang sehat, nutrisi seimbang, dan pola budidaya yang baik,” ujarnya.
Berikut adalah beberapa langkah krusial dalam menangani dan mencegah penyebaran TPD berdasarkan sumber presentasi tersebut:
- Pemilihan hatchery yang tepat: Petambak disarankan untuk memilih hatchery dengan reputasi baik dan penerapan biosekuriti yang sangat ketat. Hal ini penting karena 80% penyakit udang sebenarnya berasal dari hatchery.
- Kualitas indukan (broodstock): Indukan harus memiliki kualitas genetik yang baik dan usia yang cukup (minimal 7 bulan) untuk memastikan sistem reproduksi yang optimal. Indukan yang terlalu muda cenderung menghasilkan PL dengan kualitas rendah dan daya tahan yang lemah.
- Pemeriksaan kualitas PL secara ketat: Jangan hanya mengandalkan tampilan visual udang. Penggunaan alat diagnosis seperti PCR sangat direkomendasikan karena akurasi dan sensitivitasnya yang tinggi dalam mendeteksi patogen spesifik.
- Sampling yang akurat: Masalah yang sering terjadi adalah false negative (hasil negatif palsu) karena jumlah sampel yang terlalu sedikit. “Sampling itu penting. Jumlah udang yang di-sampling secara langsung mempengaruhi akurasi pendeteksian penyakit,” tegasnya. Jika hanya mengambil 30 ekor dari satu juta PL, risiko adanya udang terinfeksi yang lolos akan sangat besar.
- Nutrisi yang seimbang: Penggunaan pakan berkualitas tinggi dengan kandungan protein laut (seperti tepung ikan dan minyak ikan) sangat penting untuk membangun sistem kekebalan tubuh udang yang kuat agar mampu melawan infeksi bakteri.
Selain itu, kewaspadaan regional juga penting. Meski belum dilaporkan secara resmi di Indonesia, penyebaran TPD di Tiongkok, Thailand, dan India menjadi sinyal kuat bahwa penyakit ini berpotensi masuk jika tidak diantisipasi sejak dini. TPD menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit udang terus berevolusi, sering kali lebih cepat dari kesiapan sistem budidaya. Tanpa deteksi dini dan fondasi hatchery yang kuat, penyakit ini dapat menjadi “pembunuh senyap” baru bagi industri udang global.
TPD juga mengingatkan para petambak bahwa manajemen biosekuriti bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan. Dengan memahami penyebab dan gejala klinis secara mendalam, serta menerapkan pengujian kesehatan yang ketat sejak di tingkat benur, industri udang diharapkan dapat lebih tangguh dalam menghadapi ancaman penyakit yang terus bermutasi.
***



