Penyakit sudah tak asing lagi di telinga para pembudidaya udang. Penyakit bahkan menjadi faktor pembatas dalam keberhasilan budidaya. Hal tersebut tidak mengherankan karena pada dasarnya patogen sumber penyakit berada di sekitar udang yang dipelihara. Ia muncul dan menyerang udang saat terjadi ketidakseimbangan antara inang (udang) dan lingkungan. 

Sumber penyakit dalam kegiatan akuakultur, termasuk budidaya udang, dapat berasal dari virus, bakteri, fungi, ataupun parasit. Dalam sebuah webinar, ahli penyakit dari PT. Central Proteina Prima Dr. Heny Budi Utari pernah mengatakan bahwa sumber penyakit di tambak udang 58% disebabkan oleh virus, 22% oleh bakteri, 7% oleh fungi, dan 5% oleh parasit.

Menurutnya, terdapat lebih dari 20 genus atau tipe patogen yang menyerang udang. Lima diantaranya yang masih tetap eksis hingga kini yaitu White Spot Syndrome Virus (WSSV), Infectious Myonecrosis Virus (IMNV), Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND), Enterocytozoon Hepatopenaei (EHP), dan White Feces Disease (WFD). Sementara, tiga diantaranya akan menjadi tantangan di masa depan seperti white muscle, Convert Mortality Nodavirus (CMNV), dan Decapod Iridescent Virus 1 (DIV 1).

Selain serangan penyakit akibat patogen tunggal, dewasa ini ditemukan juga multipel infeksi yang menyebabkan udang terserang lebih dari satu penyakit. Sebagai contoh, ketika awal tebar udang ditemukan white spot dan kemudian pada DOC 30-an, ditemukan EHP dan WFD yang diperparah ketika cuaca tidak menentu. Sama halnya dengan AHPND yang ditakutkan akan bermultipel dengan penyakit IMNV ataupun WSSV. Hal tersebut menyebabkan kerugian yang berlipat-lipat bagi petambak.

Baca juga: Dampak EHP pada udang dan cara deteksi yang efektif

Lima penyakit utama pada udang dan gejalanya

Penyakit lama seperti WSSV dan IMNV hingga kini masih menginfeksi udang di tambak-tambak daerah Lampung, Medan, dan di beberapa area di utara Pulau Jawa. Kedua penyakit ini banyak menyerang tambak-tambak ekstensif dan semi intensif. Umumnya, infeksi penyakit WSSV akan meningkat pada musim hujan sedangkan infeksi IMNV meningkat pada musim kemarau. Stres lingkungan, carrying capacity, serta overfeeding yang diperparah dengan cuaca yang tak menentu, meningkatkan potensi infeksi kedua penyakit ini.

Udang yang terserang WSSV biasanya akan kehilangan nafsu makan, warna tubuh menjadi gelap, dan terdapat bercak-bercak putih. Tingkah laku udang pun akan berubah, seperti menurunnya aktivitas berenang, sering berenang ke permukaan, berenang tak berarah, dan cenderung bergerombol di tepi tambak. Jika umumnya udang yang terserang WSSV di fase pembeseran akan timbul bercak putih, gejala WSSV pada induk udang biasanya terlihat pada karapasnya yang kemerahan.

Sementara IMNV atau myo mampu membunuh udang hingga 70%. Penyakit ini akan menyerang bagian punggung dan ekor yang menyebabkan nekrosis ekstensif yang menjadikan jaringan otot berwarna putih. Umumnya, udang yang terinfeksi IMNV akan mengalami lesi pada otot skeletal, koagulasi nekrosis termasuk nekrosis multifocal, kongesti pada hemocyte, inflamasi fibriocytic, fagositosis, dan infiltrasi hemocyte.

Penyakit lainnya yakni EHP dan WFD. EHP disebabkan oleh fungi microsporidia (Enterocytozoon hepatopenaei). Penyakit ini mengakibatkan pertumbuhan udang yang lambat disertai dengan penurunan nafsu makan. Tingkat kematian udang yang diasebabkan EHP bisa mencapai 10 ̶ 20%. Infeksi EHP menyebabkan beberapa organ putus, karapas pucat dan melunak, serta respon gerak lambat dan lemah. Tingkat virulensi EHP dapat meningkat ketika terjadi peningkatan salinitas air tambak yang cukup tinggi. Selain itu, EHP bahkan dapat berasosiasi dengan WFD berak putih.

Seperti diketahui, WFD disebabkan oleh serangan Vibrio sp. Gejala yang timbul ketika udang terserang WFD ialah menurunnya nafsu makan, usus yang memutih bahkan kosong karena asupan makanan yang kurang, banyaknya feses yang berwarna putih mengambang di permukaan, serta pertumbuhan yang tidak normal. WFD dapat disebabkan karena manajemen budidaya yang buruk, benur yang tidak sehat, serta lambatnya penanganan penyakit. WFD dapat menyebar dengan cepat melalui air terutama pada kolam dengan padat tebar tinggi.

Baca juga: Aplikasi probiotik untuk menekan Vibrio dalam budidaya udang vaname

Penyakit terakhir dan relatif belum lama mewabah adalah AHPND. Tanda-tanda ketika udang terinfeksi AHPND ialah pertumbuhan yang terlambat, terlihat lesu, berenang secara spiral, hepatopankreas mengkerut dan pucat bahkan mengalami atrofi (penyusutan), kosongnya usus dan lambung, karapas yang melunak, dan feses yang berwarna putih. AHPND dapat menyerang pada DOC 10 serta dapat berasosiasi dengan penyakit lain seperti WSSV, EHP, ataupun IMNV. 

Daerah yang pernah terserang penyakit AHPND akan menjadi area endemic AHPND dan berkemungkinan tinggi untuk terserang kembali. Infeksi AHPND dipicu oleh kualitas benur yang kurang  bagus, kematian plankton, kualitas air yang kurang stabil, dan sedimen yang menumpuk.

Antisipasi penyebaran penyakit di tambak

Penyakit-penyakit yang disebutkan di atas dapat secara umum dapat diatasi dengan manajemen budidaya udang yang baik, yang meliputi pencegahan dan penanggulangan. Berikut beberapa langkah manajamen budidaya udang di tambak agar meminimalisir serangan penyakit.

  • Penerapan biosecurity

Penerapan biosecurity yang dapat dilakukan seperti mencuci kaki dan alas kaki menggunakan desinfektan dan mencuci tangan sebelum memasuki kawasan tambak. Pemasangan waring pada saluran inlet, bird scaring device (BSD), dan pagar waring supaya tidak ada burung ataupun carrier memasuki kawasan tambak, serta pagar waring ini pun berguna untuk menghalau busa atau percikan air dari tambak terdekat memasuki tambak lainnya. Serta tak kalah penting, melalukan sanitasi pada peralatan tambak secara rutin.

  • Instalasi Pengolahan Air Limbah atau IPAL

Instalasi Pengolahan Air Limbah atau IPAL tak kalah pentingnya dengan penerapan biosecurity. Penerapan IPAL menunjukkan keberlangsungan budidaya tambak udang yang dijalankan. Air limbah tambak udang yang dibuang langsung kedalam perairan bebas tanpa adanya pengolahan mengandung patogen yang berasal dari feses dan sisa pakan, dapat mencemari lingkungan secara jangka panjang.

Risiko-risiko lain yang dapat muncul ketika tambak tidak memiliki IPAL antara lain, muara sungai ataupun perairan pesisir mengalami pendangkalan, konsentrasi bahan organik dalam air laut meningkat, pembentukan lapisan anoksia atau rendah oksigen dan lapisan yang bersulfida tinggi (euxinia) di laut, serta meningkatnya bakteri yang resisten tinggi terhadap antibiotik, probiotik, dan disinfektan seperti bakteri Vibrio parahaemolyticus.

  • Memilih benur berkualitas

Selain menerapkan biosecurity dan IPAL, hal yang tidak kalah krusial dalam manajemen budidaya udang ialah kualitas benur. Penggunaan benur yang bersertifikat sangat dianjurkan untuk kerberlanjutan kegiatan budidaya. Sertifikat yang dimaksud ialah sertifikat Specific Phatogen Free (SPF) dan Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB).

Sertifikat SPF pada benur menunjukkan bahwa benur telah diperiksa dan terbukti bebas dari beberapa jenis patogen, seperti WFD, IMNV, TSV, CMNV, WSSV, dan AHPND. Bahkan akan lebih baik lagi jika benur yang digunakan ialah benur specific pathogen resistant (SPR). Sementara sertifikat CPIB menunjukkan bahwa benur dipelihara sesuai pedoman CPIB dan dalam lingkungan yang terkontrol dengan memenuhi kriteria dan persyaratan teknis, manajemen, keamanan pangan, serta lingkungan. Sertifikat CPIB dikeluarkan guna memastikan bahwa benur yang beredar aman dikonsumsi dan bebas dari zat berbahaya.

Referensi:
  • Adam MA, Widiastuti IM, Ernawati, Yayan AY, Insivitawati E, Yuliana, Pakaya RF, Soegianto A, Khumaidi A. 2022. Analysis of white fecec disease (WFD) caused by Vibrio sp. and dinoflagellate in vannamei shrimp (Litopenaeus vannamei) in brackishwater culture pond. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. 14(1):160-166.
  • Ariadi H, Mardiana TY, Linayati. 2022. Aplikasi penerapan biosecurity pada kegiatan budidaya udang di PT. Manunggal Setia Makmur, Kabupaten Probolinggo. Jurnal Komunitas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat. 4(2):167-170.
  • Desrina, Prayitno SB, Haditomo AHC, Latritiani R, Sarjito S. 2020. Detection of enterocytozoon hepatopenaei (EHP) DNA in the polychaetes from shrimp ponds suffering white feces syndrome outbreaks. Biodiversitas. 21(1):369-374.
  • Hamzah, Srinawati, Lideman. 2022. Pola serangan penyakit komplikasi EHP dan WSSV pada Litopenaeus vannamei di tambak intensif. Prosiding Simposium Nasional IX Kelautan dan Perikanan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin. 2022 Jun 4; Makassar, Indonesia. Makassar. hlm 161-174.
  • Sanz VA. 2018. Specific pathogen free (SPF), specific pathogen resistant (SPR) and specific pathogen tolerant (SPT) as part of the biosecurity strategy for whiteleg shrimp (Penaeus vannamei Boone 1931). Asian Fisheries Science. 112-120.
  • Sarah H, Prayitno SB, Haditomo AHC. 2017. Studi kasus keberadaan penyakit IMNV (infectious myonecrosis virus) pada udang vaname (Litopenaeus vannamei) di pertambakan Pekalongan, Jawa Tengah. Journal of Aquaculture Management and Technology. 6(3):106-11.
  • Sau F, Sarma M, Trilaksani W. 2017. Penerapan cara pembenihan ikan yang baik dalam meningkatkan kinerja UMKM pembenihan udang di Kabupaten Barru, Provinsi Sulawesi Selatan. Manajemen IKM. 12(1):15-24.
  • Suryana A, Asih ENN, Insafitri. 2023. Fenomena infeksi acute hepatopancreatic necrosis disease pada budidaya udang vaname di Kabupaten Bangkalan. Journal of Marine Research. 12(2): 212-220.
  • Zaujat RC, Setiyaningsih S, Lusiastuti AM. 2016. Prevalensi dan karakteristik molekuler infectious myonecrosis virus (IMNV) di sentra budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) Provinsi Banten. Acta Veterinaria Indonesia. 4(2):88096.
  • https://sustainaquaindonesia.org/2021/11/17/ipal-minimalis-untuk-tambak-udang-sebagai-solusi-praktis-pengolahan-limbah-tambak/

***

Penulis: Tiara
Editor: Asep Bulkini