Ikan patin (Pangasius sp.) merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang memiliki nilai ekonomi tinggi di Indonesia, dengan tren produksi yang terus meningkat setiap tahunnya. Namun, keberhasilan budidaya ikan ini sangat bergantung pada manajemen pembenihan, terutama pada fase larva dan benih yang sangat rentan terhadap stres lingkungan serta serangan penyakit.
Salah satu ancaman utama pada fase ini adalah penyakit Motile Aeromonas Septicemia (MAS) yang disebabkan oleh infeksi bakteri Aeromonas hydrophila, yang dapat menyebabkan tingkat kematian massal hingga 80%.
Untuk mendukung pertumbuhan larva patin yang umumnya berusia 7–14 hari setelah penetasan, penggunaan pakan alami seperti cacing sutra (Tubifex sp.) masih menjadi andalan para pembenih karena kandungan nutrisinya yang tinggi dan mudah dicerna. Sayangnya, cacing sutra umumnya masih berasal hasil tangkapan dari alam yang habitatnya kaya akan bahan organik. Hal ini membuat organisme ini sering menjadi vektor atau pembawa bakteri patogen.
Oleh karena itu, penerapan strategi biosekuriti melalui disinfeksi pakan alami menjadi langkah penting untuk memutus rantai penularan penyakit.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Applied Research in Science and Technology, menunjukkan bahwa penggunaan formalin dapat menjadi solusi efektif untuk menekan populasi bakteri pada cacing sutra. Berdasarkan uji in vitro, ditemukan bahwa konsentrasi formalin sebesar 400 ppm merupakan dosis paling efektif untuk menghambat pertumbuhan A. hydrophila penyebab penyakit MAS.
Efektivitas ini dibuktikan melalui uji Total Plate Count (TPC), di mana jumlah bakteri menurun drastis dari 5 × 10⁸ CFU/mL menjadi 0 CFU/mL setelah pemberian formalin. Selain itu, pengamatan media juga menunjukkan perubahan air dari keruh menjadi jernih serta terbentuk zona hambat yang mengonfirmasi kemampuan formalin sebagai agen antibakteri yang kuat.
Meskipun efektif membunuh bakteri, perlu diperhatikan karena penggunaan formalin pada dosis 400 ppm memiliki efek toksik terhadap cacing sutra itu sendiri, dengan tingkat kematian mencapai 90% dalam waktu 24 jam. Untuk mengatasi risiko residu formalin yang dapat membahayakan larva ikan, perlu ada upaya tambahan berupa pembilasan cacing secara tepat.
Dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa hasil eksperimen in vivo menunjukkan bahwa perendaman cacing sutra yang telah didisinfeksi dengan 400 ppm formalin selama 30 menit perlu diikuti dengan dua kali pembilasan menggunakan air bersih untuk menghasilkan proses yang terbaik.
Penerapan prosedur pembilasan dua kali ini terbukti secara signifikan meningkatkan tingkat kelangsungan hidup (SR) larva patin hingga mencapai kisaran 44,6% selama 14 hari masa pemeliharaan. Nilai SR tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol yang diberi pakan cacing sutra tanpa perlakuan formalin, yang hanya memiliki tingkat kelangsungan hidup sebesar 16,3%.
Baca juga:
1. Waspada penyakit TPD, menyerang udang lebih cepat dibanding AHPND
2. Strategi hemat listrik dan cegah parasit pada budidaya lele bioflok
3. Peluang dan tantangan industri patin Indonesia: Belajar dari Vietnam
Riset juga menunjukkan bahwa selain dapat meningkatkan kelangsungan hidup, perlakuan ini juga membuat kondisi air media pemeliharaan lebih jernih dan larva ikan menunjukkan respon pemberian pakan yang lebih aktif.
Perhatikan faktor lingkungan
Namun demikian, faktor lingkungan seperti suhu air tetap harus diperhatikan. Selama penelitian, suhu air tercatat sebesar 25°C, yang dinilai kurang optimal bagi pertumbuhan ideal larva patin (28–30°C). Kondisi ini diduga menekan sistem imun larva dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi, sehingga hasil kelangsungan hidup dalam studi ini belum mencapai standar nasional sebesar 50%.
Sebagai kesimpulan, penggunaan formalin 400 ppm dengan prosedur dua kali pembilasan merupakan alternatif yang menjanjikan untuk mengontrol penyakit MAS pada budidaya larva patin. Metode ini menawarkan keseimbangan antara efikasi antibakteri dan keamanan bagi larva ikan, sekaligus menjadi solusi di tengah kekhawatiran akan resistensi antibiotik dalam dunia akuakultur.
Selain potensial pada ikan patin, metode pembersihan cacing sutra dengan menggunakan formalin juga berpotensi diaplikasikan pada spesies budidaya lain yang menggunakan pakan alami tersebut.



