Sebagian masyarakat menganggap bahwa tubuh kecil atau pendek terjadi karena faktor genetik. Namun hal ini juga dapat terjadi karena masalah kesehatan, seperti stunting. Nugroho et al. (2023) mendefinisikan stunting sebagai kondisi kurangnya asupan gizi yang mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk pertumbuhan fisik dan kemampuan berpikir secara normal.

Stunting terjadi sejak anak dalam kandungan hingga memasuki masa pertumbuhan di usia sekitar dua tahun. Permasalahan stunting dapat diakibatkan oleh beberapa faktor, seperti sang ibu yang tidak mengkonsumsi makanan bergizi, pemberian ASI dan pola makan yang kurang baik, serta hal lainnya pasca kelahiran anak. Gejala stunting pada anak dapat dilihat dengan beberapa ciri pertumbuhan tubuh dan gigi yang terhambat, fokus dan memori belajar yang rendah, hingga berat badan yang lebih ringan dari anak seusianya.

Dalam lingkup yang lebih luas, Indonesia memandang stunting lebih dari sekedar permasalahan kesehatan, tetapi juga menentukan kualitas sumber daya manusia yang akan berdampak pada produktivitas dan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Oleh karena itu, pencegahan dan pengendalian stunting menjadi sangat penting hingga menjadi program nasional. 

Program nasional atasi stunting

Indonesia termasuk ke dalam 5 negara yang memiliki rasio stunting tertinggi di dunia. Berdasarkan Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI) pada tahun 2021, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 24,4%. Berdasarkan fakta ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan, melalui Instruksi Presiden (INPRES) Nomor 1 Tahun 2017, menginisiasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) untuk menangani masalah stunting sekaligus memperkenalkan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan).

Baca juga: Akankah masa depan seafood tak lagi dari laut?

Gemarikan merupakan sebuah gerakan moral untuk memotivasi masyarakat luas agar mengonsumsi ikan secara rutin dalam jumlah yang diperlukan untuk kesehatan, guna membentuk manusia yang sehat, cerdas dan kuat. Program nasional ini dilakukan secara komprehensif mulai dari mengedukasi para ibu agar lebih memperhatikan asupan nutrisi selama masa kehamilan ,serta memastikan akses yang setara terhadap pangan dengan nutrisi yang baik.

Berdasarkan Nugroho et al. (2023), ikan merupakan salah satu jenis pangan yang bisa menjadi sumber nutrisi yang bagus, namun tetap terjangkau. Ikan mengandung protein, karbohidrat, vitamin, mineral dan asam lemak yang dapat memenuhi kebutuhan nutrisi serta bermanfaat bagi kesehatan dan kecerdasan anak (Rindawati dan Widjajani 2023). 

Mengapa ikan pilihan tepat atasi stunting?

Terhambatnya pertumbuhan dan kematangan tulang pada tubuh dapat terjadi akibat kurangnya asupan protein. Protein mengandung berbagai unsur penting, termasuk asam amino, yang mendukung pertumbuhan, pemeliharaan jaringan, dan sistem kekebalan tubuh. Ikan, sebagai sumber pangan, mengandung sekitar 18% protein yang terdiri dari asam-asam amino esensial. Asam amino esensial merupakan jenis asam amino yang tidak dapat diproduksi oleh tubuh dan hanya dapat diperoleh melalui konsumsi makanan. Beberapa contoh asam amino esensial antara lain Histidin, Isoleusin, Leusin, Lisin, Metionin, Fenilalanin, Treonin, dan Triptofan.

Ikan jugua memiliki kandungan lemak hingga 20%, di mana sebagian besar merupakan lemak tak jenuh. Oleh karena itu, ikan mudah dicerna dan dapat langsung digunakan oleh tubuh, terutama pada anak-anak. Selain itu, ikan laut juga mengandung asam omega-3, seperti EPA (asam Eicosapentaenoic) dan DHA (asam docosahexaenoic), yang bermanfaat untuk regenerasi sel, perkembangan otak, dan kesehatan mata (Rindawati dan Widjajani 2023).

Ikan laut mengandung omega-3, seperti EPA dan DHA, yang bermanfaat untuk regenerasi sel, perkembangan otak, dan kesehatan mata.

Ikan laut mengandung omega-3, seperti EPA dan DHA, yang bermanfaat untuk regenerasi sel, perkembangan otak, dan kesehatan mata. © Canva/Getty Images/Olgami

Manfaat ikan untuk anak dan ibu hamil

Terdapat banyak pilihan ikan lokal dengan harga murah dan tinggi manfaat, sehingga kesetaraan nutrisi bisa didapatkan oleh setiap kalangan. Olahan dengan bahan dasar ikan kini tersedia dalam beragam jenis, yang bisa dikonsumsi berbagai kelompok usia, termasuk ibu hamil dan balita. Sebagaimana hal ini dapat membantu mengatasi masalah stunting dengan berkesinambungan, dimulai dari memenuhi nutrisi untuk ibu hamil, serta mencukupi nutrisi balita dan anak-anak melalui makanan tambahan. Sejalan pula dengan misi Gemarikan yang ingin meningkatkan konsumsi ikan secara nasional sehingga tercipta generasi yang sehat, kuat dan cerdas.

Baca juga: Abon ikan Wadimah: Inovasi tiada henti UMKM produk perikanan

Ikan lokal makarel adalah contoh ikan dengan harga terjangkau yang memiliki segudang manfaat, bahkan kandungan Omega-3 didalamnya lebih tinggi dari jenis ikan mahal lainnya seperti salmon dan tuna. Kandungan omega-3 ikan makarel mencapai 2,6 gram per 1 ons, sedangkan salmon hanya 1,6 gram. Kandungan nutrisi lain dala 100 gram makarel antara lain Lemak 11.91 g, Kalsium 16 miligram (mg), Zat besi 1.48 mg, Kalium 344 mg, Fosfor 187 mg, Magnesium 60 mg, Selenium 41,6 mkg, VitaminB12 7,29 mkg, dan VitaminD 13,8 mkg, serta 77% lemak pada ikan makarel adalah lemak tak jenuh.

Dengan kandungannya tersebut, ikan makarel memberikan banyak manfaat untuk kesehatan, terutama dalam mengatasi stunting, yaitu memperkuat pertumbuhan tulang. Kandungan Vitamin D didalamnya akan membantu metabolisme fosfor dan kalsium, dua mineral yang penting untuk pertumbuhan tulang terutama pada masa pertumbuhan anak. 

Selain itu, kandungan omega-3 pada ikan makarel juga bisa mengurangi risiko masalah kesehatan mental seperti depresi, gangguan bipolar, dan autisme. Dimana kesehatan mental seperti depresi mungkin saja terjadi pada ibu hamil karena banyak memikirkan kandungan dan pekerjaan hariannya. 

Namun demikian, makareal hanya satu dari sekian banyak jenis ikan yang tersedia di Indonesia. Kandungan nutrisi ikan lain pun tidak kalah menyehatkan dengan makarel. Masyarakat dapat tentu dapat memilih sesuai dengan selera dan kecocokan harganya!

***
Referensi

Nugroho MR, Yansyah D, Rhedo U, Armeidi E, Erawani FH. 2023. The efficiency of providing animal protein from fish as supplementary feeding for toddlers with stunting. Jurnal Ilmiah Pengabdian MAsyarakat Bidang Kesehatan. 1(2): 66-72.

Rindawati, Widjajani R. 2023. Stunting prevention through promoting fish consumption. EAS Journal of Humanities and Cultural Studies. 5(4): 205-209.

Ilmani DA, Fikawati S. 2023. Nutrition intake as a risk factor of stunting in children aged 25-30 months in Central Jakarta, Indonesia. Jurnal Gizi Pangan 18(2): 117-126.