Pada artikel sebelumnya telah diulas bagaimana mikrobiom memiliki peran sangat penting bagi kesehetan saluran pencernaan dan kesehatan udang secara keseluruhan. Keseimbangan dinamika mikrobiota pada mikrobiom menandakan bahwa mikrobiom tersebut sehat dan bisa memberikan dampak positif pada saluran pencernaan dan kesehatan udang. Lalu bagaimana cara mengetahui mikrobiom pada udang itu sehat?

Ciri-ciri mikrobiom yang sehat

Menurut Guru Lead and Health DELOS sekaligus Dosen Budidaya Perairan IPB University, Dr. Julie Ekasari, parameter pertama yang menandai kesehatan mikrobiom adalah keragaman mikrobiotanya yang tinggi. Keragaman tersebut ibarat hutan hujan tropis yang terdiri dari berbagai jenis flora dan fauna. Semakin beragam, semakin kuat dan dapat menopang eksositem dalam menghadapi perubahan. Tingkat keragaman mikrobiota yang tinggi dalam mikrobiom juga dapat meningkatan risiliensinya terhadap perubahan lingkungan. 

Berkaitan dengan parameter tersebut, tanda lain bahwa mikrobioim itu sehat adalah sebagian mikrobiotanya memiliki fungsi yang sama (functional redundancy) dengan sebagian yang lain. 

“Karena masing-masing (mikrobiota) itu memiliki peran. Sehingga kalau ada satu penghuni yang tidak ada, mungkin karena pindah atau mati, itu bisa digantikan dengan cepat oleh yang lain. Sehingga kalau ada apa-apa, kestabilan mikrobiota dan kestabilan fungsi-fungsi aktivitas dari mikrobiota tersebut bisa terjaga.” ujar Julie.

Selain itu, fleksibilitas metabolik yang tinggi juga jadi paramter kesehatan mikrobiom. Hal tersebut berkaitan erat dengan nutrien yang masuk ke dalam saluran pencernaan. Semakin baik kondisi mikrobiom (komposisi dan fungsinya), maka ia akan stabil dalam merespon perubahan makanan yang masuk ke dalam saluran pencernaan.

Baca juga: Peran dan pengaruh mikrobiom pada saluran pencernaan udang (Part 1)

Kesehatan mikrobiom selanjutnya ditandai dengan adanya interaksi mikroba yang sehat. Menurutnya, hal ini bukan berarti semua interaksi mikroba harus bersifat simbiosis mutualisme atau saling menguntungkan. Melainkan, ada juga diantaranya yang harus berinteraksi secara amensalisme (menguntungkan salah satu pihak) untuk menekan perkembangan patogen. 

“Jadi misalnya dia (mikroba) menghambat pertumbuhan ataupun faktor virulensinya dari bakteri-bakteri patogen. Karena bagaimanapun juga sebetulnya bakteri patogen itu memang sudah ada dalam saluran pencernaan. Tetapi pada mikrobium yang sehat, ada memang bakteri-bakteri yang memiliki fungsi amensalisme, yang mencegah supaya bakteri patogen ini tidak berkembang lebih banyak,” terang Julie.

Dr. Julie Ekasari

Dr. Julie Ekasari saat memaparkan topik mikrobiom di webinar Opini yang diadakan Delos dan DMI. ©Youtube/@DelosAqua

Agar bisa memiliki fungsi amensalisme atau menjadi kompetitor, mikrobiom sehat perlu memiliki presensi kolonisasi pada saluran pencernaan. Yakni mikrobiota memiliki kemampuan untuk bisa tinggal dalam jangka waktu yang lama di dalam saluran pencernaan. Sehingga mereka bisa mencegah kolonisasi bakteri atau mikrobiota yang bersifat patogen. 

“Kemudian yang berikutnya adalah pembentukan biofilm di sepanjang saluran pencernaan. Ini juga penting karena saluran pencernaan udang seperti yang kita lihat tadi, ini kan relatif pendek. Sehingga kalau dia tidak bisa melekat dengan baik atau dia tidak bisa membentuk biofilm dengan baik di sepanjang saluran pencernaan, maka si mikrobiota ini akan terbawa dengan partikel feses keluar melalui gerakan peristaltik usus.” imbuhnya. 

Menajaga kesehatan mikrobiom

Seperti dibahas pada artikel sebelumnya, keseimbangan mikrobiom pada saluran pencernaan bisa berubah akibat berbagai faktor. Baik perubahan menjadi lebih baik, atau menjadi lebih buruk (disbiosis). Mikronbiom juga secara simultan memengaruhi dan dipengaruhi oleh kebaradaan patogen di dalam tubuh udang. Di satu sisi mikrobiom bisa mengontrol dominasi bakteri patogen di saluran pencernaan. Tapi di sisi lain, jika kondisinya tidak menguntungkan, keseimbangannya lah yang justru terganggu oleh bakteri patogen.

Baca juga: Tantangan dan strategi menghadapi penyakit pada budidaya udang

Namun demikian, perubahan mikrobiom, terutama ke arah negatif atau disbiosis, bisa diminimalisir dengan beberapa upaya. Salah satunya, yang merupakan bagian tersulit, adalah dengan menekan tingkat stress pada udang. Langkah ini dikatakan sulit karena umumnya jenis tambak di Indonesia adalah tambak terbuka dengan karakter perubahan lingkungan cukup tinggi. Sehingga mudah membuat udang stress. 

Upaya menjaga kesehatan mikrobioim juga dapat dilakukan dengan cara mengurangi potensi masuknya patogen ke dalam lingkungan budidaya maupun ke dalam saluran pencernaan. Hal ini, kata Julie, bisa dilakukan dengan pengetatan sistem biosecurity di tambak. 

Selain itu, kesehatan mikrobiom juga dapat dijaga dengan cara melakukan intervensi eksternal. Yakni dengan cara menambahkan prebiotik, probiotik, hingga feed additive. Penambahan prebiotik dan probiotik diharapkan bisa mendukung perkembangan bakteri baik di saluran pencernaan maupun lingkungan. Menurut Julie, aplikasi probiotik dalam budidaya udang cukup menantang, sebab pada kenyataannya bakteri tersebut tidak selalu memberikan jaminan dapat tumbuh dan berkembang sesuai harapan.

Sehingga menurutnya, petambak tidak bisa asal memberikan probiotik. Namun perlu juga mengevaluasi berapa kira-kira dosis yang paling efektif. Apalagi jika sistem produksinya menerapkan pergantian air yang membuka peluang bakteri yang sudah menghuni tambak dan beradaptasi bisa ikut terbawa keluar. Khusus untuk saluran pencernaan, petambak juga perlu memastikan probiotik apa yang mendominasi atau yang ingin dibuat mendominasi, sehingga kemudian bisa memilih jenis prebiotik dan probiotik yang paling cocok.

“Bagaimana dosisnya, cara-cara mengaktifkannya, atau bagaimana cara supaya probiotik itu tetap ada dalam pakan dan kemudian bisa aktif dalam saluran pencernaan? Ini masih perlu dikaji lagi.” pungkas Julie.

***

Penulis: Asep Bulkini