Penyakit Enterocytozoon hepatopenaei (EHP) punya mekanisme yang berbeda dalam menyebabkan kerugian pada budidaya udang, dibanding penyakit lain. Tidak seperti Acute Hepatopancreatic Necrosis Disesase (AHPND) yang bisa menyebabkan kematian hingga 100%, penyakit EHP tidak berpengaruh langsung pada kematian, tapi tetap bisa mencetak kerugian hingga seperempat biaya produksi.

Dampak yang ditimbulkan oleh penyakit ini adalah perlambatan pertumbuhan udang. Adanya penyakit EHP ditandai dengan variasi ukuran udang yang signifikan di kolam yang sama. Hasil yang tentu merugikan pembudidaya karena membuat harga jual turun, sementara FCR-nya (Feed Convertion Ratio) justru jadi bengkak. 

Penyakit ini menjadi sorotan utama dalam webinar berjudul “Kenali Penyakit EHP (Enterocytozoon hepatopenaei) pada Udang dan Cara Antisipasinya” yang dihelat oleh Minapoli belum lama ini. Salah satu pembicara pada webinar tersebut adalah Andrew Shinn, seorang ahli kesehatan ikan sekaligaus Global Technical Expert INVE,  yang menerangkan tentang mekanisme penularan penyakit EHP serta cara skrining mandiri di tambak.

Patogenitas dan penularan

Andrew menerangkan bahwa EHP termasuk patogen dalam kategori Microsporidian atau sejenis fungi yang menginfeksi sel inang dengan menggunakan spora.  EHP dapat bertahan hidup dalam tubuh udang dengan cara menyerang sel hepatopankreasnya.

Patogen EHP hinggap pada sel hepatopankreas dan mengambil nutrisi di dalamnya untuk perkembangbiakan bibit spora. Ketika spora telah matang, sel hepatopankreas akan hancur dan mengeluarkan bibit patogen baru yang siap menginfeksi sel inang lainnya. Mekanisme inilah yang mengintervensi proses pencernaan yang menyebabkan pertumbuhan udang jadi terhambat. Pertumbuhan sebagian udang yang melambat dalam satu kolam ini menyebabkan adanya kesenjangan ukuran yang besar.

Menurut Andrew, udang dapat terinfeksi oleh EHP melalui dua alur, yaitu:

  1. Horizontal, yaitu penularan melalui sedimen atau pakan alami yang menjadi vektor spora EHP.
  2. Vertikal, yaitu penularan yang diturunkan oleh induk udang yang terinfeksi EHP.
Gejala EHP pada udang

Perbedaan ukuran udang akibat EHP menyebabkan konversi pakan jadi tidak efisien. Hal ini merugikan karena biaya produksi jadi meningkat.
Dok.: BPKIL Serang

Baca juga: Aplikasi probiotik untuk menekan Vibrio dalam budidaya udang vaname

Penularan yang cepat

Dalam penularan horizontal, EHP menunjukkan daya tular yang relatif cepat. Penularan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti jumlah spora yang terdapat di tambak (beban spora), jumlah udang yang telah terinfeksi, ukuran dan kepadatan udang, substrat atau Total Suspended Solid (TSS), durasi kontak spora dengan udang, kualitas air, hingga aerosol.

Istilah “aerosol” mengacu pada percikan atau tetesan air yang mengandung spora EHP. Dari hasil temuan lapangnya baru-baru ini, Andrew menerangkan bahwa media budidaya udang dapat terinfeksi hanya dari percikan air yang mengandung spora EHP.

Selain itu, ia juga menjelaskan laju penularan EHP dalam menginfeksi udang melalui hasil penelitiannya. Percobaan tersebut dilakukan dengan memberi pakan berupa hepatopankreas udang yang terinfeksi ke udang yang masih sehat.

Hepatopankreas udang yang mengandung 2,56 x 10ˆ7 spora EHP dicincang dan diberikan sebanyak 2,5 gram masing-masing ke 30 sample udang sehat. Setelah 7 hari, hepatopankreas 30 udang tersebut diteliti dan telah terdapat ± 10.000 spora EHP di dalam masing-masing spesimen. Kesimpulan yang didapat adalah spora EHP punya kemampuan infeksi cepat terhadap sel hepatopankreas.

Kerugian akibat EHP

Penyakit EHP pertama kali ditemukan menyerang udang windu di Thailand pada tahun 2009. Kemudian, wabah EHP juga ditemukan pada udang vaname dan menyebar ke negara-negara Asia lainnya seperti India, Cina, Thailand, Vietnam, dan juga Indonesia. 

Dalam beberapa laporan, EHP tercatat telah menimbulkan dampak ekonomi yang besar pada bisnis udang di negara-negara tersebut:

Kerugian ekonomi akibat EHP umumnya disebabkan oleh inefisiensi FCR akibat perlambatan pertumbuhan udang. Dalam penelitian Andrew terhadap 106 kolam di Thailand, ada perbedaan rata-rata bobot udang yang dipanen, antara udang dari kolam yang terserang EHP dan tidak. Hasil panen udang pada kolam yang tidak terinfeksi EHP memiliki berat rata-rata 18,7 gram, sementara yang terinfeksi hanya 13 gram.

Menurutnya, nilai FCR pada kolam yang tidak terinfeksi adalah 1,39. Sedangkan pada kolam yang terinfeksi EHP, FCR-nya bisa mencapai 1,47. Peningkatan FCR pada kolam udang yang terinfeksi EHP disinyalir turut meningkatkan biaya produksi hinga  23,2%.

Baca juga: Bagaimana tepung spirulina dapat meningkatkan performa udang vaname

Skrining mandiri

Penyakit EHP dapat dideteksi sejak dini dengan melakukan beberapa langkah pengamatan. Langkah yang paling mudah adalah sampling gejala klinis pada udang. Udang yang terkena EHP menunjukkan gejala klinis berupa cangkang tubuh yang lunak, adanya luka atau lesi di tubuh udang, serta ujung ekor yang bengkak. Ujung ekor yang bengkak mengindikasikan sudah terjadinya koinfeksi EHP dengan bakteri lanjutan.

Untuk meyakinkan hasilnya, pengamatan dapat dilanjutkan dengan menggunakan mikroskop. Menurut Andrew, pengamatan mikroskopis bertujuan untuk meliha tbagian hepatopankreas dan usus, terutama pada bagian sambungan antara hepatopankreas dan usus sebagai lokus utama berkumpulnya spora EHP.

Pengamatan mikroskopis diawali dengan membedah operkulum atau tutup insang, lalu menarik esofagus secara perlahan hingga mencapai usus. Kemudian, organ hepatopankreas dipisahkan dengan bagian ususnya.

Adapun persiapan spesimen hepatopankreas dilakukan dengan langkah berikut:

  1. Hepatopankreas dibagi menjadi 3 bagian. Yaitu anterior (bagian atas), median (bagian tengah), dan posterior (bagian bawah);
  2. Potong sedikit hepatopankreas pada masing-masing bagian tersebut dan letakkan di atas kaca preparat;
  3. Berikan minyak imersi;
  4. Tutup spesimen dengan kaca preparat;
  5. Amati dengan mikroskop perbesaran 100 kali.

Sementara, persiapan spesimen usus dilakukan dengan langkah berikut:

  1. Letakkan usus di atas kaca preparat;
  2. Keluarkan feses dengan cara diperas dari ujung ke ujung;
  3. Bersihkan dengan larutan NaCl;
  4. Berikan minyak imersi;
  5. Tutup spesimen dengan kaca preparat;
  6. Amati dengan mikroskop perbesaran 100 kali.

Infeksi EHP dapat diketahui jika muncul gugus spora (kumpulan spora berbentuk bundar) di sekitar spesimen. Gugus tersebut biasanya muncul dengan warna biru-hijau.

Dalam presentasinya, Andrew menambahkan cara lanjutan untuk memudahkan pengamatan. Sebelum spesimen diberikan minyak imersi, bisa ditambahkan 1-2 tetes cairan phloxine B dan didiamkan dulu selama 5-10 menit. Setelah itu, baru ditambahkan minyak imersi dan ditutup dengan kaca preparat. Dengan cara tersebut, gugus spora akan terlihat jauh lebih jelas karena cairan phloxine B dapat memberikan warna merah pada sel-sel spora EHP.

*Sumber foto utama: KKP

***

Penulis: Aditya Mukti Pramana

Editor: Asep Bulkini